Cacatan dalam blog ini, Kupersembahkan untuk KEMANUSIAAN. Yang di dalamnya merupakan bagian dari perjalanan, pengalaman, renungan, inspirasi dan refleksi dari kehidupan. Yang di dalamnya aku belajar, berjuang dan memahami arti sebuah kehidupan, Yang didalamnya aku temukan Indahnya kasih sayang Tuhan
Tuesday, August 17, 2010
PERAN INDUSTRI BISNIS SINGAPURA DAN PENGARUHNYA DI PASAR ASIA TENGGARA DAN STRATEGI BISNIS PARA WIRAUSAHA MUDA INDONESIA DALAM MEMBANGUN BISNIS SEKALI
Globalisasi dari sisi ekonomi adalah suatu perubahan di dalam perekonomian dunia yang bersifat mendasar atau struktural dan akan berlangsung terus dalam laju yang semakin pesat mengikuti kemajuan teknologi yang juga prosesnya semakin cepat. Globalisasi ekonomi ini ditandai dengan semakin menipisnya batas-batas kegiatan ekonomi atau pasar secara nasional atau regional, tetapi semakin mengglobal menjadi “satu” proses yang melibatkan banyak negara. Fenomena yang terjadi sekarang ini adalah tidak relevan lagi mencantumkan nama negara asal dari suatu produk; orang hanya tau bahwa lampu itu adalah buatan Philips yang pabrik pembuatanya bukan di Belanda, tetapi misalnya di Tangerang. Banyak produk dari Disney bukan buatan AS melainkan dibuat di Cina dengan memakai tenaga kerja, bahan baku dan modal dari negara tersebut. Sekarang ini semakin banyak produk-produk yang komponennya di buat di lebih dari satu negara (seperti komputer, mobil, pesawat terbang, dll.), dan banyak perusahaan-perusahaan multinasional mempunyai kantor pusat bukan di negara asal melainkan di pusat-pusat keuangan di negara-negara lain seperti London dan New York.
Sekarang ini, perkembangan dunia bisnis dan industri tertuju pada Singapura yang maju pesat walaupun negara ini mempunyai wilayah yang kecil. Berdasarkan Survei Zafar U. Ahmed (2004), President and CEO Academy for Global Business Advancement Inc., Texas A & M University At Commerce, Texas, USA dalam Ali Abas J. & Robert C. (2005) keberhasilan Singapura sebagi pusat bisnis internasional antara lain dipengaruhi oleh banyak factor. Pertama, faktor lokasi yang mampu berinteraksi ke negara-negara tetangga. Kedua, Kontribusi MNC Membangun infrastruktur bisnis kelas dunia, 96% GDP oleh MNC, 95% MNC memanfaatkan komponen perusahaan lokal dan MNC telah melakukan transfer: teknologi, technical expertise dan kemampuan manajerial kepada perusahaan lokal dan bahkan merangsang pertumbuhan wirausaha baru yang mendukung pembangunan ekonomi Singapura.
Pemaknaan Kembali dan Revitalisasi Nilai-Nilai Pancasila Melalui Pendidikan Sebagai Solusi Memerangi Ancaman Globalisasi Generasi Muda dalam Kehidupan
Latar Belakang MasalahDalam era globalisasi sekarang ini, perubahan hidup bisa terjadi begitu cepat karena perputaran arus informasi. Perkembangan teknologi informasi contohnya yang membuat perputaran informasi dari seluruh dunia begitu cepat berjalan. Dunia yang begitu luas menjadi semakin sempit. Globalisasai membuat kabur batas-batas nilai sebuah negara, menjadikan tatanan dunia menjadi tidak lagi ada batas nyata dalam tatanan hidup masyarakat. Budaya asing mudah saja masuk dan tidak menutup kemungkinan jika budaya asing tersebut memiliki pengaruh terhadap nilai-nilai local dan nasional disuatu negara. M.Habib Mustopo (1992 dalam Mulyono) menyatakan, bahwa pergeseran dan perubahan nilai-nilai akan menimbulkan kebimbangan, terutama didukung oleh kenyataan masuknya arus budaya asing dengan berbagai aspeknya. Globalisasi itu sendiri merupakan proses menjadi global, bukan hanya local maupun nasional tetapi sudah masuk dalam tataran nasional.
