Showing posts with label PSIKOLOGI. Show all posts
Showing posts with label PSIKOLOGI. Show all posts

Friday, February 11, 2011

Pentingnya Penanaman Spiritual Intellegence (SQ) pada Anak: Sebuah Tinjauan Psikologi Islam


Globalisasi menuntut adanya perubahan yang besar dalam segala aspek kehidupan baik positif maupun negatif. Perubahan negative yang terjadi akibat globalisasi perlu diantisipasi melalui intervensi dalam pola pengasuhan sejak dini agar anak tidak mengalami dehumanisasi. Menurut Fromm (1995) dehumanisasi merupakan suatu proses dimana mulai ditinggalkannya nilai-nilai kemanusiaan (etika, moral dan agama) dan digantikannya dengan mendewa-dewakan aspek material semata. Oleh karena itu, perlu adanya perhatian serius dari orang tua maupun kalangan pendidik untuk memperhatikan kebutuhan-kebutuhan mendasar si anak. 

Clinebell (dalam Hawari, 1996) menegaskan bahwa anak memiliki kebutuhan dasar spiritual yang harus dipenuhi agar bisa membawa anak dalam keadaan yang tentram, aman, damai dalam menjalani hidup. Jika kebutuhan tersebut tidak dipenuhi, maka bisa menyebabkan kecemasan neurotis dan kekosongan spiritual dalam diri anak. Kekosongan spiritual (spiritual-emptiness) akan menyebabkan penyakit ketidakbermaknaan spiritual (spiritual-meaningless) dalam diri anak. Dalam kondisi yang demikian, anak akan mudah terpengaruh dan terombang-ambing oleh pengaruh lingkungan sekitarnya karena si anak tidak punya benteng yang cukup, kehilangan pegangan hidup, kehilangan keimanan dan mudah untuk putus asa (hopeless).

 Hal tersebut senada dengan penelitian yang dilakukan oleh Lindenthal (dalam Hawari, 1996) yang menemukan hasil bahwa individu yang religius kurang menderita distress jika dibandingkan dengan mereka yang tidak religius. Hawari (1996) juga menegaskan kembali bahwa remaja yang mempunyai tingkat religius yang tinggi memiliki resiko yang rendah untuk terlibat dalam penyalahgunaan narkoba dan minuman keras. Dari hasil penelitian di atas, dapat diambil kesimpulan bahwa kecerdasan spiritual sangatlah penting dalam membentengi anak menghadapi perubahan social yang semakin deras. Dengan adanya kecerdasan spiritual ini menyebabkan anak menjadi tangguh dalam menghadapi tantangan dan hambatan sehingga tidak mudah mengalami stress/ kecemasan serta kekosongan spiritual.

Apa sebenarnya Kecerdasan Spiritual (SQ) itu? Mujib & Mudzakir (2002) menjelaskan bahwa kecerdasan  spiritual adalah kecerdasan kalbu yang berhubungan dengan kualitas batin seseorang. Kecerdasan ini mengarahkan seseorang untuk lebih berbuat secara manusiawi sehingga bisa  menjangkau nilai-nilai luhur yang belum tersentuh oleh akal pikiran manusia. Sedangkan Zohar & Marshall (2001) memaparkan bahwa SQ adalah kecerdasan untuk menghadapi dan memecahkan masalah makna dan nilai menempatkan perilaku dan hidup manusia dalam konteks makna yang lebih luas dan kaya; menilai bahwa tindakan atau jalan hidup seseorang lebih bermakna dibandingkan dengan yang lain.

Anak-anak yang tidak memiliki kecerdasan spiritual akan mudah terjangkit krisis spiritual (spitual crisis), keterasingan spiritual (spitual alienation) dan patologi spiritual (spiritual patology). Hal ini akan meningkat seiring perkembangan dan perubahan peradaban karena kemajuan teknologi di abad globalisasi seperti sekarang ini. Hal ini tentunya harus menjadi perhatian bagi orang tua yang menjadi titik awal membentuk  pribadi dan karakter anak karena anak pada dasarnya adalah kertas kosong. Jadi hasil gambarnya akan seperti apa, itu adalah karya dari kedua orang tua /keluarga yang membesarkannya. Jangan sampai anak dibiarkan mencari kebutuhan-kebutuhan dasarnya seperti kebutuhan akan spiritualitas di luar, karena kondisi di luar rumah sangatlah beranekaragam karena sekarang ini budaya konsumerisme, hedonisme dan sekulerisme sudah mulai menggila, lebih-lebih dikota besar seperti Jakarta. Oleh karena itu, perlu adanya penerapan pola asuh yang tepat guna membentengi anak dan membentuk anak menjadi pribadi yang tangguh, tidak mudah terombang-ambing oleh perubahan hidup.

Orang tua merupakan role model bagi anak di dalam lingkungan keluarga yang pertama mereka kenal. Jika orang tua jauh dari nilai-nilai spiritualitas, maka anakpun juga akan mengikuti jejak ayah bundanya. Seperti kata pepatah, buah jatuh tidak jauh dari pohonnya. Anak yang cerdas spiritual sebagian besar dilahirkan dari orang tua yang cerdas secara spiritual, begitu juga sebaliknya.

Kenapa perlu mengembang kesadaran spiritual pada anak? Anak merupakan periode kehidupan yang sangat penting. Dalam hal ini, Freud menyakini bahwa usia keemasan anak pada rentang waktu 1 sampai 5 tahun. Dimana otak berkembang pesat karena stimulasi dari lingkungan. Jika kita mulai sejak dini, stimulasi baik itu yang mengasah kognitif, afektif dan psikomotorik, maka anak akan tumbuh menjadi buah hati yang saling terintegrasi diantara ketiga komponen itu. Namun, yang perlu di pahami adalah bagaimana stimulasi yang tepat sesuai dengan perkembangan si anak.

Kesadaran spiritualitas yang ditekankan oleh orang tua akan membentuk pemahaman akan spiritualitas sang anak dan tidak terjadi kekosongan spiritualitas dalam hati dan hidup. Dengan pemahaman, tentunya anak akan memaknai dan mengahayati akan pentingnya sebuah nilai spiritualitas sehingga hidupnya akan merasa lebih bermakna. Begitu itu semua dilakukan, insya Allah akan membentuk kecerdasan spiritual bagi si anak.

Monday, February 8, 2010

Gambaran dan Peranan Pola Asuh Ibu yang Bekerja dalam Meningkatkan Kecerdasan Emosi (EQ ) Anak Sebagai Modal Untuk Meraih Kesuksesan


PENDAHULUAN


Pola asuh sejak dini sangatlah menentukan pembentukan kepribadian atau emosi pada anak. Seperti layaknya kita membuat pedang dari besi, kalau kita membentuk pedang tersebut selagi panas maka apa yang terwujud adalah sama dengan apa yang kita harapkan. Tetapi bila kita membentuknya setelah dingin maka sangat sulit dan cenderung mustahil jika kita membuat bentuk seperti yang kita harapkan.

Salah satu bentuk pengasuhan yang sangat bagus adalah dengan memaksimalkan kecerdasan emosional anak kerana kecerdasan emosional ini sangatlah menentukan dalam kesuksesan hidup seseorang. Penulis berasumsi bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara pola pengasuhan orang tua dalam meningkatkan keserdasan emosi dengan kesuksesan hidup anak di masa mendatang. Anak yang dibesarkan oleh ibu yang bekerja akan memiliki kecerdasan emosional yang bagus dan self esteem yang tinggi sehingga tumbuh menjadi pribadi yang tangguh dan berkarakter. Lalu, timbul pertanyaan dalam benak kita, apa yang seharusnya ibu yang bekerja (wanita karier) lakukan agar bisa tetap menjalankan peran dalam pengasuhan anaknya sehingga perkembangan psikologis anak bisa berjalan sesuai dengan perkembangan buah hatinya? Seberapa besar peranan pola asuh ibu yang bekerja terhadap perkembangan psikologis dan emosional anak?

