Showing posts with label populer. Show all posts
Showing posts with label populer. Show all posts

Thursday, January 7, 2010

ANALISIS PELUANG DAN PENGHAMBAT KESEMPATAN KERJA BAGI PENYANDANG CACAT

Pendahuluan
Salah satu masalah social yang patut kita berikan perhatian penuh adalah masalah kesejahteraan penyandang cacat. Sampai saat ini, penyandang cacat menjadi kaum yang tidak begitu diakui layaknya orang yang normal. Padahal ini sepatutnya bisa dihindari. Dalam UUD 1945, penyandang cacat merupakan warga Negara yang punya hak yang sama seperti halnya warga Negara yang lain. Diakui memang, saat ini belum ada semacam payung yang dapat dijadikan perlindungan oleh kaum yang mempunyai keterbatasan ini. Lemahnya Undang-Undang yang ada menyebabkan para penyandang cacat untuk mendapatkan haknya mengalami kesulitan. Dalam UU Negara RI Nomor 4 Tahun 1997 tentang Penyandang Cacat menyebutkan dengan jelas bahwa penyandang cacat mempunyai hak dan kewajiban dalam segala aspek kehidupan dan penghidupan. Mereka mempunyai aspek kesamaan kesempatan yang diwujudkan dalam kemudahan (aksesibilitas), memperoleh rehabilitasi,bantuan social dan pemeliharaan taraf kesejahteraan social. Namun, dilain pihak banyak penyandang cacat yang belum tahu dan kurang menyadari akan hak mereka sehingga mereka tidak mampu melaksanakan aktivitasnya sebagai orang normal lainnya sehingga yang kita lihat adalah banyak dari mereka hanya diam dan tidak menuntut akan haknya.

Istilah penyandang cacat itu sendiri adalah setiap orang yang mempunyai kelainan fisik dan / atau mental, yang dapat menganggu dan merupakan rintangan dan hambatan baginya untuk melakukan secara selayaknya yang meliputi cacat fisik, mental, fisik dan mental (UU No 4 Tahun 1997). Selama ini stigma masyarakat dan diskriminasi terhadap penyandang cacat sangat begitu jelas, lebih-lebih dalam hal pekerjaan. Penyandang cacat sering dianggap tidak bisa melaksanakan pekerjaan yang sesuai dengan standart orang normal, maka tidak heran jika banyak perusahan yang masih sanksi dengan kemampuan dan hasil kerja para penyandang cacat.

Goofman sebagaimana dikemukakan oleh Johnson (1990:47) mengungkapkan bahwa masalah social utama yang dihadapi penyandang cacat adalah bahwa mereka abnormal dalam tingkat yang sedemikian jelasanya sehingga orang lain tidak merasa enak atau tidak mampu berinteraksi dengannya. Lingkungan sekitar telah memberikan stigma kepada mereka bahwa mereka dipandang tida mampu dalam segala hal. Ini merupakan penyebab berbagai masalah yang perlu diselesaikan.

Dari hal tersebut di atas, kita bisa simpulkan bahwa permasalahan yang dihadapi penyandang cacat tidak sebatas pada penyandang cacat itu sendiri melainkan terkait dengan keluarga dan masyarakat. Adam dan Soifer dalam Browne (1982 :49) mengemukakan adanya kebutuhan dari penyandang cacat dan keluarganya. Penyandang cacat membutuhkan dukungan emosional, kesempatan untuk mengungkapkan perasaan dan kesempatan untuk memperoleh pengetahuan perilaku.

Panyandang cacat hanya membutuhkan label dan kepercayaan bahwa dia mampu untuk menjalankan peran sebagaimana orang normal lainnya. Kita semua tahu bahwa 3 Desember telah ditetapkan oleh PBB sebagai hari Internasional penyandang Cacat (HIPENCA). Oleh karena itu para penyandang cacat perlumenyadari akan haknya agar tidak lagi hidup dari belas kasihan dan bantuan pihak lain yang membuat penyandang cacat mudah dikendalikan orang laon, tetapi mempunyai kebebasan untuk menentukan kehendaknya sendiri.

