Tuesday, November 18, 2008

BERPIKIR JAUH KEDEPAN

Orang bijak adalah dia yang hari ini mengerjakan apa yang dikerjakan orang bodoh akan lakukan tiga hari kemudian. ( Abdullah bin Mubarok )
Kisah ini terjadi di masa perang saudara yang penuh gejolak, sehingga sebuah kerajaan harus terpecah menjadi beberapa bagian. Seorang budak melarikan diridari negeri asalnya dan mengungsi kenegara tetangganya.
Pemiik budak itu adalah penguasa negeri tersebut. Ia menawarkan imbalan berupa 50 0ns emas murni yang jauh lebih mahal dari harga budak itu-untuk siapa saja yang dapat mengembalikan pelarian itu.
Raja dari negeri yang dituju budak itu menolak imbalan dan tidak mau menyerahkan budak tersebut. Raja itu kemudian memutuskan untuk menawarkan sebuah kota berukuran sedang sebagai pengganti budak itu.
“ Tuanku, apakah budak itu sedemikian tinggi harganya?”dengan hati-hati seorang menterinya menasehati.
“ kamu harus melihat gambaran yang lebih besar”, kata tuannya.” Untuk dapat berhasol memerintah suatu negara, aku tidak boleh terlalu memperhatikan masalah keuangan. Sebaliknya, aku harus tetap berpegang pada peraturan. Apabila tidak, maka rakyatku tidak akan menghormatiku maupun mentaati hukum yang berlaku. Sebagai akibatnya, negeriku akan menjadi kacau dan pada akhirnya akan hancur. Apabila seseorang menantang kekuasaanku, kau harus menghukumnya dengan biaya berapapun agar yanglain mendapatkan pelajaran yang berharga. Janganmain-main dengan tuanmu. Bukan saja rakyatku tidak akan pernah melanggar peraturan, mereka juga akan menghormatiku karena bersikap serius dalam menegakkan hukum. Oleh sebab itu, menyerahkan sebuah kota untuk mencapai tujuan tersebut tidaklah terlalau mahal.
Inspirasi
Seorang pemimpin harus mempunyai berbagai sifat yang dapat membibingnya dalam memutuskan segala sesuatu demi kebaikan orang-orang yang dipimpinnya. Dia harus mengenal pribadi-pribadi dalam kelompok masyarakatnya. Mengenal teman-temannya dengan baik. Jadi, dia tahu apa yang bisa diharapkan apa keinginan orang-orang disekitarnya. Di samping itu, dia juga bisa memposisikan mereka nantinya ditempat yang tepat untuk menunjaang keberhasilannya. Ujung-ujungnya juga si pemimpin tidak berlebihan dalam mengharapkan apa yang bisa dilakukan oleh kelompoknya.
Pemimpin yang baik akan memusatkan perhatiannya pada sinergi. Kebersamaan dan kerjasama di dalam kelompoknya. Tidak peduli hasilnya apa, tapi ketika ada kerjasama yang baik dalam kelompok, semua akan tetap bernilai baik. Tapi, meski berhasil, tanpa danya kerjasama dalam kelompok, semua akan menjadi hampa. Dengan sendirninya, ketika ada kerjasama, semua kegagalan dapat ditoleransi. Semua kegagalan akan terasa mudah diperbaiki.
Pemimpin mengkomunikasikan harapan dan kekecewaan yang dia rasakan. Karena dia adalah bagian dari kelompok. Dia berhak untuk mengutarakan unek-uneknya sendiri. Dia berhak membicarakan kesedihannya, dan berhak membagi kebahagiaan dengan yang lainnya.tapi, ketika dia membagikan semua isi hati dengan semua anggota kelompok, bukan berarti semua selesai, selanjutnya semua harus kembali pada kondisi yang bersemangat mencapai tujuan bersama.

STRES DAN COPING

Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering mendengar istilah stres, bahkan kita sering mengalami stress. Sebagai seorang mahasiswa mungkin kita akan merasa stres jika kita mendapatkan tugas yang banyak dengan deadline yang sama, nilai ujian kita jelek, atau hubungan antar teman yang kurang harmonis. Namun, apa yang yang dianggap stres oleh sebagian orang, mungkin menurut orang lain beda. Setiap orang mempunyai kemampuan yang berbeda dalam mengatasi setiap masalah yang mereka hadapi. Bahkan, reaksi orang terhadap stres yang mereka hadapi sangatlah berbeda. Sebagian orang yang menghadapi stres mengalami masalah psikologis atau fisik yang cukup serius, sebagian orang tidak mengalami masalah apa-apa, bahkan ada beberapa orang menganggap bahwa peristiwa tersebut sebagai hal yang menantang dan menarik baginya.

Banyak ahli yang mendefinisikan apa itu stres. Menurut Lazarus dan Folkman, stres adalah kondisi yang tidak menyenangkan dimana manusia melihat adanya tuntutan dalam suatu situasi sebagai beban atau diluar batasan kemampuan mereka untuk memenuhi tuntutan tersebut. Sedangkan menurut Den Weitan, stres merupakan reaksi fisiologis dan psikolois yang terjdi ketika seseorang merasakan ketidakseimbangan antara tuntutan yang dihadapi dengan keadaan yang terjadi. Dengan demikian stres mengakibatkan pengaruh terhadap seseorang yang dianggap tidak mampu dalam menyelesaikan atau menyeimbangkan keadaan yang dihadapi pada dirinya.

Stres terjadi jika orang dihadapkan dengan peristiwa yang mereka rasakan sebagai mengancam kesehatan fisik dan psikologisnya. Peristiwa tersebut kita kenal dengan stresor dan respon terhadap peristiwa tersebut kita sebut respon stres. (Wijaya Kusuma, 2005 ). Peristiwa yang dianggap stres terjadi jika sudah berada diluar kendali, tidak dapat diprediksi, dan menantang batas-batas kemampuan manusia sehingga menimbulkan konflik internal dalam diri sesorang karena tujuan yang bertentangan. Menurut teori psikoanalisa setiap manusia memilki konflik bawah sadar, dan beberapa orang menganggap konflik tersebut lebih berat dan banyak jumlahnya sehingga menganggap konflik tersebut sebagai stres. Apabila konflik tersebut tidak dapat ditangani maka akan menyebabkan ketidaknyamanan dalam diri individu dan memicu timbulnya stres.

Secara umum penyebab utama stres ada tiga yaitu dari lingkungan, badan, dan pikiran. Faktor lingkungan merupakan faktor yang paling potensial karena lingkungan menuntut kita untuk bisa memenuhi tantangan yang ada misalnya bencana alam, kemacetan, dikejar waktu, hubungan antar manusia, masalah pekerjaan, dan terkadang kita dituntut untuk menyesuaikan diri terhadap perubahan lingkungan, keuangan, dan hilangnya orang yang kita cintai. Faktor yang kedua terjadi saat terjadi perubahan faali atau hormon dalam tubuh kita sebagai contoh perubahan saat masa remaja dimana terjadi fluktuasi hormon tertentu. Selain itu, terjadinya penyakit, makanan yang tidak sehat, kurang olahraga dan kurang tidur memacu timbulnya stres. Faktor pikiran merupakan faktor yang sering dikaitkan dengan timbulnya stres. Biasanya pikiran yang mengganggu adalah pikiran yang negatif yang selalu menghinggapi dalam benak kita setiap waktu, misalnya ketakutan yang berlebihan akan menimbulkan

Stres mempunyai dampak yang serius bagi orang yang menghadapinya jika tidak segera ditangani. Secara psikologis, stres akan menyebabkan kecemasan, kemarahan dan agresi, apati dan depresi dan gangguan kognitif. Emosi dan rangsangan psikologis di atas sangatlah tidak nyaman sehingga memacu setiap orang yang mengalami stres untuk melakukan sesuatu guna menghilangkannya. Proses yang digunakan sesorang yang menangani tuntutan yang mengalami stres dinamakan coping (kemampuan mengatasi masalah). Coping kita kenal mempunyai dua bentuk utama yaitu strategi terfokus masalah dan strategi terfokus emosi. Orang yang memfokuskan pada masalah atau situasi spesifik yang terjadi , sambil mencoba menemukan cara untuk merubahnya atau menghindarinya dikemudian hari berarti menggunakan strategi terfokus masalah dalam menyelesaikan stresnya, sedangkan orang yang menghilangkan emosi yang terkait dengan situasi stres berarti menggunakan strategi fokus emosi. Namun, ada banyak orang yang mengguanakan keduanya untuk mengatasi situasi stres yang dialaminya.

Dalam kasus ini penulis mencoba meganalisa hasil wawancara yang telah penulis lakukan dengan seorang mahasiswa Paramadina. Dia merupakan pendatang di kota Jakarta dan berusia 20 tahun. Dalam kehidupannya sekarang dia berusaha beradatasi dengan lingkungan barunya yang sangat berbeda dengan lingkungan sebelumnya.

Teknik wawancara yang saya lakukan tanpa adanya persiapan, artinya tanpa adanya janji terlebih dahulu karena penulis menganggap bahwa jawaban yang diberikan akan mengalir apa adanya, tanpa adanya unsur kebohongan dalam menjawabnya.

Dari wawancara tersebut, penulis mendapatkan empat macam stres yang dialaminya selama beberapa hari terakhir, yaitu sebagai berikut :

1. Banyaknya tugas kuliah yang menuntut sempurna. Sementara yang mereka alami sekarang berbeda dengan kondisi sebelumnya. Dulunya, mereka berada dalam lingkungan keluarga yang senantiasa membantunya setiap saat, dan sekarang dituntut mandiri karena jauh dari orang tua. Masalah ini dia selesaikan dengan cara berusaha menyelasaikan tugas tersebut dengan bertanya kepada teman-temanya yang dianggap pintar dan berusaha mencari referensi yang terkait dengan tugas tersebut.

2. Belum bisa beradaptasi dengan lingkuangan yang baru. Untuk mengahadapi masalah yang satu ini, dia selesaikan dengan cara berusaha menyesuaikan diri dengan lingkungan yang baru dan bila tidak ada hasilnya maka mencari jalan aman adalah satu-satunya yaitu dengan menghindari lingkungan tersebut dan mencari lingkungan yang cocok dan membuat nyaman.

3. Masalah keuangan yang selalu defisit. Untuk masalah yang satu ini diselesaikan dengan cara menyusun anggaran, menghemat pengeluaran, mencari peluang bisnis. Namun, terkadang jika hal tersebut tidak bisa teratasi maka jalan yang ditempuh adalah memboroskan uang untuk memuaskan diri.