Topik ini penulis angkat karena penulis prihatin dengan kondisi anak-anak
zaman sekarang. Jika kita tengok dengan seksama anak-anak disekitar kita, tentunyaakan menimbulkan sebuah perhatian yang serius. Bisa dikatakan anak-anak padagenerasi sekarang banyak mengalami kesulitan emosional. Banyak dari mereka menjadipemurung dan kesepian serta lebih agresif dan kurang mengindahkan sopan santun.Selain itu, mereka lebih gugup, cemas dan cenderung impulsif. Hal yang sangatmenyedihkan adalah mereka menjadi seseorang menarik diri dari pegaulan, sukamenyendiri dan merasa kurang bahagia sehingga banyak dari mereka terjebak dalampenggunaan obat-obatan terlarang.

PEMBAHASAN

Ibu yang bekerja adalah seorang ibu yang aktivitasnya melayani suami dan anak, serta ikut bekerja menambah penghasilan. Jadi, bisa dikatakan bahwa ibu yang bekerja mempunyai peran ganda yaitu mendidik anak dan bekerja. Mereka akan memiliki kepauasan hidup, punya penyesuaian diri yang bagus, memiliki harga diri yang tinggi. Dalam mendidik anak, ibu yang bekerja kurang menggunakan teknik disiplin yang keras dan otoriter, mereka lebih banyak pengertian dalam keluarganya dan anak. Selain itu, mereka akan mampu bersikap positif dalam mengatasi konflik-konflik rumah tangga, serta dapat melakukan kendali langsung terhadap permasalahan yang terjadi (Sofyan, 2005, dalam Prieska Aditya Yasmine ).

Menurut Mussen, dkk (1989) pola asuh orang tua digolongkan menjadi tiga bentuk pengasuhan. Pertama, pola asuh otoriter (Authoritarian). Pola asuh otoriter ditunjukkan dengan adanya penggarisan norma oleh orang tua serta kontrol yang ketat pada anak guna mendapat kepatuhan dan ketaatan yang mutlak. Kedua, pola asuh
permisif (permissive) merupakan bentuk pengasuhan dimana orang tua sepenuhnya memandang anak sebagai pribadi yang memiliki otonomi terhadap dirinya sendiri. Ketiga, adalah pola asuh demokratis (Authoritative) merupakan metode yang digunakan orang tua dimana mereka memberikan penjelasan dalam membuat peraturan dan perilaku yang diharapkan dengan bertambahnya usia anak. Tidak saja sampai disitu, anak juga diberi kesempatan untuk menyatakan pendapat mengenai peraturan yang dibuat.

Dari teori diatas, penulis dapat mengambil sebuah kesimpulan bahwa pola pengasuhan yang paling baik adalah demokratis (Authoritative ). Dalam penerapan pola asuh demokratis, orang tua menghargai kebebasan namun tetap diarahkan dan dibimbing dengan penuh pengertian sehingga tercapai komunikasi yang sifatnya timbal balik. Ada juga penggunaan hukuman yang bertujuan untuk memberi tekanan agar anak sadar mana yang baik dan tidak. Falsafah yang mendasari penerapan pola asuh ini bertujuan mengajarkan anak agar mengembangkan kendali atas perilaku mereka sehingga dapat melakukan meskipun orang tua tidak mengawasi, atau dengan kata lain mempunyai kesadaran diri (self awarness) yang tinggi.

Salah satu aspek yang hendaknya orang tua tekankan selain kecerdasan intelektual (Intellegences Quotient) dan kecerdasan spiritual (Spiritual Quotient) adalah perkembangan kecerdasan emosi (emosional quotient). Peran kecerdasan emosional dalam kehidupan sesorang sangatlah penting dan lebih besar dari kecerdasan intelektual maupun spiritual. Mengasuh anak dengan EQ adalah jumlah total apa yang kita lakukan, hal besar atau kecil, hari demi hari, yang dapat menciptakan keseimbangan lebih sehat dalam rumah tangga dengan hubungan dengan anak-anak. Tindakan otang tua harus menekankan pentingnya perasaan dan membantu orangtua dan anak-anak mengatasi serangkain emosi dengan pengendalian diri, bukan dengan tindakan impulsif, serta tidak membiarkan kita terlalu terbawa perasaan.

Jika kita tarik benang merah antara bentuk pola pengasuhan dan pengertian mengasuh anak dengan EQ ternyata ada kesamaan esensi yaitu adanya peran orang tua dalam membantu anak dalam mengatasi dan mengenali emosi dan perilakunya tanpa tindakan yang memaksa, tetap mendengarkan pendapat dari anak. Hal ini bisa menjadi bright solution dalam mempersiapkan anak menjadi pribadi yang tangguh dengan karakter kuat serta mampu menjawab tantangan perkembangan zaman.

Banyak penelitian yang menyimpulkan bahwa peran kecerdasan emosional sangatlah besar sekali jika dibanding dengan kecerdasan lain. ”…Dalam sebuah survey terhadap ratusan perusahaan di AS, terungkap pula faktor yang menjadikan seorang pemimpin atau manajer, yang terpenting bukanlah teknis atau analisis melainkan adalah yang berhubungan dengan perasaan dan emosi atau perasaan yang berhubungan dengan
personal. Menurut Prof. Dr. Sarlito Wirawan Sarwono, guru besar Fakultas Psikologi, Universitas Indonesia, Jakarta, Indonesia, konon IQ hanya memberi konstribusi 20% dari kesuksesan hidup seseorang, selebihnya tergantung pada kecerdasan emosi (Emosional Intellegence, EI atau EQ) dan sosial yang bersangkutan. Disisi lain, 90 % “keberhasilan kerja” manusia ternyata ditentukan oleh kecerdasan emosionalnya, sisanya (sekitar 4%) jatah kemampuan teknis….”.

Menurut Goleman (1996) kecerdasan emosional merupakan kemampuan emosional yang dimiliki individu yang meliputi kemampuan mengontrol diri sendiri (self control), memiliki semangat dan ketekunan (zeal and persistence), kemampuan memotivasi diri sendiri (ability to motivate one self), ketahanan menghadapi frustasi, kemampuan mengatur suasana hati (mood) dan kemampuan menunjukkan empati, harapan serta optimisme, individu mampu membina hubungan yang baik dengan orang lain, mudah mengenali emosi orang lain dan penuh perhatian ( Tridhonanto Al & Baranda Agency, 2009 ; 11-16).

Menurut penulis, aspek-aspek dalam kecerdasan emosi yang telah dipaparkan di atas sangatlah kompleks dan sangat relevan dibutuhkan seseorang untuk bisa survive dalam menapaki perjalanan hidup yang cepat berubah. Berbekal dari kemampuan mengontrol diri dan mengenal emosi seseorang akan mampu untuk mengenali perasaan sesuai dengan apa yang terjadi, mampu memantau perasaan dari waktu ke waktu dan merasa selaras terhadap apa yang dirasaakan. Hal tersebut sangatlah penting dalam diri individu karena dialah yang mengerti akan siapakah dirinya, seberapa besarkah kemampuan dan kekuarangan yang dia miliki serta mampu untuk memenangkan diri, melepaskan diri dari kecemasan, kemurungan dan kemarahan yang terjadi. Selain hal tersebut aspek yang terdapat dalam kecerdasan emosioanal adalah kemampuan mengenali emosi orang lain yang tidak lain adalah kemampuan mengetahui perasaan orang lain (kesadaran empatik), menyesuaikan diri terhadap apa yang diinginkan orang lain serta aspek kemampuan membina hubungan, yaitu
kemampuan mengelola emosi orang lain dan berinteraksi secara mulus dengan orang lain. Dari hal tersebut sangatlah relevan jika kecerdasan emosional sangatlah penting dalam menentukan suksesnya seseorang dalam menjalani hidup.

Bagaimana pola asuh dan tingkah laku yang mestinya Ibu lakukan terhadap anaknya? Hal yang bisa ibu lakukan antara lain adalah membiasakan buah hati menentukan perasaan secara tepat, meyatakan kebutuhan emosinya, ajarkan buah hati untuk menghormati perasaan orang lain, tunjukkan sikap empati kepada orang lain, serta tidak memaksakan kehendak terhadap anak.