Perumusan Masalah
Dalam artikel ini, penulis berusaha menjelaskan dan memaparkan apa saja yang menjadi peluang dan hambatan para penyandang cacat dalam memperoleh pekerjaan? Apa saja masalah yang melatar belakangi hal tersebut? Bagaimana solusi yang tepat sebagai alternative penyelesaian masalah ini?

Pembahasan

Masalah pekerjaan bagi penyandang cacat merupakan salah satu aspek yang sangat memprihatinkan. Dimana-mana seolah terjadi diskriminasi terhadap aksesibilitas penyandang cacat untuk memperoleh haknya. Selama ini stigma dan diskriminasi baik yang dilakukan pemerintah maupun masyarakat dapat kita lihat dalam pelatihan professional yang diberikan kepada penyandang cacat. Biasanya tuna netra hanya diberikan keterampilan memijat. Sedangkan tuna rungu diberi keterampilan seperti menjahit, melukis, dan mekanis, sementara tuna grahita diberi keterampilan olahraga. Padahal jika diberi kesempatan para penyandang cacat juga dapat berkiprah di bidang lainnya. Misalnya, para penyandang cacat jika dilatih manajemen, tidak menutup kemungkinan bagi mereka untuk menjadi pengelola usaha yang besar nantinya.

Kita patut untuk sedikit lega karena dalam pasal 14 UU no 4 Tahun 1997 menegsakan bahwa perusahaan negara seperti BUMN dan BUMD maupun perusahaan swasta harus mempekerjakan sekuarang kurangnya satu orang penyandang cacat yang memenuhi persyaratan dan kualifikasi pekerjaan yang bersangkutan untuk setiap 100 orang karyawan tanpa diskriminasi dalam pengupahan dan jabatan yang sama. Dalam pasal 28 dalam UU yang sama, menegaskan bahwa pelanggaran terhadap ketentuan pasal 14 diancam dengan pidana kurungan selama-lamanya 6 bulan dan atau denda setingi-tingginya 200 juta. Maka sebenarnya tidak ada alasan bagi penyelenggara jasa lapangan kerja untuk mempersulit penerimaan tenaga kerja penyandang cacat. Ini merupakan peluang bagi penyandang cacat untuk memperoleh haknya.

Dari hasil pengamatan yang penulis lakukan dan dapatkan di Balai Besar Rehabilitasi Vokasional Bina Daksa Cibinong dan Panti Sosial Bina Laras “ Phala Martha ” Sukabumi menunjukkan bahwa para penyandang cacat dilatih keahlian dalam bidang menjahit, elektronik, computer, pengolahan logam, menyanyi, keterampilan tangan seperti membuat keset, hiasan dinding, dan lain-lain. Dari sini sebenarnya kita tahu bahwa ternyata mereka jika dilatih akan bisa mengembangkan kemampuan dirinya, hanya saja mungkin keterbatasan bidang yang diajarkan kepada mereka.

Sebenarnya upaya mempersiapkan penyandang cacat menjadi tenaga kerja terampil dan produktif dan bermental wiraswasta telah banyak dilakukan oelh pemerintah melalui Departemen Sosial dalam upaya mewujudkan kesejahteraan kepada kaum people with disability ini, sebut saja melalui Balai Besar Rehabilitasi Vokasional Bina Daksa Cibinong dan Panti Sosial Bina Laras “ Phala Martha ” Sukabumi ini, paling tidak masih ada upaya bagaiamana menjadikan kaum ini untuk lebih bisa lebih maju. Melalui proses rehabilitasi social dan pelatihan keterampilan, mereka dipersiapkan untuk menjadi tenaga terdidik baik untuk magang kerja maupun berwiraswasta. Permasalahan yang terjadi adalah ketika pasca rehabilitasi dan pelatihan keterampilan, apakah mereka masih bisa diterima di dunia kerja atau tidak dengan kondisinya. Stigma dan diskriminasi seakan-akan masih melekat di masyarakat. Padahal sejatinya, masyarakat dan penyedia lapangan kerja harusnya lebih bijak dalam menyikapi permasalahan penyandang cacat ini. Pengalaman yang telah ditorehkan penyandang cacat yang telah bekerja di beberapa perusahaan ternama dan prestasinya harusnya bisa menjadikan kita terbuka bahwa sebenarnya people with disability ini juga punya potensi sebagaimana orang normal lainnya.