4. Prestasi belajar yang menurun merupakan masalah yang menyebabkan stres terakhir. Karena dengan prestasi menurun menimbulkan kecemasan dan ketakutan tidak bisa memenuhi target yang dia harapkan. Respons yang dilakukan adalah dengan belajar, instrospeksi diri tentang materi yang belum dikuasai.

Dari hasil diatas dapat disimpulkan bahwa yang dilakukan untuk mengatasi masalah termasuk dalam startegi terfokus masalah karena hampir semua yang dilakukan untuk mengatasi stres yang dialaminya dengan cara mementukan masalah, menciptakan pemecahan alternatif, dan memilih alternatif tersebut menjadi suatu hal yang bermanfaat.

Sumber bacaan :

Kusuma, Wijaya.2005. Pengantar Psikologi, Edisi Kesebelas, jilid 2. Batam: PT. Interaksara

Wade, Carol dan Carol Tavris.2007. Psikologi,Edisi kesembilan, jilid 2. : PT. Gelora Aksara Pratama

Thursday, November 13, 2008

Stres dan Depresi:

"Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta..." (QS. Thaahaa, 20:124)

"Barangsiapa yang Allah menghendaki akan memberikan kepadanya petunjuk, niscaya Dia melapangkan dadanya untuk (memeluk agama) Islam. Dan barangsiapa yang dikehendaki Allah kesesatannya, niscaya Allah menjadikan dadanya sesak lagi sempit, seolah-olah ia sedang mendaki langit. Begitulah Allah menimpakan siksa kepada orang-orang yang tidak beriman. " (QS. Al An'aam, 6:125)

Keengganan orang-orang yang jauh dari agama untuk taat kepada Allah menyebabkan mereka terus-menerus menderita perasaan tidak nyaman, khawatir dan stres. Akibatnya, mereka terkena berbagai ragam penyakit kejiwaan yang mewujud pada keadaan raga mereka. Tubuh mereka lebih cepat mengalami kerusakan, dan mereka mengalami penuaan yang cepat dan melemah.

Sebaliknya, karena orang-orang beriman sehat secara kejiwaan, mereka tidak terkena stres, atau berkecil hati, dan jasmani mereka senantiasa prima dan sehat. Pengaruh baik akibat ketundukan mereka kepada Allah, tawakal mereka kepada-Nya dan kepribadian kokoh mereka, kemampuan melihat kebaikan dalam segala hal, dan ridha dengan apa yang terjadi sembari berharap akan janji-Nya, tercermin dalam penampilan raga mereka. Hal ini tentu saja dialami oleh mereka yang menjalani hidupnya sesuai ajaran Al Qur'an, dan yang benar-benar memahami agama. Tentu saja mereka pun dapat menderita sakit dan pada akhirnya mengalami penuaan, namun proses alamiah ini tidak disertai dengan kerusakan pada sisi kejiwaan sebagaimana yang dialami oleh selainnya.

Stres dan depresi, yang dianggap sebagai penyakit zaman kita, tidak hanya berbahaya secara kejiwaan, tapi juga mewujud dalam berbagai kerusakan tubuh. Gangguan umum yang terkait dengan stres dan depresi adalah beberapa bentuk penyakit kejiwaan, ketergantungan pada obat terlarang, gangguan tidur, gangguan pada kulit, perut dan tekanan darah, pilek, migrain [sakit kepala berdenyut yang terjadi pada salah satu sisi kepala dan umumnya disertai mual dan gangguan penglihatan] , sejumlah penyakit tulang, ketidakseimbangan ginjal, kesulitan bernapas, alergi, serangan jantung, dan pembengkakan otak. Tentu saja stres dan depresi bukanlah satu-satunya penyebab semua ini, namun secara ilmiah telah dibuktikan bahwa penyebab gangguan-gangguan kesehatan semacam itu biasanya bersifat kejiwaan.

Stres, yang menimpa begitu banyak orang, adalah suatu keadaan batin yang diliputi kekhawatiran akibat perasaan seperti takut, tidak aman, ledakan perasaan yang berlebihan, cemas dan berbagai tekanan lainnya, yang merusak keseimbangan tubuh. Ketika seseorang menderita stres, tubuhnya bereaksi dan membangkitkan tanda bahaya, sehingga memicu terjadinya beragam reaksi biokimia di dalam tubuh: Kadar adrenalin dalam aliran darah meningkat; penggunaan energi dan reaksi tubuh mencapai titik tertinggi; gula, kolesterol dan asam-asam lemak tersalurkan ke dalam aliran darah; tekanan darah meningkat dan denyutnya mengalami percepatan. Ketika glukosa tersalurkan ke otak, kadar kolesterol naik, dan semua ini memunculkan masalah bagi tubuh.

Oleh karena stres yang parah, khususnya, mengubah fungsi-fungsi normal tubuh, hal ini dapat berakibat sangat buruk. Akibat stres, kadar adrenalin dan kortisol di dalam tubuh meningkat di atas batas normal. Peningkatan kadar kortisol dalam rentang waktu lama berujung pada kemunculan dini gangguan-gangguan seperti diabetes, penyakit jantung, tekanan darah tinggi, kanker, luka pada permukaan dalam dinding saluran pencernaan, penyakit pernapasan, eksim dan psoriasis [ sejenis penyakit kulit yang ditandai oleh pembentukan bintik-bintik atau daerah berwarna kemerahan pada kulit, yang tertutupi oleh lapisan tanduk berwarna perak] . Kadar kortisol yang tinggi dapat berdampak pada terbunuhnya sel-sel otak. Sejumlah gangguan akibat stres digambarkan dalam sebuah sumber sebagaimana berikut:

Terdapat kaitan penting antara stres dan tegang [penegangan], serta rasa sakit yang ditimbulkannya. Penegangan yang diakibatkan stres berdampak pada penyempitan pembuluh darah nadi, gangguan pada aliran darah ke daerah-daerah tertentu di kepala dan penurunan jumlah darah yang mengalir ke daerah tersebut. Jika suatu jaringan mengalami kekurangan darah hal ini akan langsung berakibat pada rasa sakit, sebab suatu jaringan yang di satu sisi mengalami penegangan mungkin sedang membutuhkan darah dalam jumlah banyak dan di sisi lain telah mendapatkan pasokan darah dalam jumlah yang kurang akan merangsang ujung-ujung saraf penerima rasa sakit. Di saat yang sama zat-zat seperti adrenalin dan norepinefrin, yang mempengaruhi sistem saraf selama stres berlangsung, juga dikeluarkan. Hal ini secara langsung atau tidak langsung meningkatkan dan mempercepat penegangan otot. Demikianlah, rasa sakit berakibat pada penegangan, penegangan pada kecemasan, dan kecemasan memperparah rasa sakit.

Akan tetapi, salah satu dampak paling merusak dari stres adalah serangan jantung. Penelitian menunjukkan bahwa orang yang agresif, khawatir, cemas, tidak sabar, dengki, suka memusuhi dan mudah tersinggung memiliki peluang terkena serangan jantung jauh lebih besar daripada orang yang tidak memiliki kecenderungan sifat-sifat tersebut.

Alasannya adalah bahwa rangsangan berlebihan pada sistem saraf simpatetik [yakni sistem saraf yang mengatur percepatan denyut jantung, perluasan bronkia, penghambatan otot-otot halus sistem pencernaan makanan, dsb.], yang dimulai oleh hipotalamus, juga mengakibatkan pengeluaran insulin yang berlebihan, sehingga menyebabkan penimbunan kadar insulin dalam darah. Ini adalah permasalahan yang teramat penting. Sebab, tak satu pun keadaan yang berujung pada penyakit jantung koroner memainkan peran yang sedemikian paling penting dan sedemikian berbahaya sebagaimana kelebihan insulin dalam darah.

Para ilmuwan telah mengetahui bahwa semakin parah tingkat stres, maka akan semakin lemahlah peran positif sel-sel darah merah di dalam darah. Menurut sebuah penelitian yang dikembangkan oleh Linda Naylor, pimpinan perusahaan alih teknologi Universitas Oxford, pengaruh negatif berbagai tingkatan stres pada sistem kekebalan tubuh kini dapat diukur.

Terdapat kaitan erat antara stres dan sistem kekebalan tubuh. Stres kejiwaan memiliki dampak penting pada sistem kekebalan dan berujung pada kerusakannya. Saat dilanda stres, otak meningkatkan produksi hormon kortisol dalam tubuh, yang melemahkan sistem kekebalan. Atau dengan kata lain, terdapat hubungan langsung antara otak, sistem kekebalan tubuh dan hormon. Para pakar di bidang ini menyatakan:

Pengkajian terhadap stres kejiwaan atau stres raga telah mengungkap bahwa selama stres berat berlangsung terjadi penurunan pada daya kekebalan yang berkaitan dengan keseimbangan hormonal. Diketahui bahwa kemunculan dan kemampuan bertahan dari banyak penyakit termasuk kanker terkait dengan stres.