Berikut adalah bentuk pola asuh yang penulis rekomendasikan untuk ibu yang bekerja agar bisa melatih anak tumbuh dan berkembang dengan EQ dan kemandirian. Pertama, beri kesempatan anak unutuk memilih, anak yang terbiasa berhadapan dengan situasi yang sudah ditentukan orang lain akan menjadi pribadi yang malas unutk melakukan pilihannya sendiri. Sebaliknya, jika anak terbiasa dihadapkan dengan beberapa pilihan, maka akan terlatih untuk membuat keputusan sendiri baginya. Kedua hargai usahanya, sekecil apapun usaha yang anak perlihatkan entah itu tepat atau tidak tepat. Hal itu mampu membantu anak merasa diterima dan dihargai. Ketiga, hindari banyak bertanya. Pertanyaan yang ibu ajukan sebenarnya menunjukkan perhatian pada anak, tetapi jika terlalu sering dapat diartikan sebagai sikap yang terlalu ingin tahu. Oleh karena itu, sebaiknya ibu menghindari kesan cerewet dan mau tahu. Keempat adalah jangan langsung menjawab pertanyaan. Bimbinglah dia untuk bisa menjawab pertanyaannya sendiri, dan tugas ibu adalah mengoreksi jika anak salah menjawab pertanyaan tersebut. Kelima adalah memberi dorongan kepada anak untuk melihat alternatif lain. Orang tua bukanlah satu-satunya tempat bertanya, banyak sumber lain yang dapat membantu mangatasi masalah yang ia hadapi. Terakhir adalah jangan patahkan semangatnya, tidak jarang ibu/orang tua ingin menghindarkan anak dari rasa kecewa dengan mengatakan “mustahil” terhadap apa yang anak sedang upayakan. Jika anak sudah mampu dan mau memperlihatkan keinginan untuk mandiri, dorong terus untuk melakukannya.

KESIMPULAN

Dari pembahasan yang penulis coba analis di depan dapat disimpulkan bahwa peran pola asuh ibu yang bekerja sangatlah penting. Untuk mempersiapkan anak menjadi pribadi yang tangguh, punya karakter kuat, mampu membina hubungan dengan lingkungan dan beradaptasi dan manjadi pribadi yang sukses perlu adanya perhatian yang penuh terhadap perkembangan emosional buah hatinya. Bentuk pola asuh yang bisa diterapkan untuk itu adalah dengan pola Authoritaive. Selain pola itu, hal yang perlu ditekankan dalam pengasuhan adalah perkembangan emosional anak.

Diharapkan ibu mengasah kecerdasan emosi anak sejak dini karena peranan kecerdasan emosi sangatlah besar dalam menentukan kesuksesan anak di masa mendatang. Untuk menjawab tantanga tersebut seoarang ibu yang bekerja bisa menggunakan pendekatan humanis terhadap anak. Gambaran dan langkah yang telah penulis rekomendasikan di dalam bab pembahasan bisa dipraktekkan oleh orang tua terutama ibu dalam mengasah kecerdasan emosional buah hati.


DAFTAR PUSTAKA

Ie Yen, A.J . Tjahjoanggoro & Budi Atmadji. 2003. “ Hubungan Antara Kecerdasan Emosi dengan Prestasi Kerja Distribiutor (MLM). Dalam Jurnal ANIMA Vol. 18, Januari 2003.

Mangoenprasojo, A. Setiono & Sri Nur Hayati. 2005. Anak Masa Depan dengan Multi Intellegensi. Yogyakarta: Pradipta Publishing.

Santrock, John W. 2004. Psikologi Pendidikan. Texas : University Of Texas.
Suharyo, Pulung. 2006. “ Gambaran Kecerdasan Emosi Pada Remaja Awal Berdasarkan Pola Asuh Orang Tua”, dalam Skripsi. Universitas Paramadina Jurusan Psikologi.

Tridhonanto, Al & Beranda Agency. 2009. Melejitkan Kecerdasan Emosi (EQ) Buah Hati ; Panduan Bagi Orang Tua Untuk Melejitkan EQ (Kecerdasan Emosional) Anak yang Sangat Menentukan Masa Depan Anak. Jakarta: Alex Media Komputindo.

Yasmine, Prieska Aditya. 2008.“ Perbedaan Kecerdasan Emosi Antra Ibu Rumah Tangga dan Wanita Karier ”, dalam Skripsi. Universitas Paramadina Jurusan Psikologi.

Wade, Carle& Carol Tavris. 2007. Psikologi. Jakarta: Erlangga

Wednesday, December 24, 2008

PEMBELAJARAN DAN KONDISIONING

1. Pengkondisian Klasikal

Classical Conditioning atau pengkondisian klasik disebutkan bahwa pada tingkah laku responden bisa dilihat bahwa stimulus yang sama akan menimbulkan respons yang sama pada semua organisme dan spesies yang sama, serta tingkah laku responden biasanya menyertakan refleks-refleks yang melibatkan sistem saraf otonom. Bagaimanapun, tingkah laku responden yang tarafnya lebih tinggi dimiliki oleh individu melalui belajar dan bisa dikondisikan. Orang pertama yang menemukan bahwa tingkah laku responden itu bisa dikondisikan tidak lain adalah Ivan Pavlov, ahli fisiologi Rusia. Percobaannya menggunakan seekor anjing sebagai subjeknya.

Mula-mula oleh Pavlov anjing percobaan itu diikat dan dioperasi pada bagian rahangnya sedemikian rupa untuk dipasangi alat pengukur, sehingga nantinya air liur yang keluar bisa ditampung dan diukur banyaknya. Selanjutnya anjing percobaan ini ditaruh pada suatu tempat yang nantinya akan mengeluarkan makanan. Makanan ini akan keluar kehadapan anjing percobaan setiap Pavlov menekan tombol. Kemudian, setiap menghadapi makanan, anjing percobaan akan mengeluarkan air liurnya yang bisa diketahui dengan alat pengukur. Keluarnya air liur dari mulut anjing setelah melihat makanan ini disebut respons tak berkondisi (unconditionied response), sedangkan makanan ini sendiri disebut stimulus tak berkondisi (unconditioned stimulus).
Pada tahap percobaan berikutnya Pavlov mengeluarkan makanan dengan terlebih dahulu membunyikan bel. Jadi, setiap bel dibunyikan anjing akan menerima makanan, dan dari mulutnya akan keluar air liur. Setelah pemberian makanan dengan didahului bunyi bel ini akan dilakukan berkali-kali, Pavlov menemukan bahwa anjing percobaannya telah mengeluarkan air liur begitu mendengar bunyi bel. Kemudian pada tahap terakhir, Pavlov menghentikan pemberian makanan, dan anjing percobaannya hanya menerima bunyi bel. Dan ternyata, meski hanya menerima bunyi bel tanpa menerima makanan, anjing percobaan tetap mengeluarkan air liurnya. Oleh Pavlov air liur yang keluar dari mulut anjing percobaan karena menerima bunyi bel ini disebut respons berkondisi (conditioned response), sedangkan bunyi belnya disebut stimulus berkondisi (conditioned stimulus). Bagaimanapun pemberian bunyi bel saja tanpa makanan itu lambat laun menyebabkan anjing percobaan menghentikan responsnya. Keadaan ini disebut penghapusan respons (extinction). Dari percobaan ini Pavlov menyimpulkan bahwa respons atau tingkah laku organisme bisa dikondisikan, dan organisme bisa memiliki respons tertentu (tingkah laku responden) melalui belajar atau latihan.