Dilain sisi, banyak aksesibiltas yang terkesan menyulitkan para penyandang cacat untuk memperoleh haknya. Pertama di lingkungan keluarga, ada keluarga yang memberikan kemudahan anggota keluarganya yang mengalami kekurangan itu untuk mengembangkan diri, bersosialisasi, membri motivasi dan sebagainya. Namun, dilain hal juga ada beberapa keluarga yang tidak memberikan kemudahan-kemudahan tersebut. Di masyarakat umumnya masih ada anggapan bahwa penyandang cacat tidak memiliki kemampuan kerja, masih menganggap rendah dan kurang menerima keberadaan para penyandang cacat dengan cara dikucilkan, dianggap lemah dan perlu dikasihani. Stigma dan stereotype inilah yang masih melekat di masyarakat tentang penyandang cacat tersebut.

Sementara kemudahan yang diberikan pemerintah dalam bentuk sarana dan prasarana umum belum maksimal. Hal tersebut bisa kita lihat dari anggaran yang pemerintah yang terkesan stag dan tidak naik setiap tahunnya. Sementara disisi lain jumlah penyandang cacat tercatat pada tahun 2008 adalah sebanyak 299.203 jiwa ( hasil pendataan penyandang masalah kesejahteraan social (PMKS) penyandang cacat berdasarkan klasifikasi ICF tahun 2008 ). Dalam hal ini, tentunya upaya untuk melaksanakan rehabilitasi menjadi tidak maksimal hasilnya. Harusnya anggaran yang ada berusaha mengakomodasi kebutuhan-kebutuhan yang semakin berkembang pesat seiring perkembangan zaman.

Kesimpulan dan Saran

Dari pemaparan penulis di depan, penulis dapat menarik kesimpulan bahwa sebenarnya mempunyai potensi dan kemampuan seperti halnya manusia normal lainnya. Seharusnya tidak ada diskriminasi dan stigma negative yang melekat pada mereka. Peluang kerja yang ada sekarang masih terbatas pada peraturan yang termaktub dalam UU No 4 Tahun 1997, tetapi realisasi dilapangan seakan-akan tidak ada.

Faktor penghambat kesempatan kerja bagi people with disability ini bisa dilihat dari dua factor, yaitu internal dan eksternal. Factor internal yang paling utama adalah keterbatasan kemampuan dan kesiapan kerja mereka terhadap tantangan dunia kerja. Faktor eksternal diantaranya minimnya aksesbilitas yang diperoleh baik dari orang tua, masyarakat serta penyedia lapangan kerja (lahan pekerjaan yang sempit) dan pusat rehabilitasi yang ada masih terkesan membatasi ruang gerak penyandang cacat ini. Stereotip negative terhadap kemampuan kerja penyandang cacat netra belum baik dalam artian masih diragukan. Selain factor tersebut, factor rendahnya kesempatan yang diberikan seperti kesempatan pendidikan, kesempatan untuk beraktualisasi atau mengambangkan potensi diri juga menjadi salah satu pengehambat kesempatan bagi mereka dalam memperoleh kesempatan kerja.

Saran yang dapat penulis sampaikan disini adalah hendaknya sosialisai program tentang siapa penyandang cacat lebih digencarkan ke semua aspek dan level kehidupan. Hal ini untuk mengatasi masalah stigma dan diskriminasi masyarakat terhadap mereka. Harus ada pemahaman yang positif bahwa penyandang cacat juga sama seperti manuasia normal lainnya tanpa ada pembedaan dalam hal apapun.

Kedua, harus ada upaya perlindungan hukum terhadap mereka dalam mengusahakan hak nya. Bukan hanya sebatas peraturan yang sifatnya formalitas, namun dalam pelaksanaanya harus ditegakkan mengingat realisasi dari UU no 4 Tahun 1997 dan PP No. 33/1998 masih jauh dari harapan. Untuk itu perlu adanya advokasi dan sosialisasi semua kalangan agar konseskuen melaksanakan ketentuan UU tersebut. Selain itu, perlu adanya rencana dan program penyuluhan serta kegiatan pendampingan bagi penyandang cacat agar mereka tumbuh kesadaran akan hak dan kewajibannya dalam kehidupan dan penghidupannya.