Wednesday, February 10, 2010
KIAT SUKSES LOLOS SELEKSI PARAMADINA FELLOWSHIP 2010
Assalamualaikum Wr.Wb
Salam sejahtera
Hai teman-teman, langsung aja ya. Sebelumnya kami ingin menegaskan, bahwa ini hanyalah sebagai sebuah stimulus bagi teman-teman semua untuk dapat mendaftar Paramadina Fellowship 2010 dengan sebaik-baiknya agar InsyaAllah bisa mendatangkan hasil yang maksimal dan seperti yang kita semua harapkan, amin. Jadi kami tidak dapat memastikan bahwa teman-teman pasti akan diterima bila mengikuti anjuran kami,karena itu memang bukan kewenagan kami, dan ini hanya bersifat to share aja dengan temen-temen berdasarkan pengalaman yang pernah kami alami sebagai penerima Paramadina Felloship 2008 dan 2009. Tapi setidaknya, bisa menjadikan yang terbaik, dan syukur bila dapat menjadikan teman-teman sebagai penerima Paramadina Fellowship 2010, amin.
OK, kita awali dengan cara pengisian Formulir Pendaftaran sebanyak 14 lembar. Perhatikan benar-benar pada halaman depan Formulir pendaftaran yang menyangkut kelengkapan dokumen yang harus dikumpulkan. Pastikan tidak ada satu dokumen pun yang tertinggal, karena itu dapat menyebabkan hal yang fatal bagi kelulusan kalian pada Tahap I.
Isi data diri dan data keluarga kalian dengan selengkap-lengkapnya, usahakan jangan sampai ada yang kosong kecuali bila memang mengharuskan dikosongkan. Apapun itu keadaan kalian, tulis dengan sejujur-jujurnya keadaan kalian dan keluarga kalian. Terkait dengan kolom Cita-cita,Pelajaran,dan Tokoh Favorit isilah dengan serius dan “kalau bisa” cocok dengan jurusan yang anda pilih karena hal itu menunjukan bahwa jurusan yang kalian pilih cocok dengan kepribadian kalian.
Untuk kolom Organisasi berusahalah untuk mengingat kembali Organisasi-Organisasi yang pernah kalian ikuti dari SMP hingga SMA, dan hal ini tidak terpacu pada yang di sekolah saja, misalnya kalian pernah bergabung di Karang Taruna Desa,atau Organisasi-Organisasi yang diadakan di lingkungan sekitar kalian, misalnya Organisasi Remaja Masjid dan sebagainya,sekecil apapun peranan Organisasi itu dalam masyarakat sekitar sekalian, jangan ragu untuk menyertakan keterangan keikutsertaan kalian dalam Organisasi tersebut. Begitu juga dengan prestasi-prestasi kalian, baik yang akademis maupun non akademis, baik berupa sertifikat keikutsertaan hingga piagam kejuaraan tolong kalian sertakan dengan sedetail-detailnya jangan sampai ada yang terlewatkan, termasuk bila kalian pernah bekerja di suatu Instansi, magang, mengikuti pelatihan, Pernah menjadi ketua panitia suatu kegiatan atau perlombaan, pernah menjadi Pembawa Acara, dan masih banyak yang lainya. Kalaupun kalian pernah mengikuti lomba namun tidak menang, menurut hemat kami jangan malu pula untuk menyertakan perlombaan-perlombaan yang pernah kalian ikuti meskipun tidak membuahkan kemenangan. Yang perlu kalian ingat dan catat, suatu hal yang kecil sekalipun akan mendapatkan penilaian tersendiri bila kalian menyertakan hal tersebut dalam formulir pendaftaran kalian.
Hal kedua, adalah menegenai jurusan. Pilihlah Jurusan yang cocok dengan minat dan bakat kalian. Bukan hanya minat, namun sesuaikanlah pula bakat dengan jurusan yang kalian pilih. Pilih jurusan yang benar-benar kalian “punya” kemampuan dalam jurusan tersebut. Karena alasan kalian memilih suatu jurusan yang terkait dengan minat dan bakat kalian mencerminkan sejauh mana kalian cocok dengan jurusan yang anda pilih tersebut. Dan yang jadi penekanan disini, Jurusan merupakan ujung tombak dari kelulusan kalian. Jurusan merupakan hal pertama yang dilihat dari Tim Panel dari formulir pendaftaran kalian kirimkan. So,,saran kami, pikirkan baik-baik jurusan yang akan kalian pilih. Jangan sampai kalian salah memilih jurusan. Ada beberapa jurusan yang peluangnya besar, dan kalaupun kalian memilih jurusan yang “sekiranya” peluangnya tidak terlalu besar, hal itu tidak mengapa, namun itu berarti kalian harus siap berjuang mati-matian karena saingan kalian adalah seluruh siswa dari seluruh Indonesia.Dan jangan pernah takut sebelum kalian berperang. U’ll never know ‘till u have tried.