Percobaan lain yang terkenal mengenai pengkondisian klasik adalah percobaan yang dilakukan oleh Watson dan Rayner pada tahun 1920. ia melukiskan fenomena pengondisian klasik pada manusia. Watson dan koleganya mengondisikan respons ketakutan pada seorang anak berusia 11 bulan yang bernama Albert. Pada awal percobaannya, Watson telah memastikan bahwa Albert tidak menunjukkan rasa takut terhadap sejumlah stimulus tertentu, sperti kapas, topeng, dan monyet. Watson kemudian menghadirkan seekor tikus putih (stimulus berkondisi) bersama-sama dengan suasana mengejutkan (stimulus tak berkondisi) yang dihasilkan melalui pemukulan palu pada sebatang besi tepat dibelakang Albert. Prosedur ini dilakukannya berturut-turut sebanyak tujuh kali, dan Albert akan menangis setiap menghadapinya. Pada tahap berikutnya, tikus putih itu dihadirkan tanpa disertai suara yang mengejutkan. Dan ternyata dengan hanya melihat tikus, Albert menangis ketakutan (respon berkondisi). Pada tahap-tahap selanjutnya Albert menggeneralisasikan respons ketakutan terhadap stimulus-stimulus lain yang tadinya tidak ia takuti meliputi anjing, mantel bulu, topeng, dan bahkan rambut peneliti. Percobaan yang nampaknya kejam ini telah menunjukkan, bagaiman respons-respons ketakutan serupa diperoleh melalui pengkondisian klasik.

2. Pengkondisian Operan

Operant Conditioning merupakan proses mempelajari sesuatu yang menyebabkan tercapainya tujuan tertentu, penelitian operant conditioning dimulai pada abad 19 dengan sejumlah eksperimen oleh E.I. Thorndike. Namun penelitian pengkondisian Skinner lebih sederhana dan lebih diterima secara luas.
Teori Skinner menyatakan bahwa setiap kali memperoleh stimulus maka seseorang akan memberikan respon berdasarkan hubungan Stimulus Respon (S-R). Skinner membedakan adanya dua macam respon, yaitu:
a. Respondent response (reflexive response), ayitu respons yang ditimbulkan oleh perangsang-perangsang tertentu, dan respon-respon tersebut secara relatif tetap. Singkatnya tingkah laku responden adalah suatu respons yang spesifik yang ditimbulkan oleh stimulus yang dikenal, dan stimulus itu selalu mendahului respons. Misalnya, menyempitkan pupil mata untuk mengurangi stimulus cahaya, makanan yang menimbulkan air liur, dan menggigil karena kedinginan. Kesemuanya itu terjadi dengan sendirinya atau spontan. Dan perangsang-perangsang tersebut mendahului respon yang ditimbulkan.
b. Operan response (Instrumental response), yaitu respon yang timbul dan cerkembangnya diikuti oleh perangsang tertentu. Dan perangsang-perangsang tersebut memperkuat respon yang telah dilakukan organisme. Perangsang tersebut mengikuti sesuatu tingkah laku tertentu yang telah dilakukan. Respon yang diberikan dapat sesuai (benar) atau tidak sesuai (salah) dengan apa yang diharapkan. Respon yang benar perlu diberi penguatan (reinforcement) agar orang terdorong untuk ingin melakukannya kembali.

Perbedaan antara Classical Conditioning dengan Operant Conditioning terletak pada hal-hal berikut:
1. Dalam Classical Conditioning respon dikontrol oleh pihak luar, pihak inilah yang menentukan kapan dan apa yang akan diberikan sebagai stimulus. Sebaliknya operant conditioning mengatakan bahwa pihak luar yang harus menanti adanya respon yang diharapkan benar. Jika respon semacam ini terlihat maka dapat diberikan penguatan. Disini dibicarakan tentang tingkah laku operan atau operan behavior.
2. Classical Conditioning pada umumnya memusatkan tingkah laku terjadi apabila ada stimuli khusus dan tidak peduli apakah perilaku manusia atau hewan memilki konsekuensi tertentu atau tidak. Sedangkan dalam Operant Conditioning tingkah laku hanya menerangkan untuk sebagian kecil dari semua kegiatan. Operant Conditioning memusatkan tingkah laku dengan konsekuen, yaitu konsekuen yang menyenangkan dan tidak menyenangkan dalam mengubah tingkah laku. Jadi konsekuen yang menyenangkan akan mengubah tingkah laku. Sedangkan konsekuen yang tidak menyenangkan akan memperlemah tingkah laku.

3. Classical Conditioning mengatakan bahwa stimulus yang tidak terkontrol mempunyai hubungan dengan penguatan. Stimulus itu sendirilah yang menyebabkan adanya pengulangan tingkah laku dan berfungsi sebagai reinforcement. Di dalam Operant Conditioning responlah yang merupakan sumber reinforcement. Adanya respon menyebabkan seseorang memperoleh penguatan. Dan hal ini menyebabkan respon tersebut cenderung untuk diulang-ulang. Perilaku akan semakin sering atau semakin jarang muncul tergantung pada konsekuensi yang mengikutinya.

Operant merupakan tingkah laku yang ditimbulkan oleh organisme itu sendiri. Operant belum tentu didahului oleh stimulus dari luar. Operan conditioning dikatakan telah terbentuk bila dalam frekuensi terjadi tingkah laku operan yang bertambah atau bila timbul tingkah laku operan yang tidak tampak sebelumnya.

Percobaan Skinner berikut dengan menggunakan tikus akan lebih menjelaskan. Dalam eksperimen Skinner, seekor tikus lapar ditempatkan dalam kotak disebut "kotak Skinner". Di dalam kotak tidak terdapat apa-apa kecuali sebuah tuas yang menonjol dengan piring makanan di bawahnya. Tikus yang berada sendirian di dalam kotak bergerak kesana kemari sambil mengeksplorasi. Kadang-kadang ia mengamati tuas dan menekannya. Peneliti memasang wadah di luar kotak. Tiap kali tikus menekan tuas, pelet makanan kecil masuk kepiring. Tikus memakan pelet makanan itu dan segera menekan tuas lagi. Makanan memperkuat (reinforcer) penekan tuas, dan kecepatan penekanan tuas meningkat secara drastis. Jika wadah makanan dilepas sehingga tindakan menekan tuas tidak lagi menghasilkan pelet makanan, kecepatan menekan tuas akan menurun. Dengan demikian respon operant conditioning mengalami pemadaman jika tidak terdapat penguatan.

Jadi, operant conditioning meningkatkan kemungkinan respon dengan mengikuti perilaku dengan reinforcer. Tingkat respon organisme sangat berguna untuk mengukur kekuatan operan, semakin sering respon terjadi selama interval waktu tertentu, semakin besar kekuatannya. Operan conditioning banyak menjelaskan kepada kita terkait cara membesarkan anak. Penerapan pengkondisian operan dalam membesarkan anak berfokus pada hubungan antara suatu respon
dengan penguatnya.