Daftar Pustaka

Anonim, Masalah Sosial di Indonesia: Kondisi dan Solusi (Jakarta : Pusat Penelitian Permasalahan Kesejahteraan Sosial, Departemen Sosial RI, 2004).

Anomin, Peraturan Perundang-Undangan, Aksesibilitas Penyandang Cacat ( Jakarta : Pusat Penelitian Permasalahan Kesejahteraan Sosial, Departemen Sosial RI, 2005).

Anonim, Expose Data PMKS Penyandang Cacat ( Jakarta : Departemen Sosial RI & Surveyor Indonesia, 2008).

Darmadi, Pemberdayaan Penyandang Cacat (dalam Majalah Gemari Edisi 105/Tahun Gemari X/Oktober 2009).

http://www.idlo.int/bandaacehawarness.htm

Saturday, December 6, 2008

Kekuatan ESQ

Kecerdasan Spiritual Emosional dianggap oleh banyak orang sebagai suatu yang paling penting dari sekian banyak kecerdasan, memiliki kekuatan mentransformasikan kehidupan, mempengaruhi peradaban dunia dan sejarahnya. Mengembangkan kecerdasan spiritual akan membuat manusia melihat sesuatu lebih tenang, meraih kembali antusiasme, menambah energi, menciptakan kegembiraan dan kegigihan yang merupakan ciri khas anak-anak.
Ada "sepuluh kebaikan" yang digabungkan untuk membentuk suatu kecerdasan emosional spiritual, yaitu:
1. Membuat "Gambar Besar"
Kejadian anda adalah suatu keajaiban dan anda akan belajar beberapa faktor yang luar biasa tentang diri anda dan hubungannya dengan alam. Setiap kita punya pengaruh terhadap sejarah.
2. Mengungkap Nilai Anda
Perilaku anda ditentukan oleh nilai-nilai dan prinsip-prinsip, yang memiliki pengaruh besar terhadap kemungkinan sukses anda dalam hidup. Mengungkapkan pembentukan dan pengembangan prinsip-prinsip dan akan mengenalkan pada pemikiran Nabi Muhammad SAW, Budha, dan lain sebagainya.
3. Visi dan Tujuan Hidup Anda
Mengungkapkan kekuatan visi dan kemampuan anda untuk merencanakan, yang dapat mentransfer hidup anda menjadi sukses. Dengan tujuan yang jelas, hidup anda akan mencapai arti dan arah, sehingga membuat anda menjadi lebih sehat, kuat dan percaya diri.
4. Kasih Sayang: Memahami Diri Anda dan Orang Lain
Sesungguhnya diri anda mengagumkan. Dengan latihan dan permainan khusus yang berinteraksi dengan orang lain akan mendemonstrasikan pada anda betapa kreatif dan uniknya anda, sehingga memunculkan kualitas spiritual untuk mengembangkan kasih sayang dan pengertian.
5. Memberi dan Menerima! Amal dan Syukur
Kebaikan kembar, yaitu Amal dan Syukur akan memperbesar kecerdasan spiritual anda beberapa kali lipat. Jiwa anda belajar bernafas kedalam (syukur) dan menghembuskan nafas keluar (amal).
6. Kekuatan dari Tertawa
Tertawa adalah kualitas vital dari kecerdasan spiritual dan memberi banyak manfaat termasuk mengurangi level stress, kehidupan yang ceria dan bahagia, sehingga hidup lebih lama dan sehat.
7. Menuju Taman Bermain Anak
Semakin cerdas spiritual anda, akan menunjukkan kepolosan diri anda seperti anak-anak. Seperti layaknya karakter khas anak-anak, yaitu keceriaan, kegembiraan, spontanitas, antusias dan semangat berpetualang akan meningkat.
8. Kekuatan ritual
Kekuatan ritual yang dipelajari dan dilaksanakan serta menciptakan ritual sendiri, akan menimbulkan efek besar terhadap setiap yang ada pada otak, tubuh dan jiwa anda.
9. Damai
Mempelajari teknik mengurangi dan menghilangkan stress dan mengolah lingkungan internal yang tenang dan tenteram, sehingga akan terbebas dari gangguan mental, kecemasan dan stress.
10. Yang Anda Butuhkan adalah Cinta
Memperkenalkan kekuatan cinta. Dengan membaca kisah petualangan, godaan dan kesengsaraan, kematian dan harapan, memberikan teknik dan pendekatan untuk meringankan penderitaan, rasa sakit dan putus asa.