Hal ketiga yang sering menjadikan pertanyaan bagi kalian adalah tentang Essay. Untuk tahun 2010 ada Essay dengan tema “ Saya di Tahun 2025”. Kalau kami menyarankan tulislah suatu tulisan tentang diri kalian di tahun 2025 yang menyangkut Cita-cita kalian atau impian kalian terkait dengan jurusan yang telah kalian pilih tersebut. Refleksikan diri kalian seperti apakah di tahun 2025. Jangan lupa untuk mengaitkan Kepribadian kalian, Etos Hidup kalian, Motivasi kalian dalam mengikuti PF 2010 dan keyakinan serta semangat untuk lolos PF 2010 dan pastinya bakat dan kemampuan kalian dalam mewujudkan Cita-cita atau harapan kalian dengan melalui jurusan yang kalian pilih tersebut. Bila alasan kalian mengikuti PF 2010 karena alasan finansial, maka jangan pernah malu untuk menuliskan alasan tersebut sesuai kenyataan yang ada.
Essay yang kedua adalah “Pengalaman Pahit Saya” .Tulislah suatu pengalaman pahit yang mungkin paling pahit serta bermakna dalam kehidupan kalian, dimana pengalaman itu menjadi Kontributor terbesar dalam perubahan hidup kalian ke arah yang lebih positif tentunya di masa sekarang. Jangan lupa menceritakan kegigihan kalian dalam menghadapi kepahitan tersebut. Tunjukan bahwa kalian adalah sosok pribadi yang kuat,tegar,tawakal dan selalu bertekad untuk merubah kepahitan tersebut menjadi suatu kondisi yang bisa mendatangkan kebaikan bagi kalian,tunjukan bahwa kalian adalah sosok yang pintar mengambil hikmah dari setiap musibah.Dan tulis pula “sedikit atau sebersit” tentang pengalaman berharga kalian, sehingga Tim Panel mengetahui “sedikit” tentang pengalaman berharga yang pernah kalian raih. Mungkin saja pengalaman berharga itu merupakan hasil dari pengalaman pahit kalian.
Yang perlu menjadi catatan di sini adalah, tulis dengan serapi-rapinya Essay tersebut, karena tulisan mencerminkan kepribadian. bagi kalian yang pintar berbahasa Inggris, kami persilakan bila kalian ingin menulis dalam bahasa Inggris, karena bagi kalian yang bisa berbahasa asing mempunyai nilai plus tersendiri. namun bagi kalian yang lebih nyaman menggunkan bahasa Indonesia, maka tulis saja dalam bahasa Indonesia. Just be your self aja.
Ketiga, adalah mengenai Surat Rekomendasi Guru (ditulis menggunakan huruf balok). Usahakan minta rekomendasi kepada guru yang benar-benar mengenal kalian secara luar dalam, baik tentang kepribadian kalian, prestasi kalian, keadaan ekonomi kalian, hingga keaktifan kalian di lingkungan sekolah. Begitu pula dengan Surat Rekomendasi dari Kepala Sekolah ataupun Tokoh Masyarakat.Sedikit tips, sebelum Pemberi Rekomendasi memberikan Rekomendasi untuk kalian, berilah pengertian secara baik-baik kepada Pemberi Rekomendasi bahwa rekomendasi ini sangat menentukan bagi kalian terkait penerimaaan beasiswa dari Paramadina Fellowship 2010, agar Pemberi Rekomendasi bisa membantu anda melalui Rekomendasu yang beliau berikan, (ingat surat Rekomendasi harus tertutup rapat dalam amplop saat dikirimkan).
Pengalaman untuk penyemangat dalam mengikuti PF 2010.
Temen-temen cukup mengingat satu kalimat motivasi You’ll never know ‘ till you have tried. Kita gak akan tahu sebelum kita mencobanya. Jangan sampai teman-teman menyerah sebelum mengikuti PF 2010. Jangan pernah teman-teman mengurungkan niat untuk mendaftar PF 2010 karena ‘mungkin’ teman-teman merasa tidak pintar, tidak mempunyai prestasi, atau nilai raport yang pas-pasan, come on guys,,setiap manusia pasti mempunyai kelebihan. Bagaimana kita menggunakan kelebihan kita untuk menutupi kekurangan kita, itulah yang harus kita perjuangkan dalam mengikuti Paramadina Fellowship.