Saturday, November 1, 2008

Pengaruh Meditasi Terhadap Ketergantungan Ganja

Pada suatu keadaan tertentu, terkadang manusia tidak pernah memperhatikan apa yang mereka rasakan dan mereka lakukan, baik itu yang terjadi di dalam dirinya ataupun di luar dirinya. Misalnya saja pada saat mereka melamun atau ketika membaca sebuah novel. Hal ini terkait dengan kesadaran manusia. Dimana kesadaran didefinisikan sebagai tingkat kesiagaan individu pada saat ini terhadap peristiwa-peristiwa lingkungan dan sensasi tubuh, memori, dan pikiran. Kesadaran memiliki fungsi sebagai pemantau dan pengendali diri sendiri dan lingkungan, sehingga kita mampu memulai dan mengakhiri aktivitas perilaku dan kognitif (Kihlstrom, 1984).
Adapun menurut William James (dengan Teori Fungsionalisme), menjelaskan bahwa kesadaran bersifat unik dan sangat pribadi, terus-menerus berubah-ubah, muncul setiap saat dan selektif sekali ketika harus memilih dari sekian banyak rangsang yang mengenai seseorang, serta mampu membuat manusia menyesuaikan diri terhadap lingkungan sekelilingnya.
Dewasa ini marak sekali orang-orang melakukan pelatihan-pelatihan yang ada kaitannya dengan istilah kesadaran. Contoh realnya yaitu dengan adanya latihan meditasi. Orang-orang yang merasa benar-benar terpojok, stress, gelisah, atau mengalami gejala mudah lupa, mudah marah, emosi tidak terkontrol, tidak dapat tidur, mimpi buruk, dan serasa akan gila, mereka cenderung lari ke pelatihan meditasi. Melihat kenyataan demikian, tidak dipungkiri bahwa kesadaran memiliki kaitan yang erat dengan meditasi.
Dalam meditasi, seseorang mencapai perubahan kesadaran dengan melakukan latihan tertentu. Meditasi itu sendiri merupakan salah satu cara berlatih untuk mengubah kesadaran, atau dalam artian lain memindahkan kesadaran dari dunia luar ke dunia dalam dirinya sendiri yakni menuju kesunyian yang indah, keheningan dan kejernihan pikiran. Meditasi ini dinilai sebagai persiapan untuk lebih mengerti akan dirinya sendiri.
Namun manfaat dan efek meditasi bagi setiap individu tentunya bermacam-macam, tergantung pada konteks dan sikapnya. Secara nyata efek meditasi dapat menimbulkan relaksasi dan menurunkan kesadaran fisiologis. Kecepatan jantung menurun, tekanan darah menjadi stabil, dan konsentrasi darah dalam laktat menurun (Dillbeck & Orme-Johnson, 1987). Selain itu juga terbukti bahwa meditasi dapat membantu mengatasi kecemasan dan ketegangan kronis.
Biasanya sebagian besar orang-orang yang mengalami kecemasan dan ketegangan kronis atau sering kita kenal dengan istilah stess itu cenderung mengalami ketergantungan terhadap obat-obatan atau narkoba. Dimana obat-obatan atau narkoba tersebut dapat mengubah tingkat kesadarannya, untuk menstimulasi atau merelaksasi, mempermudah tidur, dan menghasilkan halusinasi. Obat-obatan ini sering kita kenal dengan nama psikoaktif.
Adapun dalam pembahasan ini saya memfokuskan pengaruh meditasi terhadap ketergantungan pemakaian ganja. Ganja/marijuana adalah sebutan untuk beberapa sediaan yang diperoleh dari tanaman Cannabis Sativa. Pengunaan narkoba jenis ini dikonsumsi sebagai upaya mengubah kesadaran si pemakainya. Secara umum pemakaian ganja ini akan mengadakan interaksi dengan sistem saraf, sehingga dapat menimbulkan kesan perasaan tertentu.
Seseorang yang mengkonsumsi ganja, mereka cenderung merasakan kegelisahan, gejala panik akut, ketakutan dan mengalami halusinasi penglihatan, meskipun kadang mereka masih menyadari bahwa apa yang mereka lihat itu tidak ada dalam dunia nyata, dan hampir pada saat yang bersamaan mereka juga merasakan kepekaannya terhadap orang lain menjadi semakin tajam.
Dalam hal ini jelas sekali bahwa antara kesadaran, meditasi dan ketergantungan obat-obatan atau narkoba, khususnya ganja memiliki hubungan yang sangat erat. Saya menilai bahwa meditasi mampu mengurangi ketergantungan pemakaian ganja meskipun tidak secara langsung dan memerlukan proses. Dimana orang-orang yang memiliki ketergantungan terhadap ganja mereka cenderung memiliki kecemasan, ketegangan dan kegelisahan yang tinggi sehingga mereka tidak dapat mengontrol keadaan alam sadarnya.
Melalui meditasi inilah kecemasan dan ketegangan tersebut bisa hilang atau setidaknya berkurang. Meditasi mampu merapikan pikiran-pikiran yang berantakan sehingga menjadi sarana yang efektif untuk mengatasi stress dan menurunkan resiko berbagai penyakit. Tujuan utamanya yaitu untuk membuat pikiran menjadi fokus, tenang, diam dan damai. Karena dengan pikiran yang tenang seluruh sistem tubuh pun akan menjadi lancar dan organ-organ tubuh dapat bekerja dengan optimal. Seperti pepatah bilang “di dalam jiwa yang sehat terdapat badan yang kuat”.
Dengan demikian, hilangnya atau menurunnya kecemasan dan ketegangan mengakibatkan berkurangnya ketergantungan seseorang terhadap ganja secara bertahap. Orang-orang yang telah melakukan meditasi biasanya cenderung lebih bisa mengendalikan dirinya, sehingga ia sadar dan mampu mengontrol keadaan internal dan eksternal dirinya. Dalam kasus ini kesadaran tidak hanya berperan dalam pemantauan perilaku yang sedang terjadi, tetapi juga memiliki peranan dalam mengarahkan dan mengendalikan perilaku tersebut.



Referensi :
“Psikologi Suatu Pengantar”. Linda L. Davidoff. Edisi Kedua. Jilid 1. Erlangga. Jakarta.1988.
“Pengantar Psikologi”. Atkinson, Smith, dan Bem. Edisi 11. Jilid Satu.. Interaksara. Batam
www.galaxynetmedia.com

Monday, September 15, 2008

KEDUDUKAN AGAMA DALAM KEHIDUPAN MANUSIA DILIHAT DARI ASPEK PSIKOLOGI

Sejak pertama kali lahir, manusia telah dikenalkan dengan ajaran agama. Mereka mulai dikenalkan dengan ajaran-ajaran agama yang mendasar sebagai awal perkenalan dan membuka wawasan tentang agama. Di dalam agama Islam, setiap bayi yang lahir akan dilakukan ritual adzan di telinga kanan dan iqomah di telinga kiri. Hal itu dilakukan dengan maksud agar kata yang pertama kali didengar adalah kata pujian untuk Allah SWT. Setelah itu dilanjutkan dengan pemberian nama yang baik, karena nama merupakan do’a untuk orang yang dinamai. Mereka diberi makanan yang bersih dan suci, dilakukan pencukuran rambut dengan tujuan agar mereka menyukai kebersihan, keindahan, ketampanan yang kesemuanya itu disukai Allah SWT. Dalam ajaran agama Islam telah dijelaskan hal itu semua mulai dari bayi sampai ajal tiba.

Kehidupan manusia sangatlah kompleks sehingga tidak bisa lepas dengan agama. Agama berkedudukan sebagai benteng kesehatan mental dan bersikap serta berperilaku menghapai setiap pelik masalah yang menimpa. Agama merupakan makanan untuk memenuhi kehausan jiwa, karena antara jiwa dan agama memiliki korelasi yang kuat. Jika kebutuhan jiwa terpenuhi maka akan tercipta sebuah perasaan yang tenteram dan damai. Agama berperan dalam mewujudkan kehidupan manusia yang sejahtera lahir dan batin. Di dalamnya terdapat berbagai petunjuk bagaimana seharusnya manusia menyikapi hidup dan kehidupan agar lebih bermakna dalam arti yang luas.

Ditinjau dari sisi psikologis, bahwa tingkah laku yang dimunculkan manusia bersumber dari gejala kejiwaan yang mereka alami. Perilaku manusia yang dimunculkan dipengaruhi oleh keyakinan yang dianutnya. Ketika seorang berjumpa saling mengucapkan salam, hormat kepada orang tua dan guru, menutup aurat merupakan gejala keagamaan yang dapat dijelaskan melalui jiwa agama.

Dengan ilmu jiwa, seseorang akan mengetahui seberapa besar tingkat keagamaan yang mereka hayati, pahami, dan mereka amalkan. Kita semua sepakat bahwa manusia adalah makhluk yang sempurna, selalu berpikir, merasa, serta mempunyai kehendak. Perilaku yang dilakukan merupakan buah dari apa yang dipikir, dirasa, dan yang dikehendakinya. Manusia juga bisa menjadi subjek dan objek sekaligus, disamping dia bisa menghayati pengalaman agamanya sendiri,meraka juga dapat meneliti keberagamaan orang lain. Secara psikolgis agama mempunyai makna yang berbeda-beda / subjektif, intern dan individual tergantung kepada seberapa besar amalan dan penghayatannya terhadap agama. Bagi beberapa orang agama adalah ritual ibadah, seperti shalat, zakat, puasa, bagi sebagian yang lain agama adalah pengabdian diri kepada sesama manusia dan makhluk hidup yang lain sehingga mereka akan berperilaku baik. Bagi penulis sendiri agama merupakan ajaran yang kompleks yang di dalamya berisi aturan-aturan yang mengarahkan, membimbing, menuntun manusia agar bahagia di dunia dan akhirat. Tidak hanya itu saja, agama juga memberikan uraian tentang alam dan segala isinya.