Singkatnya , stres merusak keseimbangan alamiah dalam diri manusia. Mengalami keadaan yang tidak normal ini secara terus-menerus akan merusak kesehatan tubuh, dan berdampak pada beragam gangguan fungsi tubuh. Para ahli menggolongkan dampak buruk dari stres terhadap tubuh manusia dalam sejumlah kelompok utama sebagaimana berikut:

- Cemas dan Panik: Suatu perasaan yang menyebabkan peristiwa tidak terkendali.
- Mengeluarkan keringat yang semakin lama semakin banyak
- Perubahan suara: Berbicara secara gagap dan gugup
- Aktif yang berlebihan: Pengeluaran energi yang tiba-tiba, pengendalian diabetik yang lemah
- Kesulitan tidur: Mimpi buruk
- Penyakit kulit: Bercak, bintik-bintik, jerawat, demam, eksim dan psoriasis .
- Gangguan saluran pencernaan: Salah cerna, mual, luka pada permukaan dalam dinding saluran pencernaan
- Penegangan otot: gigi yang bergesekan atau terkunci, rasa sakit sedikit tapi terus-menerus pada rahang, punggung, leher dan pundak
- Infeksi berintensitas rendah: pilek, dsb.
- Migrain
- Denyut jantung dengan kecepatan yang tidak wajar, rasa sakit pada dada, tekanan darah tinggi
- Ketidakseimbangan ginjal, menahan air
- Gangguan pernapasan, pendek napas
- Alergi
- Sakit pada persendian
- Mulut dan tenggorokan kering
- Serangan jantung
- Melemahnya sistem kekebalan
- Pengecilan di bagian otak
- Perasaan bersalah dan hilangnya percaya diri
- Bingung, ketidakmampuan menganalisa secara benar, kemampuan berpikir yang rendah, daya ingat yang lemah
- Rasa putus asa yang besar, meyakini bahwa segalanya berlangsung buruk
- Kesulitan melakukan gerak atau diam, memukul-mukul dengan irama tetap
- Ketidakmampuan memusatkan perhatian atau kesulitan melakukannya
- Mudah tersinggung dan sangat peka
- Bersikap yang tidak sesuai dengan akal sehat
- Perasaan tidak berdaya atau tidak berpengharapan
- Kehilangan atau peningkatan nafsu

Kenyataan bahwa mereka yang tidak mengikuti nilai-nilai ajaran agama mengalami "stres" dinyatakan oleh Allah dalam Al Qur'an :

"Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta..." (QS. Thaahaa, 20:124)

Dalam sebuah ayat lain, Allah telah menyatakan bahwa

" … hingga apabila bumi telah menjadi sempit bagi mereka, padahal bumi itu luas dan jiwa mereka pun telah sempit (pula terasa) oleh mereka, serta mereka telah mengetahui bahwa tidak ada tempat lari dari (siksa) Allah, melainkan kepada-Nya saja…" (QS. At Taubah, 9:118)

Kehidupan yang "gelap dan sempit" ini, atau stres, nama yang diberikan di masa kini, adalah akibat ketidakmampuan orang-orang tak beriman untuk menaati nilai-nilai akhlak yang diajarkan agama. Kini, para dokter menyatakan bahwa jiwa yang tenang, damai dan penuh percaya diri sangatlah penting dalam melindungi pengaruh stres. Kepribadian yang tenang dan damai hanya dimungkinkan dengan menjalani hidup sesuai ajaran Al Qur'an . Sungguh, telah dinyatakan dalam banyak Al Qur'an bahwa Allah akan memberikan "ketenangan" dalam diri orang-orang beriman. (Al Qur'an , 2:248, 9:26, 40, 48:4, 18) Janji Tuhan kita terhadap orang-orang beriman telah dinyatakan sebagaimana berikut:

Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan. (QS, An Nahl, 16: 97)

Stres dan Depresi:

"Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta..." (QS. Thaahaa, 20:124)

"Barangsiapa yang Allah menghendaki akan memberikan kepadanya petunjuk, niscaya Dia melapangkan dadanya untuk (memeluk agama) Islam. Dan barangsiapa yang dikehendaki Allah kesesatannya, niscaya Allah menjadikan dadanya sesak lagi sempit, seolah-olah ia sedang mendaki langit. Begitulah Allah menimpakan siksa kepada orang-orang yang tidak beriman. " (QS. Al An'aam, 6:125)

Keengganan orang-orang yang jauh dari agama untuk taat kepada Allah menyebabkan mereka terus-menerus menderita perasaan tidak nyaman, khawatir dan stres. Akibatnya, mereka terkena berbagai ragam penyakit kejiwaan yang mewujud pada keadaan raga mereka. Tubuh mereka lebih cepat mengalami kerusakan, dan mereka mengalami penuaan yang cepat dan melemah.

Sebaliknya, karena orang-orang beriman sehat secara kejiwaan, mereka tidak terkena stres, atau berkecil hati, dan jasmani mereka senantiasa prima dan sehat. Pengaruh baik akibat ketundukan mereka kepada Allah, tawakal mereka kepada-Nya dan kepribadian kokoh mereka, kemampuan melihat kebaikan dalam segala hal, dan ridha dengan apa yang terjadi sembari berharap akan janji-Nya, tercermin dalam penampilan raga mereka. Hal ini tentu saja dialami oleh mereka yang menjalani hidupnya sesuai ajaran Al Qur'an, dan yang benar-benar memahami agama. Tentu saja mereka pun dapat menderita sakit dan pada akhirnya mengalami penuaan, namun proses alamiah ini tidak disertai dengan kerusakan pada sisi kejiwaan sebagaimana yang dialami oleh selainnya.

Stres dan depresi, yang dianggap sebagai penyakit zaman kita, tidak hanya berbahaya secara kejiwaan, tapi juga mewujud dalam berbagai kerusakan tubuh. Gangguan umum yang terkait dengan stres dan depresi adalah beberapa bentuk penyakit kejiwaan, ketergantungan pada obat terlarang, gangguan tidur, gangguan pada kulit, perut dan tekanan darah, pilek, migrain [sakit kepala berdenyut yang terjadi pada salah satu sisi kepala dan umumnya disertai mual dan gangguan penglihatan] , sejumlah penyakit tulang, ketidakseimbangan ginjal, kesulitan bernapas, alergi, serangan jantung, dan pembengkakan otak. Tentu saja stres dan depresi bukanlah satu-satunya penyebab semua ini, namun secara ilmiah telah dibuktikan bahwa penyebab gangguan-gangguan kesehatan semacam itu biasanya bersifat kejiwaan.

Stres, yang menimpa begitu banyak orang, adalah suatu keadaan batin yang diliputi kekhawatiran akibat perasaan seperti takut, tidak aman, ledakan perasaan yang berlebihan, cemas dan berbagai tekanan lainnya, yang merusak keseimbangan tubuh. Ketika seseorang menderita stres, tubuhnya bereaksi dan membangkitkan tanda bahaya, sehingga memicu terjadinya beragam reaksi biokimia di dalam tubuh: Kadar adrenalin dalam aliran darah meningkat; penggunaan energi dan reaksi tubuh mencapai titik tertinggi; gula, kolesterol dan asam-asam lemak tersalurkan ke dalam aliran darah; tekanan darah meningkat dan denyutnya mengalami percepatan. Ketika glukosa tersalurkan ke otak, kadar kolesterol naik, dan semua ini memunculkan masalah bagi tubuh.

Oleh karena stres yang parah, khususnya, mengubah fungsi-fungsi normal tubuh, hal ini dapat berakibat sangat buruk. Akibat stres, kadar adrenalin dan kortisol di dalam tubuh meningkat di atas batas normal. Peningkatan kadar kortisol dalam rentang waktu lama berujung pada kemunculan dini gangguan-gangguan seperti diabetes, penyakit jantung, tekanan darah tinggi, kanker, luka pada permukaan dalam dinding saluran pencernaan, penyakit pernapasan, eksim dan psoriasis [ sejenis penyakit kulit yang ditandai oleh pembentukan bintik-bintik atau daerah berwarna kemerahan pada kulit, yang tertutupi oleh lapisan tanduk berwarna perak] . Kadar kortisol yang tinggi dapat berdampak pada terbunuhnya sel-sel otak. Sejumlah gangguan akibat stres digambarkan dalam sebuah sumber sebagaimana berikut:

Terdapat kaitan penting antara stres dan tegang [penegangan], serta rasa sakit yang ditimbulkannya. Penegangan yang diakibatkan stres berdampak pada penyempitan pembuluh darah nadi, gangguan pada aliran darah ke daerah-daerah tertentu di kepala dan penurunan jumlah darah yang mengalir ke daerah tersebut. Jika suatu jaringan mengalami kekurangan darah hal ini akan langsung berakibat pada rasa sakit, sebab suatu jaringan yang di satu sisi mengalami penegangan mungkin sedang membutuhkan darah dalam jumlah banyak dan di sisi lain telah mendapatkan pasokan darah dalam jumlah yang kurang akan merangsang ujung-ujung saraf penerima rasa sakit. Di saat yang sama zat-zat seperti adrenalin dan norepinefrin, yang mempengaruhi sistem saraf selama stres berlangsung, juga dikeluarkan. Hal ini secara langsung atau tidak langsung meningkatkan dan mempercepat penegangan otot. Demikianlah, rasa sakit berakibat pada penegangan, penegangan pada kecemasan, dan kecemasan memperparah rasa sakit.

Akan tetapi, salah satu dampak paling merusak dari stres adalah serangan jantung. Penelitian menunjukkan bahwa orang yang agresif, khawatir, cemas, tidak sabar, dengki, suka memusuhi dan mudah tersinggung memiliki peluang terkena serangan jantung jauh lebih besar daripada orang yang tidak memiliki kecenderungan sifat-sifat tersebut.

Alasannya adalah bahwa rangsangan berlebihan pada sistem saraf simpatetik [yakni sistem saraf yang mengatur percepatan denyut jantung, perluasan bronkia, penghambatan otot-otot halus sistem pencernaan makanan, dsb.], yang dimulai oleh hipotalamus, juga mengakibatkan pengeluaran insulin yang berlebihan, sehingga menyebabkan penimbunan kadar insulin dalam darah. Ini adalah permasalahan yang teramat penting. Sebab, tak satu pun keadaan yang berujung pada penyakit jantung koroner memainkan peran yang sedemikian paling penting dan sedemikian berbahaya sebagaimana kelebihan insulin dalam darah.

Para ilmuwan telah mengetahui bahwa semakin parah tingkat stres, maka akan semakin lemahlah peran positif sel-sel darah merah di dalam darah. Menurut sebuah penelitian yang dikembangkan oleh Linda Naylor, pimpinan perusahaan alih teknologi Universitas Oxford, pengaruh negatif berbagai tingkatan stres pada sistem kekebalan tubuh kini dapat diukur.

Terdapat kaitan erat antara stres dan sistem kekebalan tubuh. Stres kejiwaan memiliki dampak penting pada sistem kekebalan dan berujung pada kerusakannya. Saat dilanda stres, otak meningkatkan produksi hormon kortisol dalam tubuh, yang melemahkan sistem kekebalan. Atau dengan kata lain, terdapat hubungan langsung antara otak, sistem kekebalan tubuh dan hormon. Para pakar di bidang ini menyatakan:

Pengkajian terhadap stres kejiwaan atau stres raga telah mengungkap bahwa selama stres berat berlangsung terjadi penurunan pada daya kekebalan yang berkaitan dengan keseimbangan hormonal. Diketahui bahwa kemunculan dan kemampuan bertahan dari banyak penyakit termasuk kanker terkait dengan stres.