Sekedar cerita, saya bukanlah seorang yang pintar. Nilai rata-rata raport saya tiap semester juga tergolong “pas-pasan”. Bahkan bisa dikatakan dari semua pendaftar dari SMA 1 kudus, hanya saya yang mempunyai nilai rata-rata terendah. Satu kenyataan yang bisa menjatuhkan mental siapapun yang tidak mempunyai keberanian dan modal “nekad”. Namun saya selalu ingat kalimat motivasi yang saya sebutkan di atas tadi. Maka dari kalimat itulah saya selalu maju dan siap berperang melawan setiap tantangan dalam mengikuti Paramadina Fellowship.Karena saya yakin, Tuhan pasti melengkapi saya dengan segala kelebihan sebagai penawar atas segala kekurangan saya. Dan memang benar, Tim Panel adalah “Orang-Orang Hebat “ yang dapat melihat kita dari berbagai macam sisi.Bukan hanya sisi akademis saja, namun lebih jauh dari itu, Tim Panel dapat menemukan kekuatan-kekuatan di luar akademis kita yang dapat menjadi nilai plus tersendiri bagi diri kita. Dan Paramadina adalah Universitas yang menilai seseorang bukan hanya dari nilai akademisnya saja, karena nilai kecerdasan emosional , prestasi, keaktivan dan etika merupakan faktor yang sangat penting untuk diperhitungkan.Hal ini terbukti dari banyaknya para pendaftar yang gagal karena mereka hanya bermodalkan nilai akademis dan prestasi saja, tanpa memiliki faktor-faktor lain yang menguatkannya. Jadi tetaplah rendah hati atas segala kelebihan kalian, jangan sampai kalian mengesankan bahwa kalian adalah seseorang yang sombong. Jadi jangan pernah ragu untuk mencoba mengikuti Paramadina Fellowship hanya karena ketakutan-ketakutan kita sebelum berperang. Dan segala penilaian pada tahap I adalah berdasarkan formulir pendaftaran yang kalian kumpulkan, jadi isilah formulir pendaftaran secara baik, karena itulah cikal bakal dari kesuksesan kalian untuk mendapatkan Paramadina Fellowship, termasuk dalam menuliskan prestasi dan berbagai macam kegiatan yang pernah kalian ikuti selama ini.
Sedikit menyinggung tentang berita yang cukup menganggu berkaitan dengan Universitas Paramadina adalah tentang Jaringan Islam Liberal (JIL). Percayalah teman-teman, Paramadina tidak ada sangkut paut sedikitpun dengan JIL. Sebagai orang yang berpendidikan, harusnya kita dapat membedakan antara Cak Nur sebagai Tokoh Pembaharuan Islam yang bersifat Modernisme dan JIL yang mengajarkan tentang Sekularisme. Karena Modernisme dan Sekularisme itu sesungguhnya berbeda, namun bagi “oknum” yang tidak pernah membaca Buku-buku karangan Cak Nur cenderung akan menyamaratakan antara Cak Nur sebagai pendiri Paramadina dan JIL. Dan JIL mempunyai “markas” tersendiri yang bertempat di Daerah Utan Kayu Jakarta dan sangat jauh dari Kampus Paramadina, dan JIL tidak berperan apa-apa di dalam Paramadina, karena mereka tidak ada hubungan apa-apa dengan Paramadina. Semoga kalian sebagai orang yang berpendidikan dapat mempercayai orang yang sudah bertahun-tahun di Paramadina,yang telah mengetahui seluk beluk Paramadina, daripada kabar burung dari orang-orang yang tidak berpengetahuan apa-apa dan hanya mengikuti berita-berita yang beredar yang tidak terbukti kebenaranya. Bagaimana mungkin kita mempercayai Orang yang tidak pernah membaca dan tidak pernah bersinggungan secara langsung dengan Paramadina dan JIL itu sendiri? kami berbicara tentang kebenaran, bukan tentang loyalitas kami sebagai mahasiswa dari Paramadina.