Jadi pengertian agama sangatlah kompleks. Psikologi agama mencoba menguak bagaimana agama mempengaruhi perilaku manusia. Psikologi mampu menguak keberagamaan seseorang bergantung kepada paradigma psikologi itu sendiri. Bagi Aliran Psikolanalisa keberagamaan merupakan bentuk gangguan kejiwaan, bagi Aliran Behaviorisme, perilaku keberagamaan tidak lebih dari sekedar perilaku karena manusia tidak memilki jiwa. Aliran kognitif mulai menghargai kemanusiaan, dan Aliran Humanisme sudah memandang manusia sebagai makhluk yang mengerti akan makna hidup, sehingga aliran ini lebih dekat dengan agama.

Lalu, apa sebenarnya arti dari agama? Menurut Drs. H. Achmad Gholib, MA dalam bukunya “Studi Islam” menjelaskan bahwa definisi agama adalah suatu peraturan Tuhan yang mendorong jiwa seseorang yang mempunyai akal memegang peraturan Tuhan itu dengan kehendaknya sendiri untuk mencapai kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat.

Menurut Taib Thahir Abdul Mu’in mengemukakan bahwa agama merupakan aturan yang bersumber langsung dari Tuhan, yang diperuntukkan untuk manusia karena manusia dikaruniai oleh akal yang dapat menerima peraturan-peraturan Tuhan yang akan membawanya kepada kebaikan, keselamatan dan kehagiaan di dunia dan akhirat.

Dari pendapat beberapa tokoh di atas dapat diasumsikan bahwa agama mengandung arti ikatan-ikatan yang harus di pegang dan dipatuhi manusia. Ikatan yang berpengaruh terhadap kehidupan manusia sehari-hari dan berasal dari sumber yang lebih tinggi dari manusia. Suatu kekuatan gaib yang tidak dapat ditangkap oleh panca indera.

Menurut Harun Nasution, agama mempunyai empat unsur penting :

1. Kekuatan gaib manusia : manusia merasa bahwa dirinya lemah dan berhajat pada kekuatan gaib itu sebagai temapat meminta tolong dan berlindung. Oleh sebab itulah manusia mengadakan hubungan baik dengan kekuatan baik tersebut dengan mematuhi segala perintah dan menjauhi larangan gaib tersebut.

2. Keyakinan manusia bahwa kesejahteraan di dunia ini dan hidupnya di akhirat tergantung adanya hubungan baik itu.

3. Respons yang bersifat emosional dari manusia, seperti perasaan takut dan cinta.

4. Paham adanya yang kudus dan suci dalam bentuk kekuatan gaib, dalam bentuk kitab yang mengandung ajaran-ajaran agama yang bersangkutan dan dalam bentuk tempat-tempat tertentu.

Dari pengertian terakhir ini ditegaskan bahwa agama adalah aturan Tuhan, yang ditujukan bagi manusia, karena manusialah yang dianugerahi akal. Akal yang dapat menerima peraturan-peraturan Tuhan yang akan membawa manusia kepada kebaikan, keselamatan dan kebahagiaan di dunia dan di akhirat.

Manusia di dunia ini sangat membutuhkan agama sebagai pegangan hidup di dunia dan akhirat. Menurut Abudin Nata dalam bukunya “ Metodologi Studi Islam “ ada tiga alasan perlunya manusia terhadap agama :

1. Latar belakang fitrah manusia

Kenyataan bahwa manusia memiliki fitrah keagamaan tersebut buat pertama kali ditegaskan dalam ajaran islam, yakni bahwa agama adalah kebutuhan manusia. Allah SWT berfirman dalam surat al-Rum, 30:30).

“ Hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; tetaplah atas fitrah Allah yang telah menciptakan manusia sesuai dengan fitrah itu “

2. Kelamahan dan kekurangan manusia

Manusia memiliki keterbatasan akal untuk menentukan hal-hal di luar kekuatan pikiran manusia itu sendiri, dan juga manusia merupakan makhluk lemah yang sangat memerlukan agama.

3. Tantangan manusia

Manusia dalam kehidupannya senantiasa menghadapi berbagai tantangan, baik dari dalam maupun dari luar. Tantangan dari dalam berupa dorongan hawa nafsu dan bisikan syetan, dan tantangan dari luar dapat berupa rekayasa dan upaya-upaya yang dilakukan manusia yang secara sengaja berusaha memalingkan manusia dari Tuhan.

Agama berfungsi untuk membimbing umat manusia agar hidup tenang dan bahagia di dunia dan akhirat, mempererat hubungan sosial dan kemasyarakatan, dan penawar bagi tekanan jiwa.

Manusia memiliki dua jenis kebahagiaan. Pertama, yang berhubungan dengan inderawinya dengan objek eksternal, seperti kebahagiaan yang diperoleh melalui pengecapan lidah dan indera peraba seperti kontak fisik. Kedua, kebahagiaan yang berhubungan dengan kedalaman ruh dan kesadaran manusia, yang tidak ada kaitannya dengan tubuh-tubuh tertentu. Kebahagiaan ini termasuk kebahagiaan menyembah Tuhan / shalat.

Pengaruh kedua dari keyakinan keagamaan dalam masalah hubungan sosial kemasyarakatan adalah untuk memaksa orang untuk melaksanakan kewajiban yang telah disepakati bersama demi terwujudnya ketertiban masyarakat.

Peranan yang ketiga sebagai penawar bagi tekanan jiwa yang gelisah, stress atau gundah gulana. Kehidupan manusia kita sukai atau tidak mengandung penderitaan, kesedihan, kegagalan, kekecewaan, kehilangan, dan kepahitan. Disinilah peran agama mulai dibutuhkan. Dengan adanya pengalaman agama yang kuat maka manusia akan terhindar dari tekanan yang dapat membelunggu kehidupannya. Meraka sadar bahwa semua yang terjadi dalam dunia ini adalah sebagai cobaan untuk menguji keimanan dan mereka yakin bahwa Tuhan akan memberikan yang terbaik bagi umatnya.

Bagi ahli psikologi bahwa sebagian besar penyakit mental yang disebabkan oleh kerusakan psikolgi dan kepahitan kehidupan ditemukan diantara orang-orang yang tidak beragama. Orang-orang yang beragama, bergantung pada seberapa jauh ketetapan hatinya kepada agamanya, seringkali terlindungi dari penyakit-penyakit seperti itu. Karenanya salah satu akibat kehidupan kontemporer yang bersumber dari ketiadaan keyakinan keagamaan adalah meningkatnya penyakit saraf dan psikologis.(Achmad Gholib, Studi Islam, Faza Media, Jakarta, 2006 )

Referensi :

Nata, Abudin. 1998 . Metodologi Studi Islam. Jakarta: Raja Grafindo Persada.

Azhari, Akyas. 2004 . Psikologi Umum & Perkembangan. Jakarta:

Gholib, Achmad. 2006 . Studi Islam. Jakarta: Faza Media

PSIKOLOGI PENDIDIKAN


A. Pendahuluan

Psikologi pendidikan adalah studi yang sistematis terhadap proses dan faktor-faktor yang berhubungan dengan pendidikan. Sedangkan pendidikan adalah proses pertumbuhan yang berlangsung melalui tindakan-tindakan belajar (Whiterington, 1982:10). Dari batasan di atas terlihat adanya kaitan yang sangat kuat antara psikologi pendidikan dengan tindakan belajar. Karena itu, tidak mengherankan apabila beberapa ahli psikologi pendidikan menyebutkan bahwa lapangan utama studi psikologi pendidikan adalah soal belajar. Dengan kata lain, psikologi pendidikan memusatkan perhatian pada persoalan-persoalan yang berkenaan dengan proses dan faktor-faktor yang berhubungan dengan tindakan belajar.