Singkatnya , stres merusak keseimbangan alamiah dalam diri manusia. Mengalami keadaan yang tidak normal ini secara terus-menerus akan merusak kesehatan tubuh, dan berdampak pada beragam gangguan fungsi tubuh. Para ahli menggolongkan dampak buruk dari stres terhadap tubuh manusia dalam sejumlah kelompok utama sebagaimana berikut:

- Cemas dan Panik: Suatu perasaan yang menyebabkan peristiwa tidak terkendali.
- Mengeluarkan keringat yang semakin lama semakin banyak
- Perubahan suara: Berbicara secara gagap dan gugup
- Aktif yang berlebihan: Pengeluaran energi yang tiba-tiba, pengendalian diabetik yang lemah
- Kesulitan tidur: Mimpi buruk
- Penyakit kulit: Bercak, bintik-bintik, jerawat, demam, eksim dan psoriasis .
- Gangguan saluran pencernaan: Salah cerna, mual, luka pada permukaan dalam dinding saluran pencernaan
- Penegangan otot: gigi yang bergesekan atau terkunci, rasa sakit sedikit tapi terus-menerus pada rahang, punggung, leher dan pundak
- Infeksi berintensitas rendah: pilek, dsb.
- Migrain
- Denyut jantung dengan kecepatan yang tidak wajar, rasa sakit pada dada, tekanan darah tinggi
- Ketidakseimbangan ginjal, menahan air
- Gangguan pernapasan, pendek napas
- Alergi
- Sakit pada persendian
- Mulut dan tenggorokan kering
- Serangan jantung
- Melemahnya sistem kekebalan
- Pengecilan di bagian otak
- Perasaan bersalah dan hilangnya percaya diri
- Bingung, ketidakmampuan menganalisa secara benar, kemampuan berpikir yang rendah, daya ingat yang lemah
- Rasa putus asa yang besar, meyakini bahwa segalanya berlangsung buruk
- Kesulitan melakukan gerak atau diam, memukul-mukul dengan irama tetap
- Ketidakmampuan memusatkan perhatian atau kesulitan melakukannya
- Mudah tersinggung dan sangat peka
- Bersikap yang tidak sesuai dengan akal sehat
- Perasaan tidak berdaya atau tidak berpengharapan
- Kehilangan atau peningkatan nafsu

Kenyataan bahwa mereka yang tidak mengikuti nilai-nilai ajaran agama mengalami "stres" dinyatakan oleh Allah dalam Al Qur'an :

"Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta..." (QS. Thaahaa, 20:124)

Dalam sebuah ayat lain, Allah telah menyatakan bahwa

" … hingga apabila bumi telah menjadi sempit bagi mereka, padahal bumi itu luas dan jiwa mereka pun telah sempit (pula terasa) oleh mereka, serta mereka telah mengetahui bahwa tidak ada tempat lari dari (siksa) Allah, melainkan kepada-Nya saja…" (QS. At Taubah, 9:118)

Kehidupan yang "gelap dan sempit" ini, atau stres, nama yang diberikan di masa kini, adalah akibat ketidakmampuan orang-orang tak beriman untuk menaati nilai-nilai akhlak yang diajarkan agama. Kini, para dokter menyatakan bahwa jiwa yang tenang, damai dan penuh percaya diri sangatlah penting dalam melindungi pengaruh stres. Kepribadian yang tenang dan damai hanya dimungkinkan dengan menjalani hidup sesuai ajaran Al Qur'an . Sungguh, telah dinyatakan dalam banyak Al Qur'an bahwa Allah akan memberikan "ketenangan" dalam diri orang-orang beriman. (Al Qur'an , 2:248, 9:26, 40, 48:4, 18) Janji Tuhan kita terhadap orang-orang beriman telah dinyatakan sebagaimana berikut:

Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan. (QS, An Nahl, 16: 97)

Tuesday, November 4, 2008

AIR PUTIH DAN KESEHATAN

"Mengapa kita harus banyak mengkonsumsi air putih?", jika itu pertanyaan yang selama ini bermain di benak anda, maka hiruplah nafas dalam-dalam dan berdoalah sebelum anda membaca artikel ini. Jawabnya cukup mengerikan namun anda tak perlu bersembunyi, yang perlu anda lakukan hanyalah mengisi gelas dengan air putih dan minum sebanyak-banyaknya.

Sejak pertama kali mempelajari biologi, anda pasti mengatahui bahwa 80 persen tubuh manusia terdiri dari air. Bahkan ada dua bagian tubuh manusia yang memiliki kadar air di atas 80 persen dimana keduanya memiliki peran penting bagi kehidupan manusia, yaitu Otak dan Darah. Otak memiliki komponen air sebanyak 90 persen, sementara darah memiliki komponen air 95 persen.

Untuk menjaga kesehatannya, manusia normal wajib mengkonsumsi air putih minimal 2 liter sehari atau 8 gelas sehari. Namun ukuran ini tidak berlaku pada anda yang hobby merokok, sebaliknya anda harus mengkonsumsi air putih lebih dari 2 liter perhari. Air sebanyak itu diperlukan untuk mengganti cairan yang keluar dari tubuh, misalnya air seni, keringat, pernapasan dan sekresi.

Setelah anda mengetahui berapa banyak air yang wajib kita konsumsi perharinya, marilah kita bayangkan apa jadinya bila anda melanggar aturan tersebut atau dalam bahasa sederhananya, anda minum kurang dari 2 liter air putih perhari. Jawabnya yaitu, tubuh akan menyeimbangkan diri.

Tubuh akan "menyedot" air dari komponen tubuh sendiri. Dimulai dari komponen yang paling dekat, darah. Lantaran air dalam darah disedot untuk keperluan tubuh, maka darah akan menjadi kental sehingga perjalanannya ke seluruh tubuh menjadi kurang lancar.

Pada proses ini, ginjal akan sangat menderita. Dalam menjalankan tugasnya menyaring racun dari darah, ia akan mengalami kesulitan saat harus menyaring darah yang kental. Tak jarang darah ini akan menyebabkan perobekan pada glomerulus ginjal.

Berbahaya? Tergantung .. tapi yang jelas air seni anda akan berwarna kemerahan, sebagai pertanda mulai bocornya saringan ginjal. Jika anda tetap 'cuek' dan tidak melakukan sesuatu untuk menghentikan kebocoran ini, saya sarankan untuk menyiapkan Rp400.000 rupiah seminggu. Untuk apa? tentu saja untuk cuci darah.

Nah sekarang anda bisa menyimpulkan apakah kebocoran saringan ginjal termasuk hal berbahaya atau tidak, tapi percayalah saya enggan membayangkan memberikan amplop berisi Rp 400.000 pada dokter tiap 7 hari sekali. Jika ditabung selama satu tahun, bayangkan berapa banyak uang yang akan mengisi pundi-pundi anda.

Seperti halnya saya, anda tentu mulai ketakutan bukan, namun tetaplah fokus dan lanjutkan membaca artikel ini, karena ternyata masih ada yang lebih berbahaya lagi. Masih ingat darah yang mengental karena airnya disedot untuk keperluan tubuh?

Nah saat darah ini mengalir lewat otak, perjalanannya pun juga tak lancarsama halnya saat ia melewati ginjal. Akibatnya otak tidak lagi "encer" .. kebayang kan apa yang dimaksud otak tidak encer? tapi sebelum pikiran anda melayang jauh, kembalilah ke deretan kalimat di bawah ini.

Sel-sel otak adalah organ yang paling boros mengkonsumsi makanan dan oksigen. Terhalangnya aliran darah ini bisa menyebabkan sel-sel otak cepat mati atau tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Bila anda juga mengidap penyakit jantung, maka sempurnalah penderitaan anda dengan adanya serangan stroke .. hmm kedengarannya seram ya?

Demikianlah apa yang bisa saya sajikan, maaf jika saya membuat anda berkeringat dingin. Tapi sekarang anda bisa menarik nafas lega sebab kita menuju akhir dari artikel ini. Sekarang segala keputusan ada di tangan anda, mulai mengkonsumsi 8 gelas air putih perhari atau mempersiapkan diri untuk menjalani penderitaan duniawi .. its up to u .. !!

