Friday, April 11, 2014

Renungan (Pentingnya Berbuat Baik Kepada Sesama)




Ketika aku melihat bayi atau anak kecil, memoriku flash back ke masa lalu. Bahwa ternyata aku dulu juga sama seperti mereka. Pernah menjadi bayi kecil, mungil, menggemaskan atau bahkan nakal dan membuat orang tua kesal.

Apa lagi ketika bulan Agustus menyapaku. Bulan dimana pertama kali aku menyapa dunia baru, setelah aku nyaman di rahim ibu.

Tahukah saudaraku, lahirnya kita kedunia adalah bagian rencana Tuhan untuk selalu membawa kebaikan-kebaikan dalam setiap detik, proses demi proses langkah demi langkah dalam sejarah perjuangan dan pengalaman hidup kita di dunia.

Kita adalah pemimpin di dunia, minimal pemimpin bagi diri kita sendiri yang nantinya akan dimintain pertanggung jawaban atas kepemimpinan kita.

Sejatinya hidup adalah proses membuat sejarah hidup. Proses sejarah yang kita tuliskan dalam buku hidup kita lembar demi lembar, halaman demi halaman. Cover depan buku hidup kita adalah ketika kita dilahirkan kedunia dan cover belakang buku itu adalah disaat kita dipanggil oleh Tuhan nantinya.

Layaknya sebuah buku, tugas kita adalah menuliskan pengalaman dan perjalanan hidup kita di dunia. Semakin banyak dan tebal buku itu maka semakin panjang usia kita dan sebaliknya karena pada dasarnya buku yang Tuhan kasih adalah berdasarkan usia yang Allah takdirkan kepada kita.

Lalu, apa yg harus kita lakukan agar buku kehidupan kita penuh dg pengalaman baik kepada sesama, selalu ingat dzat yang Maha segalanya?

Wednesday, April 9, 2014

Share & Care



“Life needs money, but life not only for money”


 
Ladies and gentlemen, let’s see my video. 


My beloved brothers and sisters.
That videos tell about my experiences for one year when I joined in Gerakan Indonesia Mengajar. I lived in the Sekodi village, Bengkalis Island – a village without electricity and mobile signals.
Anak-anak berangkat ke sekolah saat air pasang


The condition was extremely different with enough facilities that I can get before during as HR Assistant for a multinational company in Jakarta. If you are wandering why I choose to leave my comfortable zone and become a teacher, don’t worry, you aren’t the only one. So, I’m here to share with you why I choose to do it.

Ladies and gentlemen, do you have experience when you’re asking someone for help and he answer with "Wani Piro?" Yap, now days, it’s common to find a person whore really money-minded. He will always measure something with amount of money. For example; Politicians want to be the leader not to dedicate to his country, but for their own-interests. An Employee uses a bad way to get a good position (and better salary). 

Today, people become so selfish. If we look around, many people only focus with their own life: how to get much money. And in the same time, they become careless with their environments. 

I got quote, “The most successful people among us are those who can give a positive impact to others.” And, as we know, Indonesia is identical with solidarity culture. Now, let’s we ask our self! Have we done something for the others? Have we helped our friends who need some support? 

We miss the time when everyone care and share each other. As you saw in my video, in the village I met people who are kind, friendly and helpful. I met a new host family, which I never met before, but their kindness and openness to accept me as their family member really touched my heart and show me how to be a real Indonesian people. Their kindness proves that and this is Indonesia. Indonesia which has humanity and solidarity culture.

Bersama keluarga Angkat

In another time, I asked my students. Does anyone have guava here? I want to eat guava. An hour later, one of them came to me and brought me a lot of guava. Once I gave him money, he refused it. “It is free Sir.” He really had such a kind heart! Hadn’t he? 

From what I have experiences, now I dare to say it will be better for our life if we restore our humanity as well as our solidarity. We help other is not because of money, but because we want to help. If we don’t have money, it’s doesn’t mean we can’t help the others. 

If you are students, you can help your friends who have a problem with school subject for example. If you are doctor, you can help other by helping people who sick. Or let say, you have a lot of money; you can help the others by giving donation. And there are so many other ways of course. 

And for me, became a teacher in remote area was one of my way to care others. I’m really grateful because I was always surrounded by people who really care about education. I can stand here also because of their kindness. That is why, I always tell myself, I should be able to imitate them. I have to be useful person in my life. 

 
Bersama Anak-Anak setelah menjelajah pantai Sekodi

That’s my way, how about you?