Sifat-sifat Pemimpin Luar Biasa

Karakter anda atau kemampuan anda. Mereka ingin memastikan apakah anda adalah seseorang yang pantas mereka ikuti, atau apakah anda memiliki kemampuan untuk membawa mereka pada keberhasilan. Tentu ada banyak pertimbangan, namun kali ini kita akan memusatkan perhatian pada diskusi untuk mengetahui macam-macam karakter yang membuat orang lain mengikuti kepemimpinan anda.
1. Integritas.
Integritas adalah melakukan sesuatu sesuai dengan apa yang anda katakan akan anda lakukan. Integritas membuat anda dapat dipercaya. Integritas membuat orang lain mengandalkan anda. Integritas adalah penepatan janji-janji anda.Satu hal yang membuat sebagian besar orang enggan mengikuti anda adalah bila mereka tak sepenuhnya merasa yakin bahwa anda akan membawa mereka menuju ke tujuan yang anda janjikan. Apakah anda dikenal sebagai seseorang yang mempunyai integritas? Bila ya, maka anda layak menjadi seorang pemimpin yang luar biasa.
2 Optimisme.
Takkan ada orang yang mau mengikuti anda bila anda memandang suram masa depan. Mereka hanya mau mengikuti seseorang yang bisa melihat masa depan dan memberitahukan pada mereka bahwa di depan sana terbentang tempat yang lebih baik, dan mereka dapat mencapai tempat itu. Apakah anda melihat gelas itu separuh kosong? Bila ya, anda adalah seorang pesimis. Apakah anda melihat gelas itu separuh berisi? Bila ya, anda adalah seorang optimis.
Apakah anda melihatnya sebagai segelas penuh; yaitu separuh berisi air dan separuh lagi berisi udara? Maka anda adalah seorang yang super optimis. Apakah anda dikenal sebagai seorang yang optimis? Bila ya, anda layak menjadi seorang pemimpin yang luar biasa.
3. Menyukai perubahan.
Pemimpin adalah mereka yang melihat adanya kebutuhan akan perubahan, bahkan mereka bersedia untuk memicu perubahan itu. Sedangkan pengikut lebih suka untuk tinggal di tempat mereka sendiri. Pemimpin melihat adanya kebaikan di balik perubahan dan mengkomunikasikanny a dengan para pengikut mereka. Jika anda tidak berubah, anda takkan tumbuh. Apakah anda anda dikenal sebagai seseorang yang memicu perubahan? Jika ya, anda layak menjadi seorang pemimpin yang luar biasa.
4. Berani menghadapi resiko.
Kapan pun kita mencoba sesuatu yang baru, kita mengambil resiko. Keberanian untuk mengambil resiko adalah bagian dari pertumbuhan yang teramat penting.Kebanyak orang menghindari resiko. Karena itu, mereka bukan pemimpin. Para pemimpin menghitung resiko dan keuntungan yang ada di balik resiko. Mereka mengkomunikasikanny a pada pengikut mereka dan melangkah pada hari esok yang lebih baik. Apakah anda dikenal sebagai seorang yang berani mengambil resiko? Jika ya, anda layak menjadi seorang pemimpin yang luar biasa.
5. Ulet.
Kecenderungan dari pengikut adalah mereka menyerah saat sesuatunya menjadi sulit. Ketika mereka mencoba untuk yang ke dua atau ke tiga kalinya dan gagal, mereka lalu mencanangkan motto, "Jika anda gagal di langkah pertama, sudahlah menyerahlah dan lakukan sesuatu yang lain." Jelas saja mereka melakukan itu, karena mereka bukan pemimpin. Para pemimpin itu tahu apa yang ada di balik tembok batu, dan mereka akan selalu berusaha menggapainya. Lalu mereka mengajak orang lain untuk terus berusaha. Apakah anda dikenal sebagai seseorang yang ulet, tangguh, dan berdaya tahan tinggi? Jika ya, anda layak menjadi seorang pemimpin yang luar biasa.
6. Katalistis.
Seorang pemimpin adalah seseorang yang secara luar biasa mampu menggerakkan orang lain untuk melangkah. Mereka bisa mengajak orang lain keluar dari zone kenyamanan dan bergerak menuju tujuan mereka. Mereka mampu membangkitkan gairah, antusiasme, dan tindakan dari para pengikut. Apakah anda dikenal sebagai seseorang yang mampu menggerakkan orang lain? Jika ya, anda layak menjadi seorang pemimpin yang luar biasa.
7. Berdedikasi/ komit.
Para pengikut menginginkan seseorang yang lebih mencurahkan perhatian dan komit ketimbang diri mereka sendiri. Pengikut akan mengikuti pemimpin yang senantiasa bekerja dan berdedikasi karena mereka melihat betapa pentingnya pencapaian tugas-tugas dan tujuan. Apakah anda dikenal sebagai seseorang yang komit dan senantiasa mencurahkan perhatian anda pada tujuan? Jika ya, anda layak menjadi seorang pemimpin yang luar biasa.
Sumber : Character Traits of Extraordinary Leaders