Saturday, November 1, 2008

Pengaruh Meditasi Terhadap Ketergantungan Ganja

Pada suatu keadaan tertentu, terkadang manusia tidak pernah memperhatikan apa yang mereka rasakan dan mereka lakukan, baik itu yang terjadi di dalam dirinya ataupun di luar dirinya. Misalnya saja pada saat mereka melamun atau ketika membaca sebuah novel. Hal ini terkait dengan kesadaran manusia. Dimana kesadaran didefinisikan sebagai tingkat kesiagaan individu pada saat ini terhadap peristiwa-peristiwa lingkungan dan sensasi tubuh, memori, dan pikiran. Kesadaran memiliki fungsi sebagai pemantau dan pengendali diri sendiri dan lingkungan, sehingga kita mampu memulai dan mengakhiri aktivitas perilaku dan kognitif (Kihlstrom, 1984).
Adapun menurut William James (dengan Teori Fungsionalisme), menjelaskan bahwa kesadaran bersifat unik dan sangat pribadi, terus-menerus berubah-ubah, muncul setiap saat dan selektif sekali ketika harus memilih dari sekian banyak rangsang yang mengenai seseorang, serta mampu membuat manusia menyesuaikan diri terhadap lingkungan sekelilingnya.
Dewasa ini marak sekali orang-orang melakukan pelatihan-pelatihan yang ada kaitannya dengan istilah kesadaran. Contoh realnya yaitu dengan adanya latihan meditasi. Orang-orang yang merasa benar-benar terpojok, stress, gelisah, atau mengalami gejala mudah lupa, mudah marah, emosi tidak terkontrol, tidak dapat tidur, mimpi buruk, dan serasa akan gila, mereka cenderung lari ke pelatihan meditasi. Melihat kenyataan demikian, tidak dipungkiri bahwa kesadaran memiliki kaitan yang erat dengan meditasi.
Dalam meditasi, seseorang mencapai perubahan kesadaran dengan melakukan latihan tertentu. Meditasi itu sendiri merupakan salah satu cara berlatih untuk mengubah kesadaran, atau dalam artian lain memindahkan kesadaran dari dunia luar ke dunia dalam dirinya sendiri yakni menuju kesunyian yang indah, keheningan dan kejernihan pikiran. Meditasi ini dinilai sebagai persiapan untuk lebih mengerti akan dirinya sendiri.
Namun manfaat dan efek meditasi bagi setiap individu tentunya bermacam-macam, tergantung pada konteks dan sikapnya. Secara nyata efek meditasi dapat menimbulkan relaksasi dan menurunkan kesadaran fisiologis. Kecepatan jantung menurun, tekanan darah menjadi stabil, dan konsentrasi darah dalam laktat menurun (Dillbeck & Orme-Johnson, 1987). Selain itu juga terbukti bahwa meditasi dapat membantu mengatasi kecemasan dan ketegangan kronis.
Biasanya sebagian besar orang-orang yang mengalami kecemasan dan ketegangan kronis atau sering kita kenal dengan istilah stess itu cenderung mengalami ketergantungan terhadap obat-obatan atau narkoba. Dimana obat-obatan atau narkoba tersebut dapat mengubah tingkat kesadarannya, untuk menstimulasi atau merelaksasi, mempermudah tidur, dan menghasilkan halusinasi. Obat-obatan ini sering kita kenal dengan nama psikoaktif.
Adapun dalam pembahasan ini saya memfokuskan pengaruh meditasi terhadap ketergantungan pemakaian ganja. Ganja/marijuana adalah sebutan untuk beberapa sediaan yang diperoleh dari tanaman Cannabis Sativa. Pengunaan narkoba jenis ini dikonsumsi sebagai upaya mengubah kesadaran si pemakainya. Secara umum pemakaian ganja ini akan mengadakan interaksi dengan sistem saraf, sehingga dapat menimbulkan kesan perasaan tertentu.
Seseorang yang mengkonsumsi ganja, mereka cenderung merasakan kegelisahan, gejala panik akut, ketakutan dan mengalami halusinasi penglihatan, meskipun kadang mereka masih menyadari bahwa apa yang mereka lihat itu tidak ada dalam dunia nyata, dan hampir pada saat yang bersamaan mereka juga merasakan kepekaannya terhadap orang lain menjadi semakin tajam.
Dalam hal ini jelas sekali bahwa antara kesadaran, meditasi dan ketergantungan obat-obatan atau narkoba, khususnya ganja memiliki hubungan yang sangat erat. Saya menilai bahwa meditasi mampu mengurangi ketergantungan pemakaian ganja meskipun tidak secara langsung dan memerlukan proses. Dimana orang-orang yang memiliki ketergantungan terhadap ganja mereka cenderung memiliki kecemasan, ketegangan dan kegelisahan yang tinggi sehingga mereka tidak dapat mengontrol keadaan alam sadarnya.
Melalui meditasi inilah kecemasan dan ketegangan tersebut bisa hilang atau setidaknya berkurang. Meditasi mampu merapikan pikiran-pikiran yang berantakan sehingga menjadi sarana yang efektif untuk mengatasi stress dan menurunkan resiko berbagai penyakit. Tujuan utamanya yaitu untuk membuat pikiran menjadi fokus, tenang, diam dan damai. Karena dengan pikiran yang tenang seluruh sistem tubuh pun akan menjadi lancar dan organ-organ tubuh dapat bekerja dengan optimal. Seperti pepatah bilang “di dalam jiwa yang sehat terdapat badan yang kuat”.
Dengan demikian, hilangnya atau menurunnya kecemasan dan ketegangan mengakibatkan berkurangnya ketergantungan seseorang terhadap ganja secara bertahap. Orang-orang yang telah melakukan meditasi biasanya cenderung lebih bisa mengendalikan dirinya, sehingga ia sadar dan mampu mengontrol keadaan internal dan eksternal dirinya. Dalam kasus ini kesadaran tidak hanya berperan dalam pemantauan perilaku yang sedang terjadi, tetapi juga memiliki peranan dalam mengarahkan dan mengendalikan perilaku tersebut.



Referensi :
“Psikologi Suatu Pengantar”. Linda L. Davidoff. Edisi Kedua. Jilid 1. Erlangga. Jakarta.1988.
“Pengantar Psikologi”. Atkinson, Smith, dan Bem. Edisi 11. Jilid Satu.. Interaksara. Batam
www.galaxynetmedia.com

Tuesday, September 23, 2008

KENAKALAN REMAJA

Mendengar sebutan remaja, maka terbesit sejumlah perilaku remaja yang bernada negatif. Tawuran pelajar, penggunaan obat-obatan terlarang, pergaulan bebas, atau kecenderungan mencari kenikmatan tanpa mau berusaha adalah hal negatif yang sering kita dengar sekarang ini. Fenomena kenakalan remaja memang menarik untuk dibecarakan. Sisi yang menarik bukanlah karena pemberitaan tentang perilaku remaja yang ganjil itu bisa mendongkrak media massa atau acara televisi, tetapi yang lebih penting adalah karena tindakan kenakalan remaja dianggap menyimpang dan mengganggu ketertiban masyarakat.
“Maraknya tawuran antar remaja selama bulan puasa hingga menelan korban puluhan jiwa merupakan cermin semakin minimnya sosok panutan yang bisa menjadi teladan masyarakat khususnya generasi muda di tanah air” (suara merdeka,18 september 2008). Berita tersebut merupakan contoh dari sebagian kecil kenakalan yang dilakukan remaja sekarang.
Tidak kalah dengan di media massa, acara berita kriminal di stasiun televisi banyak dipenuhi berita perkelahian, tawuran antar pelajar, atau perkelahian antar geng beberapa waktu yang lalu,kita semua dihebohkan dengan adanya aksi geng Nero yang begitu brutal melakukan kekerasan kepada sesama remaja. Ironisnya, pelaku dari geng tersebut adalah remaja putri.
Sungguh sangat memprihatinkan jika hal tersebut terus terjadi. Hal seperti diatas adalah sedikit gambaran tentang kondisi remaja sekarang.Padahal kita tahu, bahwa remaja adalah cikal bakal penerus bangsa. Jika remaja di negara kita melakukan tindakan seperti itu, tentunya bangsa ini akan segera runtuh. Lalu yang menjadi pertanyaan adalah mengapa remaja bisa terlibat dalam kenakalan remaja? Apa yang melatarbelakangi hal itu semua? Sebelum menjawab hal tersebut, kita sebaiknya mengetahui tentang dunia remaja.
Remaja yang dalam bahasa aslinya “adolescence” berasal dari bahasa latin adolescere yang berarti “ tumbuh atau tumbuh untuk mencapai kematangan”. Menurut Piaget (Hurlock,1991) yang dikutip oleh Mohammad Ali dalam bukunya Psikologi Remaja Perkembangan Peserta Didik mengatakan bahwa secara psikologis, remaja adalah suatu usia dimana individu menjadi terintegrasi ke dalam masyarakat dewasa, suatu usia di mana anak tidak merasa bahwa dirinya berada di bawah tingkat orang yang lebih tua melainkan merasa sama, atau paling tidak sejajar.
Remaja sebenarnya tidak memiliki tempat jelas. Mereka bukan lagi termasuk golongan anak-anak, tetapi juga belum juga diterima secara penuh untuk masuk kedalam golongan orang dewasa. Seringkali kita kenal bahwa masa remaja adalah masa “mencari jati diri” atau masa ”topan dan badai”, mereka belum mampu mengusai dan memfungsikan secara maksimal fungsi fisik dan psikisnya. Pada umumnya remaja memiliki rasa ingin tahu yang besar, hali itu mendorong remaja untuk berpetualang, menjelajah sesuatu, mencoba sesuatu yang belum dialaminya. Mereka sering mengkhayal, dan merasa gelisah, serta berani melakukan pertentangan jika dirinya merasa disepelekan atau tidak dianggap. Untuk itu mereka memerlukan keteladanan, konsistensi, serta komunikasi yang tulus dan empatik dari orang dewasa. Jika keinginan tersebut mendapatkan bimbingan dan penyaluran yang baik, maka akan menghasilkan kreatifitas yang bermanfaat. Jika tidak, dikhawatirkan dapat menjurus kepada hal negatif (kenakalan remaja).Seringkali mereka melakukan perbuatan menurut normanya sendiri karena terlalu banyak menyaksikan ketidakkonsistenan yang dilakukan oleh orang dewasa/orang tua di masyarakat. Apa yang dikatakan orang dewasa ternyata tidak sesuai dengan fakta di lapangan. Hal seperti diatas merupakan pemicu mengapa remaja melakukan hal-hal sesuai dengan normanya sendiri, bahkan mereka tidak memperdulikan norma-norma yang berlaku di masyarakat bahkan agama.
Kenakalan remaja biasa disebut dengan istilah Juvenile berasal dari bahasa Latin juvenilis, yang artinya anak-anak, anak muda, ciri karakteristik pada masa muda, sifat-sifat khas pada periode remaja, sedangkan delinquent berasal dari bahasa latin “delinquere” yang berarti terabaikan, mengabaikan, yang kemudian diperluas artinya menjadi jahat, nakal, anti sosial, kriminal, pelanggar aturan, pembuat ribut, pengacau peneror, durjana dan lain sebagainya. Juvenile delinquency atau kenakalan remaja adalah perilaku jahat atau kenakalan anak muda, merupakan gejala sakit (patologis) secara sosial pada anak-anak dan remaja yang disebabkan oleh satu bentuk pengabaian sosial, sehingga mereka mengembangkan bentuk perilaku yang menyimpang. Istilah kenakalan remaja mengacu pada suatu rentang yang luas, dari tingkah laku yang tidak dapat diterima sosial sampai pelanggaran status hingga tindak kriminal.(Kartono, 2003).
Dari pendapat-pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa kecenderungan kenakalan remaja adalah kecenderungan remaja untuk melakukan tindakan yang melanggar aturan yang dapat mengakibatkan kerugian dan kerusakan baik terhadap dirinya sendiri maupun orang lain. Kenakalan remaja merupakan salah satu bentuk penyimpangan yang dilakukan remaja karena tidak sesuai dengan kebiasaan, tata aturan, dan norma sosial yang berlaku.
Bentuk-bentuk kenakalan remaja antara lain : bolos sekolah, merokok, berkelahi / tawuran, menonton film porno, minum minuman keras, seks diluar nikah,menyalahgunakan narkotika, mencuri, memperkosa, berjudi, membunuh,kebut-kebutan dan banyak lagi yang lain.
Dari beberapa referensi yang saya baca bahwa hal yang menjadi pemicu dan mempengaruhi timbulnya kenakalan remaja antara lain :