Sunday, August 4, 2013

Jendela Dunia Sudah Terbuka Untukmu Nak! (Sebuah Pesan Untuk Anakku Risma yang Hijrah ke Kota, Berjuang Meraih Mimpinya)


Risma Partiwi, adalah Putri Sekodi, Bengkalis yang meninggalkan kampung halamannya untuk berjuang meraih impiannya menjadi seorang guru. Dia salah satu murid lulusan SDN 38 Sekodi, sekolah dimana aku berbagi, belajar bersama anak-anak, guru-guru dan komunitas di sini. Tidak ada yang spesial dengannya, sama seperti anak-anak lainnya. Namun bagiku sosoknya yang polos, rajin belajar, mumpuni dalam bidang akademis, pandai mengaji dan patuh membuat aku tersenyum lebar. Lebih-lebih ketika aku bermain ke rumahnya, melihat beberapa trofi penghargaan yang diraihnya sejak SD. Ya, memang dia "berbeda" beberapa anak yang lain.

Ceritaku tentang dia semakin dekat ketika Pak Parno (salah satu guru SDN 38 Sekodi dan guru mengaji Risma) merekomendasikan dia untuk hijrah ke kota belajar mencari ilmu di kota bersama orang tua asuh di Pekanbaru. Orang tua asuh tersebut adalah Tante Yul dan Om Syavril. Beliau adalah orang tua kandung dari Mas Andhika (Dika) Pengajar Muda angkatan Pertama. Beliaulah orang tua kami (Pengajar Muda Kabupaten Bengkalis); sehingga tidak heran kami sering bermain sekedar singgah ketika ada acara di Pekanbaru atau ketika kami pulang dan pergi mudik. Beberapa hal yang bisa aku pelajari dari kehidupan Om dan Tante adalah sifat terbuka, menolong, bermanfaat untuk sesama, serta menjunjung tinggi kejujuran. Sikap itulah yang menjadikan kami nyaman, bangga, salut dan bersyukur bahwa di dunia ini masih banyak orang-orang yang baik, orang-orang yang peduli dengan pendidikan dan memiliki rasa memiliki yang tinggi terhadap tantangan sosial yang terjadi di lingkungan sekitarnya.

Sunday, October 14, 2012

Hari Pertamaku PPM di SD 3 Cikaobandung


Pagi ini merupakan pagi pertama aku dan calon Pengajar Muda mendapatkan tugas untuk PPM (Pengalaman Praktek Mengajar). PPM ini dilakukan sebagai sarana buat kami untuk mencicipi bagaimana mengajar dan berinteraksi dengan siswa-siswa sekolah SD. Berbeda dengan konsep belajar dan bermain, PPM ini sebenarnya adalah miniatur kecil dari apa yang akan kita lakukan nanti di SD Penempatan. Simulasi ini pada dasarnya memberikan banyak pelajaran buat kami semua. Pelajaran yang mungkin “tidak dirasakan” bagi mereka yang tidak  ingin merasakan. Namun, bagi mereka yang “tidak berusaha merasakan”, pengalaman ini akan berlalu begitu saja seiring berjalannya waktu PPM berlangsung.

Bagiku pribadi, PPM ini memberikanku ruang untuk terus belajar. Belajar mengerti siswa, belajar bagaimana berinteraksi di lingkungan baru, berinteraksi dengan orang-orang baru, belajar bagaimana bersikap, berperilaku dan berucap dengan orang-orang di lingkungan baru, belajar bagaimana menjadi guru yang ideal, belajar bagaimana beradaptasi, beelajar bagaimana menyiapkan sarana pembelajaran dan bagaimana mengajar dan banyak hal yang lainnya. Jadi kalo boleh aku rangkum dalam sebuah kata, PPM ini adalah sarana “belajar” buat aku pribadi dan pasti buat teman-teman CPM lainnya.

Di hari pertama ini, aku dan kelima temanku yaitu Vino, Fajar, Tika dan Rachma sampai di Sekolahan  lebih dari jam 7 pagi karena kesasar. Supir angkot yang mengantarkan kamipun tidak tahu dimana SD Cikao 3 berada. Sementara si Fajar yang dulunya pernah survey ke SD tersebut juga lupa-lupa ingat alamat SD itu. Akhirnya kami bertanya di sepanjang jalan ketika ada orang dan hasilnya juga berbeda-beda yang menjadikan kami kesasar. Orang pertama menunjukkan masih lurus terus sampai ujung, sementara setelah sampai di ujung bertanya lagi, jawabannya adalah harus berbalik arah. Tapi kami sampai sekolah jam tujuh lebih lima belas menitan. Tapi Alhamdulillah akhirnya kami sampai juga di sekolahan.

Sesampainya disana, kami langsung menuju ruang guru (kantor) untuk berkenalan dengan guru-guru di sana. Kamipun memperkenalkan diri kami dan maksud kedatangan kami sekaligus memberitahukan bahwa kami akan mengajar di sekolah ini selama seminggu dari Senin sampai Sabtu minggu depan. Sembari ngobrol panjang lebar dengan saling menggali satu sama lain,  bertanya tentang pengalaman-pengalaman guru,  tentang sekolahan dan lain sebagainya. 