Tuesday, November 18, 2008

Meditasi Sebagai Alternatif Dalam Penyembuhan Ketergantungan Narkoba

Kesadaran adalah rasa awas mengenai diri sendiri dan lingkungan sekitar. Dari pengertian tersebut dapat kita artikan bahwa kesadaran mempunyai dua komponen. Pertama adalah pemantauan diri sendiri dan lingkungan sehingga persepsi, memori dan proses berpikir diwujudkan dengan kesadaran. Kedua adalah mengendalikan diri sendiri dari lingkungan sehingga kita mampu memulai dan mengakhiri aktivitas perilaku dan kognitif yang kita lakukan. Tingkat kesadaran seseorang tidaklah sepenuhnya sama, akan tetapi mengalami perubahan. Perubahan tersebut terjadi jika terdapat perubahan dari pola fungsi mental yang sebelumnya kelihatan lazim menjadi perubahan yang berbeda dari biasanya. Tidak semua tindakan dibimbing oleh keputusan sadar dan juga tidak semua pemecahan terhadap masalah di bawa di tingkat kesadaran. Salah satu pendapat psikologi modern adalah bahwa peristiwa mental melibatkan proses sadar dan tak sadar, banyak orang melakukan keputusan diluar dari kesadarannya. Sehingga kesadaran sesungguhnya memiliki peranan penting yaitu mengarahkan dan mengendalikan perilaku seseorang. Seseorang mempunyai kesadaran yang stabil akan melakukan segala sesuatu berdasarkan kemauan dan kemampuanya, namun tetap pada koridor yang benar secara akal. Karena keterbatasan kemampuan yang seseorang miliki, banyak seseorang yang lari dari masalah yang dihadapi dengan mengkonsumsi obat psikoaktif / narkoba, dengan dalih dapat meningkatkan kesadaran dan menyelesaikan masalah yang mereka hadapi.
Padahal, obat psikoaktif adalah senyawa yang dapat mengubah persepsi, suasana hati,pikiran, ingatan bahkan perilku manusia. Pada saat sekarang ini banyak orang yang menggunakan obat psikoaktif tersebut dengan tujuan untuk meningkatkan kesadaran seperti Benzodiazepin,obat ini berfungsi menurunkan kecemasan menurunkan ketegangan serta gangguan fisik yang berhubungan dengan stress Penggunaan obat-obat itu berfungsi untuk mengubah kesadaran,mengurangi rasa sakit dan ketidak nyamanan serta melarikan diri secara psikologis. Banyak orang-orang mengasumsikan bahwa penggunaan obat-obat tersebut dapat mengatasi masalah yang sedang mereka hadapi. Padahal penggunan obat-obatan tersebut sesungguhnya merusak sistem saraf pusat, sehingga akan mengalami ketergantungan psikologis dan fisik. Ketergantungan psikologis maksudnya adalah