Karena konsentrasinya pada persoalan belajar, yakni persoalan-persoalan yang senantiasa melekat pada subjek didik, maka konsumen utama psikologi pendidikan ini pada umumnya adalah pada pendidik. Mereka memang dituntut untuk menguasai bidang ilmu ini agar mereka, dalam menjalankan fungsinya, dapat menciptakan kondisi-kondisi yang memiliki daya dorong yang besar terhadap berlangsungnya tindakan-tindakan belajar secara efektif.

B. Mendorong Tindakan Belajar

Pada umumnya orang beranggapan bahwa pendidik adalah sosok yang memiliki sejumlah besar pengetahuan tertentu, dan berkewajiban menyebarluaskannya kepada orang lain. Demikian juga, subjek didik sering dipersepsikan sebagai sosok yang bertugas mengkonsumsi informasi-informasi dan pengetahuan yang disampaikan pendidik. Semakin banyak informasi pengetahuan yang mereka serap atau simpan semakin baik nilai yang mereka peroleh, dan akan semakin besar pula pengakuan yag mereka dapatkan sebagai individu terdidik.

Anggapan-anggapan seperti ini, meskipun sudah berusia cukup tua, tidak dapat dipertahankan lagi. Fungsi pendidik menjejalkan informasi pengetahuan sebanyak-banyakya kepada subjek didik dan fungsi subjek didik menyerap dan mengingat-ingat keseluruhan informasi itu, semakin tidak relevan lagi mengingat bahwa pengetahuan itu sendiri adalah sesuatu yang dinamis dan tidak terbatas. Dengan kata lain, pengetahuan-pengetahuan (yang dalam perasaan dan pikiran manusia dapat dihimpun) hanya bersifat sementara dan berubah-ubah, tidak mutlak (Goble, 1987 : 46). Gugus pengetahuan yang dikuasai dan disebarluaskan saat ini, secara relatif, mungkin hanya berfungsi untuk saat ini, dan tidak untuk masa lima hingga sepuluh tahun ke depan. Karena itu, tidak banyak artinya menjejalkan informasi pengetahuan kepada subjek didik, apalagi bila hal itu terlepas dari konteks pemenuhan kebutuhan hidup sehari-hari.

Namun demikian bukan berarti fungsi traidisional pendidik untuk menyebarkan informasi pengetahuan harus dipupuskan sama sekali. Fungsi ini, dalam batas-batas tertentu, perlu dipertahankan, tetapi harus dikombinasikan dengan fungsi-fungsi sosial yang lebih luas, yakni membantu subjek didik untuk memadukan informasi-informasi yang terpecah-pecah dan tersebar ke dalam satu falsafah yang utuh. Dengan kata lain dapat diungkapkan bahwa menjadi seorang pendidik dewasa ini berarti juga menjadi “penengah” di dalam perjumpaan antara subjek didik dengan himpunan informasi faktual yang setiap hari mengepung kehidupan mereka.

Sebagai penengah, pendidik harus mengetahui dimana letak sumber-sumber informasi pengetahuan tertentu dan mengatur mekanisme perolehannya apabila sewaktu-waktu diperlukan oleh subjek didik.Dengan perolehan informasi pengetahuan tersebut, pendidik membantu subjek didik untuk mengembangkan kemampuannya mereaksi dunia sekitarnya. Pada momentum inilah tindakan belajar dalam pengertian yang sesungguhya terjadi, yakni ketika subjek didik belajar mengkaji kemampuannya secara realistis dan menerapkannya untuk mencapai kebutuhan-kebutuhannya.

Dari deskripsi di atas terlihat bahwa indikator dari satu tindakan belajar yang berhasil adalah : bila subjek didik telah mengembangkan kemampuannya sendiri. Lebih jauh lagi, bila subjek didik berhasil menemukan dirinya sendiri ; menjadi dirinya sendiri. Faure (1972) menyebutnya sebagai “learning to be”.

Adalah tugas pendidik untuk menciptakan kondisi yang kondusif bagi berlangsungnya tindakan belajar secara efektif. Kondisi yang kondusif itu tentu lebih dari sekedar memberikan penjelasan tentang hal-hal yang termuat di dalam buku teks, melainkan mendorong, memberikan inspirasi, memberikan motif-motif dan membantu subjek didik dalam upaya mereka mencapai tujuan-tujuan yang diinginkan (Whiteherington, 1982:77). Inilah fungsi motivator, inspirator dan fasilitator dari seorang pendidik.

C. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Proses dan Hasil Belajar

Agar fungsi pendidik sebagai motivator, inspirator dan fasilitator dapat dilakonkan dengan baik, maka pendidik perlu memahami faktor-faktor yang dapat mempengaruhi proses dan hasil belajar subjek didik. Faktor-faktor itu lazim dikelompokkan atas dua bahagian, masing-masing faktor fisiologis dan faktor psikologis (Depdikbud, 1985 :11).

1. Faktor Fisiologis

Faktor-faktor fisiologis ini mencakup faktor material pembelajaran, faktor lingkungan, faktor instrumental dan faktor kondisi individual subjek didik.Material pembelajaran turut menentukan bagaimana proses dan hasil belajar yang akan dicapai subjek didik. Karena itu, penting bagi pendidik untuk mempertimbangkan kesesuaian material pembelajaran dengan tingkat kemampuan subjek didik ; juga melakukan gradasi material pembelajaran dari tingkat yang paling sederhana ke tingkat lebih kompeks.

Faktor lingkungan, yang meliputi lingkungan alam dan lingkungan sosial, juga perlu mendapat perhatian. Belajar dalam kondisi alam yang segar selalu lebih efektif dari pada sebaliknya. Demikian pula, belajar padapagi hari selalu memberikan hasil yang lebih baik dari pada sore hari. Sementara itu, lingkungan sosial yang hiruk pikuk, terlalu ramai, juga kurang kondisif bagi proses dan pencapaian hasil belajar yang optimal.

Yang tak kalah pentingnya untuk dipahami adalah faktor-faktor instrumental, baik yang tergolong perangkat keras (hardware) maupun perangkat lunak (software). Perangkat keras seperti perlangkapan belajar, alat praktikum, buku teks dan sebagainya sangat berperan sebagai sarana pencapaian tujuan belajar. Karenanya, pendidik harus memahami dan mampu mendayagunakan faktor-faktor instrumental ini seoptimal mungkin demi efektifitas pencapaian tujuan-tujuan belajar.

Faktor fisiologis lainnya yang berpengaruh terhadap proses dan hasil belajar adalah kondisi individual subjek didik sendiri. Termasuk ke dalam faktor ini adalah kesegaran jasmani dan kesehatan indra. Subjek didik yang berada dalam kondisi jasmani yang kurang segar tidak akan memiliki kesiapan yang memadai untuk memulai tindakan belajar.

2. Faktor Psikologis

Faktor-faktor psikologis yang berpengaruh terhadap proses dan hasil belajar

jumlahnya banyak sekali, dan masing-masingnya tidak dapat dibahas secara

terpisah.

Perilaku individu, termasuk perilaku belajar, merupakan totalitas penghayatan dan aktivitas yang lahir sebagai hasil akhir saling pengaruh antara berbagai gejala, seperti perhatian, pengamatan, ingatan, pikiran dan motif.

2.1. Perhatian

Tentulah dapat diterima bahwa subjek didik yang memberikan perhatian intensif dalam belajar akan memetik hasil yang lebih baik. Perhatian intensif ditandai oleh besarnya kesadaran yang menyertai aktivitas belajar. Perhatian intensif subjek didik ini dapat dieksloatasi sedemikian rupa melalui strategi pembelajaran tertentu, seperti menyediakan material pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan subjek didik, menyajikan material pembelajaran dengan teknik-teknik yang bervariasi dan kreatif, seperti bermain peran (role playing), debat dan sebagainya.

