Monday, October 1, 2012

Belajar “Sederhana”


“Sederhana”, sebuah kata yang singkat dan mengundang berbagai macam pendapat ketika kata itu dilemparkan ke beberapa orang. Ketika kita sering makan di warung Padang, mungkin sekilas akan ingat nama “Rumah Makan Sederhana/Restoran Sederhana”. Hal ini aku buktikan ketika masih bekerja di salah satu perusahaan multinasional di Jakarta. Rumah Makan Sederhana selalu menjadi favorit kami untuk bersantap makan siang.

“Kita makan siang dimana?” Tanyaku ke teman-teman kerjaku.
“Sederhana aja”. Jawab salah seorang temanku.

Mungkin pada situasi itu, persepsi kita ketika mendengar kata Sederhana akan tertuju pada Rumah Makan Padang yang bernama “Sederhana”. Mungkin beberapa orang yang lain akan berbeda pandangan mendeskripsikan tentang kata “sederhana”. Bagiku sederhana adalah Pas dan tidak berlebihan sehingga ada kenyamanan dan keserasian yang dirasakan.

Seminggu ini, di Camp Pelatihan Purwakarta, aku dan sesama rekan Calon Pengajar Muda belajar tentang kesederhanaan. Mencoba mengerti, memahami dan mengaplikasikan akan arti kesederhaan. Kesederhaan dalam keseharian terutama dalam hal makanan. Yah, ini adalah menu “special” yang pernah dijanjikan panitia kepada kami sebelum kami di Camp. Katanya akan ada menu-menu “special” alias menu sederhana yang disesuaikan dengan kondisi di daerah penempatan nantinya agar kita terbiasa dengan makan “seadanya”.

Minggu Pertama di Camp ini penuh dengan makanan dengan variasi menu yang sangat mengundang nafsu dan selera untuk melahapnya. Bagaimana tidak? Kami disuguhi dengan makanan yang lengkap dari sisi nutrisi dengan frekuensi yang sering (menurutku). Mungkin hal yang menarik adalah ketika sebelum kami di Camp ini kami belajar akan Survival (bertahan hidup) dengan keterbatasan alat dan bahan di sebuah hutan selama lebih kurang lima hari. Alhasil apa yang kami rasakan, kami rindu akan makanan yang enak dan lengkap. Maklumlah, di hutan kami makan “seadanya”.

Pucuk dicinta ulampun tiba, setelah selesai acara Survival bersama Wanadri dan menuju ke Camp di Purwakarta ini, kami disuguhi menu makanan yang sangat bervariasi dan membuat enzim pencernaan aktif setiap kali melihatnya. Kami begitu lahap menyantapnya seperti balas dendam karena seminggu sebelumnya “kekurangan” asupan makanan.

Bahkan diantara kami ada yang bilang “Wah kalo begini caranya, bakal gemuk nih”, kata salah satu temanku.

Tak kalah juga salah satu teman yang memiliki motivasi untuk menurunkan berat badan dengan bergabung dalam pelatihan ini, juga berkata “Wah gagal diet nih kalo makan terus, bahaya malah nambah melar nih badan”.

Itulah gambaran kami di minggu-minggu pertama di Purwakarta. Sarapan, Coffe Break jam 10, Makan Siang, Coffe Break Jam 3 sore dan Makan Malam dengan  variasi menu yang “menggoda”. Akupun merasakan hal yang sama, bahwa minggu awal di Camp ini aku begitu bersyukur dengan segala makanan yang lengkap (baca empat sehat : kurang susu). Aku merasa beruntung karena tanpa susah payah memasak ataupun pergi untuk membeli makanan tersebut karena tinggal ambil dan makan. Alhamdulillah, Sujud Syukur atas nikmat-Mu ya Rabb. Engkau kirimkan makanan yang nikmat dan bergizi ini. Itulah yang aku ucapkan dalam hatiku. Nikmat dan anugerah Tuhan begitu mengalir dalam setiap langkah hidupku. Di minggu ini selalu ada nasi, lauk pauk (minimal dua varias), sayur dan  buan-buahan.