 Pengaruh teman sebaya
Di kalangan remaja, memiliki banyak kawan adalah merupakan satu bentuk prestasi tersendiri. Makin banyak kawan, makin tinggi nilai mereka di mata teman-temannya. Remaja lebih banyak bergaul dan menghabiskan waktu dengan teman sebayanya. Jika remaja mempunyai masalah pribadi atau masalah dengan orang tuanya, maka ia akan lebih sering membicarakan dengan teman-temannya karena mereka merasa lebih nyaman berbagi dengan teman dibanding dengan keluarga. Teman sebaya merupakan faktor penting dalam mengatasi perubahan dan permasalahan yang mereka hadapi. Pengaruh teman sangatlah besar dalam pembentukan watak dan kepribadian remaja, karena remaja akan cenderung bersikap sesuai dengan teman sebayanya atau kelompoknya.
 Proses keluarga
Faktor keluarga sangat berpengaruh terhadap timbulnya kenakalan remaja. Kurangnya dukungan keluarga seperti kurangnya perhatian orangtua terhadap aktivitas anak, kurangnya penerapan disiplin yang efektif, kurangnya kasih sayang orangtua dapat menjadi pemicu timbulnya kenakalan remaja. Pengawasan orangtua yang tidak memadai terhadap keberadaan remaja dan penerapan disiplin yang tidak efektif dan tidak sesuai merupakan faktor keluarga yang penting dalam menentukan munculnya kenakalan remaja. Perselisihan dalam keluarga atau stress yang dialami keluarga juga berhubungan dengan kenakalan. Pola pengasuhan anak juga berpengaruh besar, anak yang nakal kebanyakan berasal dari keluarga yang menganut pola menolak karena mereka selalu curiga terhadap orang lain dan menentang kekuasaan.(Dwi Narwoko,2007:p.94)
 Media Massa
Dengan adanya kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi dalam waktu singkat, informasi tentang peristiwa-peristiwa, pesan, pendapat, berita, ilmu pengetahuan dan lain sebagainya dengan mudah diterima. Oleh karena itu media massa seperti surat kabar, TV, film, majalah mempunyai peranan penting dalam proses transformasi nilai-nilai dan norma-norma baru terhadap remaja. Mereka akan cenderung mencoba dan meniru apa yang dilihat dan ditontonnya. Tayangan adegan kekerasan dan adegan yang menjurus ke pornografi, ditengarai sebagai penyulut perilaku agresif remaja, dan menyebabkan terjadinya pergeseran moral pergaulan, serta meningkatkan terjadinya berbagai pelanggaran norma susila. (Dwi Narwoko,2007:p.96)
Untuk membentengi diri dari pengaruh diatas agar kita tidak ikut andil dalam kenakalan remaja maka hendaknya kita melakukan upaya pencegahan. Dari kita sendiri, kita harus meningkatkan dan membangun kehidupan iman sesuai dengan agama dan keyakinan yang kita anut, artinya kita harus sungguh-sungguh menjalankan ajaran-ajaran dan perintah agama dengan baik. Dari segi orang tua harus membimbing, membina, dan mengarahkan kehidupan keagamaan anaknya sejak dini.
Untuk menumbuhkan moral remaja menurut Blatt dan Kohlberg yang dikutip oleh Muhammad al-Mighwar dalam jurnal psikologi remaja mengajukan konsep konflik-kognitif: Caranya para remaja di bentuk menjadi berbagai kelompok yang masing-masing terdiri dari sepuluh orang. Mereka diberi tema-tema dilema moral yang bisa menciptakan konflik kognitif kemudian di aktifkan untuk berdiskusi secara tebuka. Seorang guru mendukung kelompok tertentu kemudian mendukung argumentasi kelompok lain secara bergiliran hingga terjadi konflik. Dengan begitu para remaja diuji untuk mengetahui sejauh mana perkembangan dan konsistensi moralnya.
Dari paparan di atas penulis menyimpulkan bahwa kenakalan remaja merupakan problemetika yang pelu diperhatikan dan ditanggulangi dengan serius, karena remaja adalah generasi penerus bangsa. Masa depan bangsa ini berada di tangan mereka semua. Sejak dini mereka perlu diberikan pondasi iman yang kuat, serta dibesarkan di lingkungan yang baik.

Referensi :
Ghozally, Fitri.2007. Memahami perkembangan Psikologi Remaja.Jakarta:Pustaka Nasiona.
Sri Sumantri dan Siti Sundari.2004. Perkembangan Anak dan Remaja.Jakarta: Rineka Cipta
Dwi Narwoko dan Bagong Suyanto.2007.Sosiologi Teks dan Terapan.Jakarta:Kencana Prenada media Group.
Muhammad Ali dan Muhammad Asrori.2004. Psikologi Remaja Peserta Didik.Jakarta:Bumi Aksara.
Muhammad Al-Mighwar.2006. Psikologi remaja.Bandung:Pustaka setia

Monday, September 15, 2008

KEDUDUKAN AGAMA DALAM KEHIDUPAN MANUSIA DILIHAT DARI ASPEK PSIKOLOGI

Sejak pertama kali lahir, manusia telah dikenalkan dengan ajaran agama. Mereka mulai dikenalkan dengan ajaran-ajaran agama yang mendasar sebagai awal perkenalan dan membuka wawasan tentang agama. Di dalam agama Islam, setiap bayi yang lahir akan dilakukan ritual adzan di telinga kanan dan iqomah di telinga kiri. Hal itu dilakukan dengan maksud agar kata yang pertama kali didengar adalah kata pujian untuk Allah SWT. Setelah itu dilanjutkan dengan pemberian nama yang baik, karena nama merupakan do’a untuk orang yang dinamai. Mereka diberi makanan yang bersih dan suci, dilakukan pencukuran rambut dengan tujuan agar mereka menyukai kebersihan, keindahan, ketampanan yang kesemuanya itu disukai Allah SWT. Dalam ajaran agama Islam telah dijelaskan hal itu semua mulai dari bayi sampai ajal tiba.

Kehidupan manusia sangatlah kompleks sehingga tidak bisa lepas dengan agama. Agama berkedudukan sebagai benteng kesehatan mental dan bersikap serta berperilaku menghapai setiap pelik masalah yang menimpa. Agama merupakan makanan untuk memenuhi kehausan jiwa, karena antara jiwa dan agama memiliki korelasi yang kuat. Jika kebutuhan jiwa terpenuhi maka akan tercipta sebuah perasaan yang tenteram dan damai. Agama berperan dalam mewujudkan kehidupan manusia yang sejahtera lahir dan batin. Di dalamnya terdapat berbagai petunjuk bagaimana seharusnya manusia menyikapi hidup dan kehidupan agar lebih bermakna dalam arti yang luas.

Ditinjau dari sisi psikologis, bahwa tingkah laku yang dimunculkan manusia bersumber dari gejala kejiwaan yang mereka alami. Perilaku manusia yang dimunculkan dipengaruhi oleh keyakinan yang dianutnya. Ketika seorang berjumpa saling mengucapkan salam, hormat kepada orang tua dan guru, menutup aurat merupakan gejala keagamaan yang dapat dijelaskan melalui jiwa agama.

Dengan ilmu jiwa, seseorang akan mengetahui seberapa besar tingkat keagamaan yang mereka hayati, pahami, dan mereka amalkan. Kita semua sepakat bahwa manusia adalah makhluk yang sempurna, selalu berpikir, merasa, serta mempunyai kehendak. Perilaku yang dilakukan merupakan buah dari apa yang dipikir, dirasa, dan yang dikehendakinya. Manusia juga bisa menjadi subjek dan objek sekaligus, disamping dia bisa menghayati pengalaman agamanya sendiri,meraka juga dapat meneliti keberagamaan orang lain. Secara psikolgis agama mempunyai makna yang berbeda-beda / subjektif, intern dan individual tergantung kepada seberapa besar amalan dan penghayatannya terhadap agama. Bagi beberapa orang agama adalah ritual ibadah, seperti shalat, zakat, puasa, bagi sebagian yang lain agama adalah pengabdian diri kepada sesama manusia dan makhluk hidup yang lain sehingga mereka akan berperilaku baik. Bagi penulis sendiri agama merupakan ajaran yang kompleks yang di dalamya berisi aturan-aturan yang mengarahkan, membimbing, menuntun manusia agar bahagia di dunia dan akhirat. Tidak hanya itu saja, agama juga memberikan uraian tentang alam dan segala isinya.

Jadi pengertian agama sangatlah kompleks. Psikologi agama mencoba menguak bagaimana agama mempengaruhi perilaku manusia. Psikologi mampu menguak keberagamaan seseorang bergantung kepada paradigma psikologi itu sendiri. Bagi Aliran Psikolanalisa keberagamaan merupakan bentuk gangguan kejiwaan, bagi Aliran Behaviorisme, perilaku keberagamaan tidak lebih dari sekedar perilaku karena manusia tidak memilki jiwa. Aliran kognitif mulai menghargai kemanusiaan, dan Aliran Humanisme sudah memandang manusia sebagai makhluk yang mengerti akan makna hidup, sehingga aliran ini lebih dekat dengan agama.

Lalu, apa sebenarnya arti dari agama? Menurut Drs. H. Achmad Gholib, MA dalam bukunya “Studi Islam” menjelaskan bahwa definisi agama adalah suatu peraturan Tuhan yang mendorong jiwa seseorang yang mempunyai akal memegang peraturan Tuhan itu dengan kehendaknya sendiri untuk mencapai kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat.

Menurut Taib Thahir Abdul Mu’in mengemukakan bahwa agama merupakan aturan yang bersumber langsung dari Tuhan, yang diperuntukkan untuk manusia karena manusia dikaruniai oleh akal yang dapat menerima peraturan-peraturan Tuhan yang akan membawanya kepada kebaikan, keselamatan dan kehagiaan di dunia dan akhirat.

Dari pendapat beberapa tokoh di atas dapat diasumsikan bahwa agama mengandung arti ikatan-ikatan yang harus di pegang dan dipatuhi manusia. Ikatan yang berpengaruh terhadap kehidupan manusia sehari-hari dan berasal dari sumber yang lebih tinggi dari manusia. Suatu kekuatan gaib yang tidak dapat ditangkap oleh panca indera.

Menurut Harun Nasution, agama mempunyai empat unsur penting :

1. Kekuatan gaib manusia : manusia merasa bahwa dirinya lemah dan berhajat pada kekuatan gaib itu sebagai temapat meminta tolong dan berlindung. Oleh sebab itulah manusia mengadakan hubungan baik dengan kekuatan baik tersebut dengan mematuhi segala perintah dan menjauhi larangan gaib tersebut.

2. Keyakinan manusia bahwa kesejahteraan di dunia ini dan hidupnya di akhirat tergantung adanya hubungan baik itu.

3. Respons yang bersifat emosional dari manusia, seperti perasaan takut dan cinta.

4. Paham adanya yang kudus dan suci dalam bentuk kekuatan gaib, dalam bentuk kitab yang mengandung ajaran-ajaran agama yang bersangkutan dan dalam bentuk tempat-tempat tertentu.