Jadi teman-teman yang kami cintai, semangatlah kalian dalam mengikuti Paramadina Fellowshipn 2010. Jangan pernah takut untuk mencoba. Setiap keputusan pasti akan mendatangkan tantangan dan resiko. So, janganlah mudah menyerah dalam menghadapi setiap permasalahan dan tantangan yang muncul dalam proses kalian mengikuti Paramadina Fellowship 2010, karena Tantangan ada bukan untuk ditakuti atau dihindari dan dibiarkan sebagai pematah semangat meraih impian,namun tantangan ada untuk kita takhlukan sebagai kekuatan dalam menjemput kesuksesan. Namun semua ini tidak terlepas dari ikhtiar dan do’a. Usaha tanpa do’a adalah sombong belaka, dan do’a tanpa usaha adalah sia-sia belaka. Meminjam kalimat filsafat, ketika kamu menginginkan sesuatu, maka percayalah seluruh isi dunia akan bersatu untuk membantumu mendapatkan keinginanmu.
Semoga apa yang kami berikan ini dapat memberikan manfaat bagi teman-teman semuanya.Selamat mencoba,berjuang, berdo’a, dan kami tunngu kehadiran teman-teman semuanya di Universitas Paramadina Jakarta.
Monday, February 8, 2010
Gambaran dan Peranan Pola Asuh Ibu yang Bekerja dalam Meningkatkan Kecerdasan Emosi (EQ ) Anak Sebagai Modal Untuk Meraih Kesuksesan
Salah satu bentuk pengasuhan yang sangat bagus adalah dengan memaksimalkan kecerdasan emosional anak kerana kecerdasan emosional ini sangatlah menentukan dalam kesuksesan hidup seseorang. Penulis berasumsi bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara pola pengasuhan orang tua dalam meningkatkan keserdasan emosi dengan kesuksesan hidup anak di masa mendatang. Anak yang dibesarkan oleh ibu yang bekerja akan memiliki kecerdasan emosional yang bagus dan self esteem yang tinggi sehingga tumbuh menjadi pribadi yang tangguh dan berkarakter. Lalu, timbul pertanyaan dalam benak kita, apa yang seharusnya ibu yang bekerja (wanita karier) lakukan agar bisa tetap menjalankan peran dalam pengasuhan anaknya sehingga perkembangan psikologis anak bisa berjalan sesuai dengan perkembangan buah hatinya? Seberapa besar peranan pola asuh ibu yang bekerja terhadap perkembangan psikologis dan emosional anak?
Topik ini penulis angkat karena penulis prihatin dengan kondisi anak-anakzaman sekarang. Jika kita tengok dengan seksama anak-anak disekitar kita, tentunyaakan menimbulkan sebuah perhatian yang serius. Bisa dikatakan anak-anak padagenerasi sekarang banyak mengalami kesulitan emosional. Banyak dari mereka menjadipemurung dan kesepian serta lebih agresif dan kurang mengindahkan sopan santun.Selain itu, mereka lebih gugup, cemas dan cenderung impulsif. Hal yang sangatmenyedihkan adalah mereka menjadi seseorang menarik diri dari pegaulan, sukamenyendiri dan merasa kurang bahagia sehingga banyak dari mereka terjebak dalampenggunaan obat-obatan terlarang.
PEMBAHASAN
Ibu yang bekerja adalah seorang ibu yang aktivitasnya melayani suami dan anak, serta ikut bekerja menambah penghasilan. Jadi, bisa dikatakan bahwa ibu yang bekerja mempunyai peran ganda yaitu mendidik anak dan bekerja. Mereka akan memiliki kepauasan hidup, punya penyesuaian diri yang bagus, memiliki harga diri yang tinggi. Dalam mendidik anak, ibu yang bekerja kurang menggunakan teknik disiplin yang keras dan otoriter, mereka lebih banyak pengertian dalam keluarganya dan anak. Selain itu, mereka akan mampu bersikap positif dalam mengatasi konflik-konflik rumah tangga, serta dapat melakukan kendali langsung terhadap permasalahan yang terjadi (Sofyan, 2005, dalam Prieska Aditya Yasmine ).
Menurut Mussen, dkk (1989) pola asuh orang tua digolongkan menjadi tiga bentuk pengasuhan. Pertama, pola asuh otoriter (Authoritarian). Pola asuh otoriter ditunjukkan dengan adanya penggarisan norma oleh orang tua serta kontrol yang ketat pada anak guna mendapat kepatuhan dan ketaatan yang mutlak. Kedua, pola asuh
permisif (permissive) merupakan bentuk pengasuhan dimana orang tua sepenuhnya memandang anak sebagai pribadi yang memiliki otonomi terhadap dirinya sendiri. Ketiga, adalah pola asuh demokratis (Authoritative) merupakan metode yang digunakan orang tua dimana mereka memberikan penjelasan dalam membuat peraturan dan perilaku yang diharapkan dengan bertambahnya usia anak. Tidak saja sampai disitu, anak juga diberi kesempatan untuk menyatakan pendapat mengenai peraturan yang dibuat.