Minggu kedua di Camp adalah minggu yang sangat berbeda dengan minggu sebelumnya. Yups, karena minggu ini menu makanannya “minimalis” dibandingkan minggu sebelumnya. Minggu ini kami belajar akan “kesederhaan” dalam hal makanan. Makanan yang ada terkesan “seadanya” dimana kami mau tidak mau harus menyantapnya ( ya iyalah... karena tidak ada pilihan lainnya, dan tidak bisa membeli makanan di luar).
Senin lalu, menu sarapan kita adalah nasi goreng (murni nasi tanpa tambahan bahan sosis, ayam atau bakso + kerupuk). Coffe break dengan pisang rebus, makan siang dengan lauk ikan asin, coffee break sore dengan singkong rebus serta makan malam dengan ikan goreng + daun singkong. Di Hari kedua yaitu hasi selasa, kami sarapan dengan nasi uduk disirami bumbu kacang, coffee break dengan menu ketela rambat rebus, makan siang dengan  lauk tempe goreng + tumis kacang panjang serta  makan malam degan lauk pepes ikan teri + kerupuk. Itulah sedikit gambaran dua hari pertama di minggu special ini yang sangat berbeda dengan minggu-minggu pertama di sini. Tapi diantara kami tetap antusias untuk menikmati sajian makanan yang kami dapatkan selama seminggu kedepan.

Saat menyantapnya, beberapa dari kita bercanda dan menjadikan suasana tersebut sebagai bahan lelucon yang lucu dan membuat kita tertawa bersama sambil menikmati lezatnya makanan yang kami santap.

“Aduh Le.. Le... panen Bapak Gagal, mangan sak anane yoo”.. Ujar salah satu teman dengan bahwa Jawanya.

Kita semua tertawa senang mendengarnya karena diucapkan dengan logat khas Jawa yang “medhok” oleh salah seorang kawanku dari Jawa Timur. Itulah sedikit gambaran akan kesederhaan yang kami lakukan selama di Camp. Kesederhaan ini membuat kami berpikir setahun kedepan selama kami di penempatan akan berada di pelosok daerah untuk mengajar dimana kondisinya sangat berbeda dengan kenyamanan yang kami dapatkan sekarang. Mungkin nanti di sana kami tidak bisa makan nasi seperti di sini, atau tidak bisa menikmati listrik dan air seperti di Jatiluhur Purwakarta yang berlimpah air karena waduk. Tidak bisa menikmati sinyal seluler dengan gampang karena akses yang “tertinggal”.

Ini adalah sarana pembelajaran buat kami, saranan pembiasaan buat kami untuk bisa selalu sederhana, mengendalikan diri, menjaga emosi dan semangat untuk terus fokus dengan niat mulia kami. Semuanya itu adalah pemanis, penyedap rasa serta pewarna kehidupan yang tidak boleh kami sia-siakan. Aku yakin bahwa “kemewahan” sejati tidak pernah aku rasakan ketika aku belum hidup dalam “kesederhanaan”. Nikmatnya nasi hanya bisa kita rasakan ketika kita makan dengan sagu setiap harinya. Nikmatnya lauk pauk baru kita benar-benar rasakan ketika kita makan tidak berlauk atau atau hanya berlaukkan kerupuk. Begitu halnya air, akan sangat berharga ketika kita berada dalam kondisi yang serba kering kerontang. Nikmatnya cahaya akan benar-benar kita rasakan ketika kita pernah hidup dalam gelap. Kesederhanaan mendatangkan kewajaran dan keunikan, tidak terkesan “berlebih” atau “kekurangan”.

Itulah sejatinya hidup. Hidup ini banyak mengajarkan kita akan sebuah pembelajaran, pembiasaan dan pilihan. Apakah kita memilih untuk kaku terhadap setiap perubahan atau kita “lentur” sehingga bisa menyesuaikan diri dengan lika-liku kehidupan yang Tuhan gariskan? Jawabannya ada dalam diri kita semua. Semoga kita mampu menjadi insan manusia yang selalu belajar, terbiasa akan perubahan serta mampu mengambil hikmah positif dari setiap pengalaman sepanjang perjalanan hidup kedepan. Terkadang hidup memang harus sesekali melihat ke bawah agar kita bisa selalu bersyukur dengan apa yang kita dapatkan sampai sekarang.


2 comments:

Terimakasih sudah menyempatkan diri untuk mampir. Mari berbagi pandangan, inspirasi dan ilmu pengetahuan.