Dari pengertian terakhir ini ditegaskan bahwa agama adalah aturan Tuhan, yang ditujukan bagi manusia, karena manusialah yang dianugerahi akal. Akal yang dapat menerima peraturan-peraturan Tuhan yang akan membawa manusia kepada kebaikan, keselamatan dan kebahagiaan di dunia dan di akhirat.

Manusia di dunia ini sangat membutuhkan agama sebagai pegangan hidup di dunia dan akhirat. Menurut Abudin Nata dalam bukunya “ Metodologi Studi Islam “ ada tiga alasan perlunya manusia terhadap agama :

1. Latar belakang fitrah manusia

Kenyataan bahwa manusia memiliki fitrah keagamaan tersebut buat pertama kali ditegaskan dalam ajaran islam, yakni bahwa agama adalah kebutuhan manusia. Allah SWT berfirman dalam surat al-Rum, 30:30).

“ Hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; tetaplah atas fitrah Allah yang telah menciptakan manusia sesuai dengan fitrah itu “

2. Kelamahan dan kekurangan manusia

Manusia memiliki keterbatasan akal untuk menentukan hal-hal di luar kekuatan pikiran manusia itu sendiri, dan juga manusia merupakan makhluk lemah yang sangat memerlukan agama.

3. Tantangan manusia

Manusia dalam kehidupannya senantiasa menghadapi berbagai tantangan, baik dari dalam maupun dari luar. Tantangan dari dalam berupa dorongan hawa nafsu dan bisikan syetan, dan tantangan dari luar dapat berupa rekayasa dan upaya-upaya yang dilakukan manusia yang secara sengaja berusaha memalingkan manusia dari Tuhan.

Agama berfungsi untuk membimbing umat manusia agar hidup tenang dan bahagia di dunia dan akhirat, mempererat hubungan sosial dan kemasyarakatan, dan penawar bagi tekanan jiwa.

Manusia memiliki dua jenis kebahagiaan. Pertama, yang berhubungan dengan inderawinya dengan objek eksternal, seperti kebahagiaan yang diperoleh melalui pengecapan lidah dan indera peraba seperti kontak fisik. Kedua, kebahagiaan yang berhubungan dengan kedalaman ruh dan kesadaran manusia, yang tidak ada kaitannya dengan tubuh-tubuh tertentu. Kebahagiaan ini termasuk kebahagiaan menyembah Tuhan / shalat.

Pengaruh kedua dari keyakinan keagamaan dalam masalah hubungan sosial kemasyarakatan adalah untuk memaksa orang untuk melaksanakan kewajiban yang telah disepakati bersama demi terwujudnya ketertiban masyarakat.

Peranan yang ketiga sebagai penawar bagi tekanan jiwa yang gelisah, stress atau gundah gulana. Kehidupan manusia kita sukai atau tidak mengandung penderitaan, kesedihan, kegagalan, kekecewaan, kehilangan, dan kepahitan. Disinilah peran agama mulai dibutuhkan. Dengan adanya pengalaman agama yang kuat maka manusia akan terhindar dari tekanan yang dapat membelunggu kehidupannya. Meraka sadar bahwa semua yang terjadi dalam dunia ini adalah sebagai cobaan untuk menguji keimanan dan mereka yakin bahwa Tuhan akan memberikan yang terbaik bagi umatnya.

Bagi ahli psikologi bahwa sebagian besar penyakit mental yang disebabkan oleh kerusakan psikolgi dan kepahitan kehidupan ditemukan diantara orang-orang yang tidak beragama. Orang-orang yang beragama, bergantung pada seberapa jauh ketetapan hatinya kepada agamanya, seringkali terlindungi dari penyakit-penyakit seperti itu. Karenanya salah satu akibat kehidupan kontemporer yang bersumber dari ketiadaan keyakinan keagamaan adalah meningkatnya penyakit saraf dan psikologis.(Achmad Gholib, Studi Islam, Faza Media, Jakarta, 2006 )

Referensi :

Nata, Abudin. 1998 . Metodologi Studi Islam. Jakarta: Raja Grafindo Persada.

Azhari, Akyas. 2004 . Psikologi Umum & Perkembangan. Jakarta:

Gholib, Achmad. 2006 . Studi Islam. Jakarta: Faza Media

PSIKOLOGI PENDIDIKAN


A. Pendahuluan

Psikologi pendidikan adalah studi yang sistematis terhadap proses dan faktor-faktor yang berhubungan dengan pendidikan. Sedangkan pendidikan adalah proses pertumbuhan yang berlangsung melalui tindakan-tindakan belajar (Whiterington, 1982:10). Dari batasan di atas terlihat adanya kaitan yang sangat kuat antara psikologi pendidikan dengan tindakan belajar. Karena itu, tidak mengherankan apabila beberapa ahli psikologi pendidikan menyebutkan bahwa lapangan utama studi psikologi pendidikan adalah soal belajar. Dengan kata lain, psikologi pendidikan memusatkan perhatian pada persoalan-persoalan yang berkenaan dengan proses dan faktor-faktor yang berhubungan dengan tindakan belajar.

Karena konsentrasinya pada persoalan belajar, yakni persoalan-persoalan yang senantiasa melekat pada subjek didik, maka konsumen utama psikologi pendidikan ini pada umumnya adalah pada pendidik. Mereka memang dituntut untuk menguasai bidang ilmu ini agar mereka, dalam menjalankan fungsinya, dapat menciptakan kondisi-kondisi yang memiliki daya dorong yang besar terhadap berlangsungnya tindakan-tindakan belajar secara efektif.

B. Mendorong Tindakan Belajar

Pada umumnya orang beranggapan bahwa pendidik adalah sosok yang memiliki sejumlah besar pengetahuan tertentu, dan berkewajiban menyebarluaskannya kepada orang lain. Demikian juga, subjek didik sering dipersepsikan sebagai sosok yang bertugas mengkonsumsi informasi-informasi dan pengetahuan yang disampaikan pendidik. Semakin banyak informasi pengetahuan yang mereka serap atau simpan semakin baik nilai yang mereka peroleh, dan akan semakin besar pula pengakuan yag mereka dapatkan sebagai individu terdidik.

Anggapan-anggapan seperti ini, meskipun sudah berusia cukup tua, tidak dapat dipertahankan lagi. Fungsi pendidik menjejalkan informasi pengetahuan sebanyak-banyakya kepada subjek didik dan fungsi subjek didik menyerap dan mengingat-ingat keseluruhan informasi itu, semakin tidak relevan lagi mengingat bahwa pengetahuan itu sendiri adalah sesuatu yang dinamis dan tidak terbatas. Dengan kata lain, pengetahuan-pengetahuan (yang dalam perasaan dan pikiran manusia dapat dihimpun) hanya bersifat sementara dan berubah-ubah, tidak mutlak (Goble, 1987 : 46). Gugus pengetahuan yang dikuasai dan disebarluaskan saat ini, secara relatif, mungkin hanya berfungsi untuk saat ini, dan tidak untuk masa lima hingga sepuluh tahun ke depan. Karena itu, tidak banyak artinya menjejalkan informasi pengetahuan kepada subjek didik, apalagi bila hal itu terlepas dari konteks pemenuhan kebutuhan hidup sehari-hari.

Namun demikian bukan berarti fungsi traidisional pendidik untuk menyebarkan informasi pengetahuan harus dipupuskan sama sekali. Fungsi ini, dalam batas-batas tertentu, perlu dipertahankan, tetapi harus dikombinasikan dengan fungsi-fungsi sosial yang lebih luas, yakni membantu subjek didik untuk memadukan informasi-informasi yang terpecah-pecah dan tersebar ke dalam satu falsafah yang utuh. Dengan kata lain dapat diungkapkan bahwa menjadi seorang pendidik dewasa ini berarti juga menjadi “penengah” di dalam perjumpaan antara subjek didik dengan himpunan informasi faktual yang setiap hari mengepung kehidupan mereka.

Sebagai penengah, pendidik harus mengetahui dimana letak sumber-sumber informasi pengetahuan tertentu dan mengatur mekanisme perolehannya apabila sewaktu-waktu diperlukan oleh subjek didik.Dengan perolehan informasi pengetahuan tersebut, pendidik membantu subjek didik untuk mengembangkan kemampuannya mereaksi dunia sekitarnya. Pada momentum inilah tindakan belajar dalam pengertian yang sesungguhya terjadi, yakni ketika subjek didik belajar mengkaji kemampuannya secara realistis dan menerapkannya untuk mencapai kebutuhan-kebutuhannya.

Dari deskripsi di atas terlihat bahwa indikator dari satu tindakan belajar yang berhasil adalah : bila subjek didik telah mengembangkan kemampuannya sendiri. Lebih jauh lagi, bila subjek didik berhasil menemukan dirinya sendiri ; menjadi dirinya sendiri. Faure (1972) menyebutnya sebagai “learning to be”.

Adalah tugas pendidik untuk menciptakan kondisi yang kondusif bagi berlangsungnya tindakan belajar secara efektif. Kondisi yang kondusif itu tentu lebih dari sekedar memberikan penjelasan tentang hal-hal yang termuat di dalam buku teks, melainkan mendorong, memberikan inspirasi, memberikan motif-motif dan membantu subjek didik dalam upaya mereka mencapai tujuan-tujuan yang diinginkan (Whiteherington, 1982:77). Inilah fungsi motivator, inspirator dan fasilitator dari seorang pendidik.

C. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Proses dan Hasil Belajar

Agar fungsi pendidik sebagai motivator, inspirator dan fasilitator dapat dilakonkan dengan baik, maka pendidik perlu memahami faktor-faktor yang dapat mempengaruhi proses dan hasil belajar subjek didik. Faktor-faktor itu lazim dikelompokkan atas dua bahagian, masing-masing faktor fisiologis dan faktor psikologis (Depdikbud, 1985 :11).

1. Faktor Fisiologis

Faktor-faktor fisiologis ini mencakup faktor material pembelajaran, faktor lingkungan, faktor instrumental dan faktor kondisi individual subjek didik.Material pembelajaran turut menentukan bagaimana proses dan hasil belajar yang akan dicapai subjek didik. Karena itu, penting bagi pendidik untuk mempertimbangkan kesesuaian material pembelajaran dengan tingkat kemampuan subjek didik ; juga melakukan gradasi material pembelajaran dari tingkat yang paling sederhana ke tingkat lebih kompeks.