Dari teori diatas, penulis dapat mengambil sebuah kesimpulan bahwa pola pengasuhan yang paling baik adalah demokratis (Authoritative ). Dalam penerapan pola asuh demokratis, orang tua menghargai kebebasan namun tetap diarahkan dan dibimbing dengan penuh pengertian sehingga tercapai komunikasi yang sifatnya timbal balik. Ada juga penggunaan hukuman yang bertujuan untuk memberi tekanan agar anak sadar mana yang baik dan tidak. Falsafah yang mendasari penerapan pola asuh ini bertujuan mengajarkan anak agar mengembangkan kendali atas perilaku mereka sehingga dapat melakukan meskipun orang tua tidak mengawasi, atau dengan kata lain mempunyai kesadaran diri (self awarness) yang tinggi.
Salah satu aspek yang hendaknya orang tua tekankan selain kecerdasan intelektual (Intellegences Quotient) dan kecerdasan spiritual (Spiritual Quotient) adalah perkembangan kecerdasan emosi (emosional quotient). Peran kecerdasan emosional dalam kehidupan sesorang sangatlah penting dan lebih besar dari kecerdasan intelektual maupun spiritual. Mengasuh anak dengan EQ adalah jumlah total apa yang kita lakukan, hal besar atau kecil, hari demi hari, yang dapat menciptakan keseimbangan lebih sehat dalam rumah tangga dengan hubungan dengan anak-anak. Tindakan otang tua harus menekankan pentingnya perasaan dan membantu orangtua dan anak-anak mengatasi serangkain emosi dengan pengendalian diri, bukan dengan tindakan impulsif, serta tidak membiarkan kita terlalu terbawa perasaan.
Jika kita tarik benang merah antara bentuk pola pengasuhan dan pengertian mengasuh anak dengan EQ ternyata ada kesamaan esensi yaitu adanya peran orang tua dalam membantu anak dalam mengatasi dan mengenali emosi dan perilakunya tanpa tindakan yang memaksa, tetap mendengarkan pendapat dari anak. Hal ini bisa menjadi bright solution dalam mempersiapkan anak menjadi pribadi yang tangguh dengan karakter kuat serta mampu menjawab tantangan perkembangan zaman.
Banyak penelitian yang menyimpulkan bahwa peran kecerdasan emosional sangatlah besar sekali jika dibanding dengan kecerdasan lain. ”…Dalam sebuah survey terhadap ratusan perusahaan di AS, terungkap pula faktor yang menjadikan seorang pemimpin atau manajer, yang terpenting bukanlah teknis atau analisis melainkan adalah yang berhubungan dengan perasaan dan emosi atau perasaan yang berhubungan dengan
personal. Menurut Prof. Dr. Sarlito Wirawan Sarwono, guru besar Fakultas Psikologi, Universitas Indonesia, Jakarta, Indonesia, konon IQ hanya memberi konstribusi 20% dari kesuksesan hidup seseorang, selebihnya tergantung pada kecerdasan emosi (Emosional Intellegence, EI atau EQ) dan sosial yang bersangkutan. Disisi lain, 90 % “keberhasilan kerja” manusia ternyata ditentukan oleh kecerdasan emosionalnya, sisanya (sekitar 4%) jatah kemampuan teknis….”.
Menurut Goleman (1996) kecerdasan emosional merupakan kemampuan emosional yang dimiliki individu yang meliputi kemampuan mengontrol diri sendiri (self control), memiliki semangat dan ketekunan (zeal and persistence), kemampuan memotivasi diri sendiri (ability to motivate one self), ketahanan menghadapi frustasi, kemampuan mengatur suasana hati (mood) dan kemampuan menunjukkan empati, harapan serta optimisme, individu mampu membina hubungan yang baik dengan orang lain, mudah mengenali emosi orang lain dan penuh perhatian ( Tridhonanto Al & Baranda Agency, 2009 ; 11-16).