Setelah panjang lebar ngobrol kami akhirnya mencoba melakukan negosiasi masalah jam ngajar selama seminggu kedepan. Sebenernya tidak ada kesulitan untuk meminta jam mengajar di sana karena minggu depan sekolah sedang class meeting (kegiatan setelah UTS). Sekolah memiliki kebijakan untuk bisa masuk ke kelas kecil yaitu kelas 1,2,3 untuk di isi di hari senin sampai kamis depan. Kelas besar yaitu 4,5,6 tidak bisa kami isi dengan materi karena mereka harus lomba di SD Jatimekar (SD satu gugus dengan SD Cikao 3 dimana kami mengajar nantinya).

Tidak  membuang waktu, kami langsung mencatat jadwal pelajaran semua kelas dan langsung membagi alokasi mata pelajaran yang bisa kami masuki secara adil dengan teman-teman satu TIM. Alhamdulillah, setelah scheduling selesai kamipun langsung berhubungan ke wali kelas atau guru masinng-masing mata pelajaran untuk bertanya sudah sampai manakah pelajaran sebelumnya dan meminta saran untuk minggu depan, kami harus mengajar tetang pokok bahasan yang mana. Dalam aktivitas ini kami akhirnya mendapatkan buah tangan berupa Silabus, Buku Pelajaran dan contoh RPP  yang mereka buat sebagai bahan untuk kami. Alhamdulillah mereka begitu welcome kepada kami sehingga kami merasa terbantu dengan kerjasama beliau semua.

Setelah kami ngobrol, mencatat dan menulis SK-KD dan Indikator dalam RPP beliau semua, kami akhirnya memutuskan untuk jalan-jalan masuk ke kelas-kelas sembari menyapa anak-anak yang akan kami ajar nanti. Kami juga berkenalan sekaligus mengajak mereka semua untuk hadir di acara KBB (Kegiata Belajar dan Bermain) yang kami adakan di lingkungan Camp kami sabtu besok. Kami juga mencoba mengajak mereka untuk bermain pramuka hari sabtu depan. Namun, kami hanya ingin elihat antusiasme anak-anak. Jika memang banyak yang berminat, maka kami akan adakan latihan pramuka untu sabtu depan, begitu sebaliknya. Namun, ternyata beberapa anak kelas 5 dan 6 banyak yang ingin bergabung, jadi kemungkinan besar Pramuka minggu depan kami akan adakan.

Itulah gambaran aktivitas kami selama Penjajakan di hari pertama kami PPM di SD Cikao 3. Pengalaman seminggu kedepan akan menjadi pengalaman yang berharga buat aku pribadi dan kami semua. Semoga kami bisa mengambil banyak pelajaran dan belajar banyak hal melalui kesempatan ini.

Jarak


Ketika jarak menjadi variabel dalam hidupku
Aku termenung penuh rindu
Pikiranku terbang membawaku ke sebuah masa
Masa dimana aku begitu dekat,
Masa yang menjadikanku tersenyum hebat

Ketika jarak berbicara kepadaku,
Akupun tak banyak cakap dan laku,
Tak bisa berucap langsung tentang apa yag ada dala pikiran dan relung kalbu,

Ketika jarak bersama dalam makananku,
Akupun ingin suatu ketika bisa berbagi cerita, berbagi rasa sembari menikmati sejuta rasa yang ada,

Ketika jarak menyelinap dalam aktivitasku,
Akupun mulai merasakan rasa rindu yang merasuki nadi dan aliran darahku,

Ketika alat komunikasi berubah menjadi seonggok batu,
Pikiranku serasa penuh akan bayang-bayang semua yang bisa aku temui dalam setiap bunga tidurku,

Dan ketika jarak menemani tidur lelapku,
Aku terbawa akan masa lalu indah yang mengantarkanku, membawaku dan merubah garis hidupku,

Namun aku begitu tahu
Jarak hati ini tak akan pernah jauh,
Karena hati kita  satu..

Purwakarta,
14 Oktober 2012
Pukul 02.00 WIB

Aku dan Kamu



Mungkin bukan sebuah kebetulan,
Kita bisa bertemu, belajar, bermain dan menghabiskan waktu,
Menikmati hari, menyaksikan indahnya malam,
bercengkerama dan bercerita sambil berbagi cinta

Aku ingin menjadikanmu angin,
Yang menyejukkan dan menyegarkanku ketika panas terik mentari menyambangi langkahku,

Aku ingin menjadikanmu nadi darahku,
Yang menjadikanku bisa selalu bersamamu dalam setiap iringan kalbu,

Aku dan kamu
Semoga bisa saling mengingatkan,
Akan sebuah kata, cita—cita mulia, perilaku yang beretika,
Karena aku dan kamu begitu tahu bahwa etika adalah modal dasar untuk sukses dimanapun kita berada nantinya,

Kamu...
Akan selalu mewarnai kanvas hidupku,
Warna yang melengkapi keindahan yang sudah Tuhan anugerahkan dan titipkan,


Purwakarta, 14 Oktober 2012
Pukul 01.30 WIB