Faktor lingkungan, yang meliputi lingkungan alam dan lingkungan sosial, juga perlu mendapat perhatian. Belajar dalam kondisi alam yang segar selalu lebih efektif dari pada sebaliknya. Demikian pula, belajar padapagi hari selalu memberikan hasil yang lebih baik dari pada sore hari. Sementara itu, lingkungan sosial yang hiruk pikuk, terlalu ramai, juga kurang kondisif bagi proses dan pencapaian hasil belajar yang optimal.

Yang tak kalah pentingnya untuk dipahami adalah faktor-faktor instrumental, baik yang tergolong perangkat keras (hardware) maupun perangkat lunak (software). Perangkat keras seperti perlangkapan belajar, alat praktikum, buku teks dan sebagainya sangat berperan sebagai sarana pencapaian tujuan belajar. Karenanya, pendidik harus memahami dan mampu mendayagunakan faktor-faktor instrumental ini seoptimal mungkin demi efektifitas pencapaian tujuan-tujuan belajar.

Faktor fisiologis lainnya yang berpengaruh terhadap proses dan hasil belajar adalah kondisi individual subjek didik sendiri. Termasuk ke dalam faktor ini adalah kesegaran jasmani dan kesehatan indra. Subjek didik yang berada dalam kondisi jasmani yang kurang segar tidak akan memiliki kesiapan yang memadai untuk memulai tindakan belajar.

2. Faktor Psikologis

Faktor-faktor psikologis yang berpengaruh terhadap proses dan hasil belajar

jumlahnya banyak sekali, dan masing-masingnya tidak dapat dibahas secara

terpisah.

Perilaku individu, termasuk perilaku belajar, merupakan totalitas penghayatan dan aktivitas yang lahir sebagai hasil akhir saling pengaruh antara berbagai gejala, seperti perhatian, pengamatan, ingatan, pikiran dan motif.

2.1. Perhatian

Tentulah dapat diterima bahwa subjek didik yang memberikan perhatian intensif dalam belajar akan memetik hasil yang lebih baik. Perhatian intensif ditandai oleh besarnya kesadaran yang menyertai aktivitas belajar. Perhatian intensif subjek didik ini dapat dieksloatasi sedemikian rupa melalui strategi pembelajaran tertentu, seperti menyediakan material pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan subjek didik, menyajikan material pembelajaran dengan teknik-teknik yang bervariasi dan kreatif, seperti bermain peran (role playing), debat dan sebagainya.

Strategi pemebelajaran seperti ini juga dapat memancing perhatian yang spontan dari subjek didik. Perhatian yang spontan dimaksudkan adalah perhatian yang tidak disengaja, alamiah, yang muncul dari dorongan-dorongan instingtif untuk mengetahui sesuatu, seperti kecendrungan untuk mengetahui apa yang terjadi di sebalik keributan di samping rumah, dan lain-lain. Beberapa hasil penelitian psikologi menunjukkan bahwa perhatian spontan cendrung menghasilkan ingatan yang lebih lama dan intensif dari pada perhatian yang disengaja.

2.2. Pengamatan

Pengamatan adalah cara pengenalan dunia oleh subjek didik melalui penglihatan, pendengaran, perabaan, pembauan dan pengecapan. Pengamatan merupakan gerbang bai masuknya pengaruh dari luar ke dalam individu subjek didik, dan karena itu pengamatan penting artinya bagi pembelajaran.

Untuk kepentingan pengaturan proses pembelajaran, para pendidik perlu memahami keseluruhan modalitas pengamatan tersebut, dan menetapkan secara analitis manakah di antara unsur-unsur modalitas pengamatan itu yang paling dominan peranannya dalam proses belajar. Kalangan psikologi tampaknya menyepakati bahwa unsur lainnya dalam proses belajar. Dengan kata lain, perolehan informasi pengetahuan oleh subjek didik lebih banyak dilakukan melalui penglihatan dan pendengaran.

Jika demikian, para pendidik perlu mempertimbangkan penampilan alat-alat peraga di dalam penyajian material pembelajaran yang dapat merangsang optimalisasi daya penglihatan dan pendengaran subjek didik. Alat peraga yang dapat digunakan, umpamanya ; bagan, chart, rekaman, slide dan sebagainya.

2.3. Ingatan

Secara teoritis, ada 3 aspek yang berkaitan dengan berfungsinya ingatan, yakni (1) menerima kesan, (2) menyimpan kesan, dan (3) memproduksi kesan. Mungkin karena fungsi-fungsi inilah, istilah “ingatan” selalu didefinisikan sebagai kecakapan untuk menerima, menyimpan dan mereproduksi kesan.

Kecakapan merima kesan sangat sentral peranannya dalam belajar. Melalui kecakapan inilah, subjek didik mampu mengingat hal-hal yang dipelajarinya.

Dalam konteks pembelajaran, kecakapan ini dapat dipengaruhi oleh beberapa hal, di antaranya teknik pembelajaran yang digunakan pendidik. Teknik pembelajaran yang disertai dengan penampilan bagan, ikhtisar dan sebagainya kesannya akan lebih dalam pada subjek didik. Di samping itu, pengembangan teknik pembelajaran yang mendayagunakan “titian ingatan” juga lebih mengesankan bagi subjek didik, terutama untuk material pembelajaran berupa rumus-rumus atau urutan-urutan lambang tertentu. Contoh kasus yang menarik adalah mengingat nama-nama kunci nada g (gudeg), d (dan), a (ayam), b (bebek) dan sebagainya.

Hal lain dari ingatan adalah kemampuan menyimpan kesan atau mengingat. Kemampuan ini tidak sama kualitasnya pada setiap subjek didik. Namun demikian, ada hal yang umum terjadi pada siapapun juga : bahwa segera setelah seseorang selesai melakukan tindakan belajar, proses melupakan akan terjadi. Hal-hal yang dilupakan pada awalnya berakumulasi dengan cepat, lalu kemudian berlangsung semakin lamban, dan akhirnya sebagian hal akan tersisa dan tersimpan dalam ingatan untuk waktu yang relatif lama.

Untuk mencapai proporsi yang memadai untuk diingat, menurut kalangan psikolog pendidikan, subjek didik harus mengulang-ulang hal yang dipelajari dalam jangka waktu yang tidak terlalu lama. Implikasi pandangan ini dalam proses pembelajaran sedemikian rupa sehingga memungkinkan bagi subjek didik untuk mengulang atau mengingat kembali material pembelajaran yang telah dipelajarinya. Hal ini, misalnya, dapat dilakukan melalui pemberian tes setelah satu submaterial pembelajaran selesai.

Kemampuan resroduksi, yakni pengaktifan atau prosesproduksi ulang hal-hal yang telah dipelajari, tidak kalah menariknya untuk diperhatikan. Bagaimanapun, hal-hal yang telah dipelajari, suatu saat, harus diproduksi untuk memenuhi kebutuhan tertentu subjek didik, misalnya kebutuhan untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan dalam ujian ; atau untuk merespons tantangan-tangan dunia sekitar.

Pendidik dapat mempertajam kemampuan subjek didik dalam hal ini melalui pemberian tugas-tugas mengikhtisarkan material pembelajaran yang telah diberikan.

2.4. Berfikir

Definisi yang paling umum dari berfikir adalah berkembangnya ide dan konsep (Bochenski, dalam Suriasumantri (ed), 1983:52) di dalam diri seseorang. Perkembangan ide dan konsep ini berlangsung melalui proses penjalinan hubungan antara bagian-bagian informasi yang tersimpan di dalam didi seseorang yang berupa pengertian-perngertian. Dari gambaran ini dapat dilihat bahwa berfikir pada dasarnya adalah proses psikologis dengan tahapan-tahapan berikut : (1) pembentukan pengertian, (2) penjalinan pengertian-pengertian, dan (3) penarikan kesimpulan.

Kemampuan berfikir pada manusia alamiah sifatnya. Manusia yang lahir dalam keadaan normal akan dengan sendirinya memiliki kemampuan ini dengan tingkat yang reletif berbeda. Jika demikian, yang perlu diupayakan dalam proses pembelajaran adalah mengembangkan kemampuan ini, dan bukannya melemahkannya. Para pendidik yang memiliki kecendrungan untuk memberikan penjelasan yang “selengkapnya” tentang satu material pembelajaran akan cendrung melemahkan kemampuan subjek didik untuk berfikir. Sebaliknya, para pendidik yang lebih memusatkan pembelajarannya pada pemberian pengertian-pengertian atau konsep-konsep kunci yang fungsional akan mendorong subjek didiknya mengembangkan kemampuan berfikir mereka. Pembelajaran seperti ni akan menghadirkan tentangan psikologi bagi subjek didik untuk merumuskan kesimpulan-kesimpulannya secara mandiri.

2.5. Motif

Motif adalah keadaan dalam diri subjek didik yang mendorongnya untuk melakukan aktivitas-aktivitas tertentu. Motif boleh jadi timbul dari rangsangan luar, seperti pemberian hadiah bila seseorang dapat menyelesaikan satu tugas dengan baik. Motif semacam ini sering disebut motif ekstrensik. Tetapi tidak jarang pula motif tumbuh di dalam diri subjek didik sendiri yang disebut motif intrinsik. Misalnya, seorang subjek didik gemar membaca karena dia memang ingin mengetahui lebih dalam tentang sesuatu.

Dalam konteks belajar, motif intrinsik tentu selalu lebih baik, dan biasanya berjangka panjang. Tetapi dalam keadaan motif intrinsik tidak cukup potensial pada subjek didik, pendidik perlu menyiasati hadirnya motif-motif ekstrinsik. Motif ini, umpamanya, bisa dihadirkan melalui penciptaan suasana kompetitif di antara individu maupun kelompok subjek didik. Suasana ini akan mendorong subjek didik untuk berjuang atau berlomba melebihi yang lain.Namun demikian, pendidik harus memonitor suasana ini secara ketat agar tidak mengarah kepada hal-hal yang negatif.

Motif ekstrinsik bisa juga dihadirkan melalui siasat “self competition”, yakni menghadirkan grafik prestasi individual subjek didik.Melalui grafik ini, setiap subjek didik dapat melihat kemajuan-kemajuannya sendiri. Dan sekaligus membandingkannya dengan kemajuan yang dicapai teman-temannya.Dengan melihat grafik ini, subjek didik akan terdorong untuk meningkatkan prestasinya supaya tidak berada di bawah prestasi orang lain.