Menurut penulis, aspek-aspek dalam kecerdasan emosi yang telah dipaparkan di atas sangatlah kompleks dan sangat relevan dibutuhkan seseorang untuk bisa survive dalam menapaki perjalanan hidup yang cepat berubah. Berbekal dari kemampuan mengontrol diri dan mengenal emosi seseorang akan mampu untuk mengenali perasaan sesuai dengan apa yang terjadi, mampu memantau perasaan dari waktu ke waktu dan merasa selaras terhadap apa yang dirasaakan. Hal tersebut sangatlah penting dalam diri individu karena dialah yang mengerti akan siapakah dirinya, seberapa besarkah kemampuan dan kekuarangan yang dia miliki serta mampu untuk memenangkan diri, melepaskan diri dari kecemasan, kemurungan dan kemarahan yang terjadi. Selain hal tersebut aspek yang terdapat dalam kecerdasan emosioanal adalah kemampuan mengenali emosi orang lain yang tidak lain adalah kemampuan mengetahui perasaan orang lain (kesadaran empatik), menyesuaikan diri terhadap apa yang diinginkan orang lain serta aspek kemampuan membina hubungan, yaitu
kemampuan mengelola emosi orang lain dan berinteraksi secara mulus dengan orang lain. Dari hal tersebut sangatlah relevan jika kecerdasan emosional sangatlah penting dalam menentukan suksesnya seseorang dalam menjalani hidup.
Bagaimana pola asuh dan tingkah laku yang mestinya Ibu lakukan terhadap anaknya? Hal yang bisa ibu lakukan antara lain adalah membiasakan buah hati menentukan perasaan secara tepat, meyatakan kebutuhan emosinya, ajarkan buah hati untuk menghormati perasaan orang lain, tunjukkan sikap empati kepada orang lain, serta tidak memaksakan kehendak terhadap anak.
Berikut adalah bentuk pola asuh yang penulis rekomendasikan untuk ibu yang bekerja agar bisa melatih anak tumbuh dan berkembang dengan EQ dan kemandirian. Pertama, beri kesempatan anak unutuk memilih, anak yang terbiasa berhadapan dengan situasi yang sudah ditentukan orang lain akan menjadi pribadi yang malas unutk melakukan pilihannya sendiri. Sebaliknya, jika anak terbiasa dihadapkan dengan beberapa pilihan, maka akan terlatih untuk membuat keputusan sendiri baginya. Kedua hargai usahanya, sekecil apapun usaha yang anak perlihatkan entah itu tepat atau tidak tepat. Hal itu mampu membantu anak merasa diterima dan dihargai. Ketiga, hindari banyak bertanya. Pertanyaan yang ibu ajukan sebenarnya menunjukkan perhatian pada anak, tetapi jika terlalu sering dapat diartikan sebagai sikap yang terlalu ingin tahu. Oleh karena itu, sebaiknya ibu menghindari kesan cerewet dan mau tahu. Keempat adalah jangan langsung menjawab pertanyaan. Bimbinglah dia untuk bisa menjawab pertanyaannya sendiri, dan tugas ibu adalah mengoreksi jika anak salah menjawab pertanyaan tersebut. Kelima adalah memberi dorongan kepada anak untuk melihat alternatif lain. Orang tua bukanlah satu-satunya tempat bertanya, banyak sumber lain yang dapat membantu mangatasi masalah yang ia hadapi. Terakhir adalah jangan patahkan semangatnya, tidak jarang ibu/orang tua ingin menghindarkan anak dari rasa kecewa dengan mengatakan “mustahil” terhadap apa yang anak sedang upayakan. Jika anak sudah mampu dan mau memperlihatkan keinginan untuk mandiri, dorong terus untuk melakukannya.
KESIMPULAN
Dari pembahasan yang penulis coba analis di depan dapat disimpulkan bahwa peran pola asuh ibu yang bekerja sangatlah penting. Untuk mempersiapkan anak menjadi pribadi yang tangguh, punya karakter kuat, mampu membina hubungan dengan lingkungan dan beradaptasi dan manjadi pribadi yang sukses perlu adanya perhatian yang penuh terhadap perkembangan emosional buah hatinya. Bentuk pola asuh yang bisa diterapkan untuk itu adalah dengan pola Authoritaive. Selain pola itu, hal yang perlu ditekankan dalam pengasuhan adalah perkembangan emosional anak.
Diharapkan ibu mengasah kecerdasan emosi anak sejak dini karena peranan kecerdasan emosi sangatlah besar dalam menentukan kesuksesan anak di masa mendatang. Untuk menjawab tantanga tersebut seoarang ibu yang bekerja bisa menggunakan pendekatan humanis terhadap anak. Gambaran dan langkah yang telah penulis rekomendasikan di dalam bab pembahasan bisa dipraktekkan oleh orang tua terutama ibu dalam mengasah kecerdasan emosional buah hati.