jika sesorang sudah memiliki kebiasaan memakai obat untuk menghilangkan kecemasan maka dapat mengalami ketergantungan kepada obat tersebut. Sedangkan ketergantungan fisik atau adiksi adalah pemakaian yang terus-menerus dengan dosis yang bertambah besar utnuk mendapatkan efek yang sama. Jika hal tersebut tidak dilakukan maka maka seseorang tersebut akan mengalami reaksi fisik dan psikologis yang tidak menyenangkan, dan jalan satu-satunya adalah seseorang tersebut akan berusaha mendapatkan obat-obatan tersebut untuk mendapatkan kesenangan.
Meditasi adalah mengendalikan diri dengan memberikan perhatian dengan memusatkan pikiran pada suatu pokok permasalahan. Proses ini merupakan upaya untuk mengubah kesadaran dengan ritual atau latihan tertentu. Teknik meditasi ini sangat efektif untuk menimbulkan relaksasi dan menurunkan kesadaran fisiologis kerana latihan ini bisa membantu dalam mengatur pernafasan, membatasi perhatian terhadap hal-hal yang mengganggu pikiran. Dengan begitu terjadi penurunan yang bermakna terhadap kecepatan pernafasan, penurunan konsumsi oksigen, kecepatan jantung, tekanan darah, dan konsentrasi darah menurun. Selain itu, teknik meditasi ini membantu mengatasi kecemasan kronis dan meningkatkan kepercayaan diri.
Dalam buku Meditasi Mencapai Hidup Bahagia karangan Prof Dr dr Luh Ketut Suryani, psikiater dan dosen Fakultas Kedokteran Universitas Udayana, meditasi diartikan sebagai proses pemusatan perhatian, yang menyebar menjadi satu perhatian, yang dilakukan secara sadar. Dengan meditasi, seseorang bisa belajar menjalani hidup dengan baik atas dasar keinginannya sendiri dan mencoba mengatasi masalah yang dihadapi. Apa pun yang terjadi selalu diterima dan disyukuri. Perasaan inilah yang menimbulkan keinginan untuk menikmati hidup dari sisi baiknya. Akhirnya, hidup menjadi terasa menyenangkan. Dengan konsep itu, maka meditasi dapat dijadikan alternatif dalam penyembuhan ketergantungan narkoba, hal tersebut bisa kita lihat dengan banyaknya lembaga sosial atau tempat rehabilitasi narkoba, menurut sumber yang saya baca kebanyakan dari lembaga sosial tersebut menggunakan meditasi sebagai alternatif dalam menyembuhkan seseorang yang mengalami ketergantungan narkoba.
Referensi :
• Atkinson,RitaL, dkk.Pengantar Psikologi Jilid 1.Batam,Interaksa.
• ------------------------.Pengantar Psikologi Jilid 2. Batam,Interaksa.

Kekerasan Dalam Demonstrasi; Boleh atau Tidak ?