Strategi pemebelajaran seperti ini juga dapat memancing perhatian yang spontan dari subjek didik. Perhatian yang spontan dimaksudkan adalah perhatian yang tidak disengaja, alamiah, yang muncul dari dorongan-dorongan instingtif untuk mengetahui sesuatu, seperti kecendrungan untuk mengetahui apa yang terjadi di sebalik keributan di samping rumah, dan lain-lain. Beberapa hasil penelitian psikologi menunjukkan bahwa perhatian spontan cendrung menghasilkan ingatan yang lebih lama dan intensif dari pada perhatian yang disengaja.

2.2. Pengamatan

Pengamatan adalah cara pengenalan dunia oleh subjek didik melalui penglihatan, pendengaran, perabaan, pembauan dan pengecapan. Pengamatan merupakan gerbang bai masuknya pengaruh dari luar ke dalam individu subjek didik, dan karena itu pengamatan penting artinya bagi pembelajaran.

Untuk kepentingan pengaturan proses pembelajaran, para pendidik perlu memahami keseluruhan modalitas pengamatan tersebut, dan menetapkan secara analitis manakah di antara unsur-unsur modalitas pengamatan itu yang paling dominan peranannya dalam proses belajar. Kalangan psikologi tampaknya menyepakati bahwa unsur lainnya dalam proses belajar. Dengan kata lain, perolehan informasi pengetahuan oleh subjek didik lebih banyak dilakukan melalui penglihatan dan pendengaran.

Jika demikian, para pendidik perlu mempertimbangkan penampilan alat-alat peraga di dalam penyajian material pembelajaran yang dapat merangsang optimalisasi daya penglihatan dan pendengaran subjek didik. Alat peraga yang dapat digunakan, umpamanya ; bagan, chart, rekaman, slide dan sebagainya.

2.3. Ingatan

Secara teoritis, ada 3 aspek yang berkaitan dengan berfungsinya ingatan, yakni (1) menerima kesan, (2) menyimpan kesan, dan (3) memproduksi kesan. Mungkin karena fungsi-fungsi inilah, istilah “ingatan” selalu didefinisikan sebagai kecakapan untuk menerima, menyimpan dan mereproduksi kesan.

Kecakapan merima kesan sangat sentral peranannya dalam belajar. Melalui kecakapan inilah, subjek didik mampu mengingat hal-hal yang dipelajarinya.

Dalam konteks pembelajaran, kecakapan ini dapat dipengaruhi oleh beberapa hal, di antaranya teknik pembelajaran yang digunakan pendidik. Teknik pembelajaran yang disertai dengan penampilan bagan, ikhtisar dan sebagainya kesannya akan lebih dalam pada subjek didik. Di samping itu, pengembangan teknik pembelajaran yang mendayagunakan “titian ingatan” juga lebih mengesankan bagi subjek didik, terutama untuk material pembelajaran berupa rumus-rumus atau urutan-urutan lambang tertentu. Contoh kasus yang menarik adalah mengingat nama-nama kunci nada g (gudeg), d (dan), a (ayam), b (bebek) dan sebagainya.

Hal lain dari ingatan adalah kemampuan menyimpan kesan atau mengingat. Kemampuan ini tidak sama kualitasnya pada setiap subjek didik. Namun demikian, ada hal yang umum terjadi pada siapapun juga : bahwa segera setelah seseorang selesai melakukan tindakan belajar, proses melupakan akan terjadi. Hal-hal yang dilupakan pada awalnya berakumulasi dengan cepat, lalu kemudian berlangsung semakin lamban, dan akhirnya sebagian hal akan tersisa dan tersimpan dalam ingatan untuk waktu yang relatif lama.

Untuk mencapai proporsi yang memadai untuk diingat, menurut kalangan psikolog pendidikan, subjek didik harus mengulang-ulang hal yang dipelajari dalam jangka waktu yang tidak terlalu lama. Implikasi pandangan ini dalam proses pembelajaran sedemikian rupa sehingga memungkinkan bagi subjek didik untuk mengulang atau mengingat kembali material pembelajaran yang telah dipelajarinya. Hal ini, misalnya, dapat dilakukan melalui pemberian tes setelah satu submaterial pembelajaran selesai.

Kemampuan resroduksi, yakni pengaktifan atau prosesproduksi ulang hal-hal yang telah dipelajari, tidak kalah menariknya untuk diperhatikan. Bagaimanapun, hal-hal yang telah dipelajari, suatu saat, harus diproduksi untuk memenuhi kebutuhan tertentu subjek didik, misalnya kebutuhan untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan dalam ujian ; atau untuk merespons tantangan-tangan dunia sekitar.

Pendidik dapat mempertajam kemampuan subjek didik dalam hal ini melalui pemberian tugas-tugas mengikhtisarkan material pembelajaran yang telah diberikan.

2.4. Berfikir

Definisi yang paling umum dari berfikir adalah berkembangnya ide dan konsep (Bochenski, dalam Suriasumantri (ed), 1983:52) di dalam diri seseorang. Perkembangan ide dan konsep ini berlangsung melalui proses penjalinan hubungan antara bagian-bagian informasi yang tersimpan di dalam didi seseorang yang berupa pengertian-perngertian. Dari gambaran ini dapat dilihat bahwa berfikir pada dasarnya adalah proses psikologis dengan tahapan-tahapan berikut : (1) pembentukan pengertian, (2) penjalinan pengertian-pengertian, dan (3) penarikan kesimpulan.

Kemampuan berfikir pada manusia alamiah sifatnya. Manusia yang lahir dalam keadaan normal akan dengan sendirinya memiliki kemampuan ini dengan tingkat yang reletif berbeda. Jika demikian, yang perlu diupayakan dalam proses pembelajaran adalah mengembangkan kemampuan ini, dan bukannya melemahkannya. Para pendidik yang memiliki kecendrungan untuk memberikan penjelasan yang “selengkapnya” tentang satu material pembelajaran akan cendrung melemahkan kemampuan subjek didik untuk berfikir. Sebaliknya, para pendidik yang lebih memusatkan pembelajarannya pada pemberian pengertian-pengertian atau konsep-konsep kunci yang fungsional akan mendorong subjek didiknya mengembangkan kemampuan berfikir mereka. Pembelajaran seperti ni akan menghadirkan tentangan psikologi bagi subjek didik untuk merumuskan kesimpulan-kesimpulannya secara mandiri.

2.5. Motif

Motif adalah keadaan dalam diri subjek didik yang mendorongnya untuk melakukan aktivitas-aktivitas tertentu. Motif boleh jadi timbul dari rangsangan luar, seperti pemberian hadiah bila seseorang dapat menyelesaikan satu tugas dengan baik. Motif semacam ini sering disebut motif ekstrensik. Tetapi tidak jarang pula motif tumbuh di dalam diri subjek didik sendiri yang disebut motif intrinsik. Misalnya, seorang subjek didik gemar membaca karena dia memang ingin mengetahui lebih dalam tentang sesuatu.

Dalam konteks belajar, motif intrinsik tentu selalu lebih baik, dan biasanya berjangka panjang. Tetapi dalam keadaan motif intrinsik tidak cukup potensial pada subjek didik, pendidik perlu menyiasati hadirnya motif-motif ekstrinsik. Motif ini, umpamanya, bisa dihadirkan melalui penciptaan suasana kompetitif di antara individu maupun kelompok subjek didik. Suasana ini akan mendorong subjek didik untuk berjuang atau berlomba melebihi yang lain.Namun demikian, pendidik harus memonitor suasana ini secara ketat agar tidak mengarah kepada hal-hal yang negatif.

Motif ekstrinsik bisa juga dihadirkan melalui siasat “self competition”, yakni menghadirkan grafik prestasi individual subjek didik.Melalui grafik ini, setiap subjek didik dapat melihat kemajuan-kemajuannya sendiri. Dan sekaligus membandingkannya dengan kemajuan yang dicapai teman-temannya.Dengan melihat grafik ini, subjek didik akan terdorong untuk meningkatkan prestasinya supaya tidak berada di bawah prestasi orang lain.