Dalam wacana demokrasi istilah kebebasan sangatlah melekat. Kebebasan mengemukan pendapat, menyalurkan berbagai aspirasi dan sebagai kritik atas ketidakcocokan atau kebijakan yang selama ini ada atau lebih kita kenal sebagai demonstrasi.
Bila memerhatikan tontonan demo protes bersinambungan selama beberapa bulan terakhir, kita bisa menyimpulkan demonstrasi-demonstrasi itu bentuk protes masyarakat terhadap situasi yang ada. Pada waktu ini yang berkembang baru 'keresahan' sosial. Bukan 'kerusuhan' sosial. Namun, memang sudah harus sama-sama diperhatikan, diteliti, kemudian ditanggapi karena demonstrasi mulai menjadi tradisi. Dalam masyarakat demokratis, demonstrasi memang menjadi hak warga. Tetapi tentunya ada batasannya agar proses demontrasi berjalan tertib dan teratur.
Demonstrasi adalah tindakan untuk menyampaikan penolakan, kritik, ketidakberpihakan, mengajari hal-hal yang dianggap sebuah penyimpangan demi kemajuan. Demontrasi yang terjadi sekarang adalah dengan cara jalan bersama-sama dengan membawa spanduk berisikan tuntutan disertai dengan teriakan / orasi , membakar ban, aksi teatrikal, merusak pagar dan fasislitas umum di jalan-jalan,dan banyak lagi tindakan-tindakan yang selama ini melekat pada kata demonstrasi. Jika cara seperti itu masih tetap dilakukan tentunya akan berdampak kearah negatif, sehingga yang menjadi tujuan dari demontrasi menjadi kabur dan terkesan anarkis. Seharusnya demonstrasi juga “mendemonstrasikan” apa yang seharusnya dilakukan oleh pihak yang menjadi objek protes bukan mengedepankan emosi sehingga memicu terjadinya agresi atau kekerasan.
Banyak sebab yang menjadikan demonstrasi menjadi anarkis, antara lain adalah dengan mengedapankan emosi sehingga para demonstran tidak menghargai tugas yang ditanggung oleh polisi. Mereka merasa hebat dan puas jika mampu merobohkan pertahanan aparat. Mereka menganggap bahwa apa yang menjadi tuntutan aksi protesnya tidak diperhatikan dan ditanggapi sehingga anarkisme terjadi. Anarkisme tersebut antara lain dengan melakukan kekerasan terhadap orang yang menghalangi aksi protesnya sehingga tidak jarang menimbulkan korban jiwa seperti yang dilakukan oleh masa FPI dalam aksi demonya di kawasan monas sekitar bulan Juni beberapa waktu lalu sebagai aksi ketidakpuasan akan keputusan pemerintah tentang ahmadiyah. Ironisnya, yang menjadi korban tersebut adalah mereka yang tidak tahu apa-apa mengenai hal tersebut. Sungguhlah menyedihkan jika hal tersebut terus terjadi.
Sesungguhnya kekerasan dalam demonstrasi adalah salah satu indikator tingkat kesehatan mental yang memburuk di masyarakat. Para oknum pelaku kekerasan kebanyakan mengedepankan ego dan pendirian mereka tanpa memperhatikan dampak yang ditimbulkan akibat adanya tindak agresi tersebut.
Oleh sebab itu kekerasan dalam demonstasi sangatlah tidak bisa diterima dengan berbagai alas an. karena kekerasan tersebut lebih banyak menyeret manusia masuk kelorong kegelapan, dan menyisakan parut yang menorehkan gangguan selanjutnya. Ada yang dapat menutupnya lewat kebangkitan kembali yang lebih baik, namun banyak hanya menyisakan jejak gelap selanjutnya yaitu ketidakberdayaan. Menurut Nalimi muhdi seorang Psikiater, dalam jawa pos menyebutkan bahwa kekerasan dalam Demonstrasi kerap tampil lewat gincu warna-warni, amat muram, atau menyilaukan mata. Meskipun akibat fatal kekerasan adalah pembunuhan dan keganasan perang. Dua akibat tersebut pastilah sangat memprihatinkan karena berkenaan dengan hilangnya nyawa manusia.
Demo itu baik dan perlu serta boleh. Pemerintah juga rnengizinkan, namun harus tahu aturannya. Demo dilakukan untuk mengemukakan tuntutan, bukan menambah masalah negeri ini.
Menurut saya akan lebih baik jika tidak berdemo lebih lebih dengan kekerasan, tetapi pilih perwakilan untuk berunding dan menyampaikan tuntutannya. Mungkin cara ini lebih bijaksana dan adil yang akhirnya negara lebih aman, tenteram dan damai. Agar tercipta demo yang sehat, tertib dan saling menguntungkan maka antara demonstran dan pihak yang didemo harus ada kerja sama, perhatian serta hubungan timbal balik.
Suhariyanto / psikologi B / 208000018
Referensi :
www.suaramerdeka.com
www.jawapos.com
www.indosiar.com