DAFTAR PUSTAKA
Ie Yen, A.J . Tjahjoanggoro & Budi Atmadji. 2003. “ Hubungan Antara Kecerdasan Emosi dengan Prestasi Kerja Distribiutor (MLM). Dalam Jurnal ANIMA Vol. 18, Januari 2003.
Mangoenprasojo, A. Setiono & Sri Nur Hayati. 2005. Anak Masa Depan dengan Multi Intellegensi. Yogyakarta: Pradipta Publishing.
Santrock, John W. 2004. Psikologi Pendidikan. Texas : University Of Texas.
Suharyo, Pulung. 2006. “ Gambaran Kecerdasan Emosi Pada Remaja Awal Berdasarkan Pola Asuh Orang Tua”, dalam Skripsi. Universitas Paramadina Jurusan Psikologi.
Tridhonanto, Al & Beranda Agency. 2009. Melejitkan Kecerdasan Emosi (EQ) Buah Hati ; Panduan Bagi Orang Tua Untuk Melejitkan EQ (Kecerdasan Emosional) Anak yang Sangat Menentukan Masa Depan Anak. Jakarta: Alex Media Komputindo.
Yasmine, Prieska Aditya. 2008.“ Perbedaan Kecerdasan Emosi Antra Ibu Rumah Tangga dan Wanita Karier ”, dalam Skripsi. Universitas Paramadina Jurusan Psikologi.
Wade, Carle& Carol Tavris. 2007. Psikologi. Jakarta: Erlangga
Thursday, January 7, 2010
ANALISIS PELUANG DAN PENGHAMBAT KESEMPATAN KERJA BAGI PENYANDANG CACAT
Salah satu masalah social yang patut kita berikan perhatian penuh adalah masalah kesejahteraan penyandang cacat. Sampai saat ini, penyandang cacat menjadi kaum yang tidak begitu diakui layaknya orang yang normal. Padahal ini sepatutnya bisa dihindari. Dalam UUD 1945, penyandang cacat merupakan warga Negara yang punya hak yang sama seperti halnya warga Negara yang lain. Diakui memang, saat ini belum ada semacam payung yang dapat dijadikan perlindungan oleh kaum yang mempunyai keterbatasan ini. Lemahnya Undang-Undang yang ada menyebabkan para penyandang cacat untuk mendapatkan haknya mengalami kesulitan. Dalam UU Negara RI Nomor 4 Tahun 1997 tentang Penyandang Cacat menyebutkan dengan jelas bahwa penyandang cacat mempunyai hak dan kewajiban dalam segala aspek kehidupan dan penghidupan. Mereka mempunyai aspek kesamaan kesempatan yang diwujudkan dalam kemudahan (aksesibilitas), memperoleh rehabilitasi,bantuan social dan pemeliharaan taraf kesejahteraan social. Namun, dilain pihak banyak penyandang cacat yang belum tahu dan kurang menyadari akan hak mereka sehingga mereka tidak mampu melaksanakan aktivitasnya sebagai orang normal lainnya sehingga yang kita lihat adalah banyak dari mereka hanya diam dan tidak menuntut akan haknya.
Istilah penyandang cacat itu sendiri adalah setiap orang yang mempunyai kelainan fisik dan / atau mental, yang dapat menganggu dan merupakan rintangan dan hambatan baginya untuk melakukan secara selayaknya yang meliputi cacat fisik, mental, fisik dan mental (UU No 4 Tahun 1997). Selama ini stigma masyarakat dan diskriminasi terhadap penyandang cacat sangat begitu jelas, lebih-lebih dalam hal pekerjaan. Penyandang cacat sering dianggap tidak bisa melaksanakan pekerjaan yang sesuai dengan standart orang normal, maka tidak heran jika banyak perusahan yang masih sanksi dengan kemampuan dan hasil kerja para penyandang cacat.
Goofman sebagaimana dikemukakan oleh Johnson (1990:47) mengungkapkan bahwa masalah social utama yang dihadapi penyandang cacat adalah bahwa mereka abnormal dalam tingkat yang sedemikian jelasanya sehingga orang lain tidak merasa enak atau tidak mampu berinteraksi dengannya. Lingkungan sekitar telah memberikan stigma kepada mereka bahwa mereka dipandang tida mampu dalam segala hal. Ini merupakan penyebab berbagai masalah yang perlu diselesaikan.
Dari hal tersebut di atas, kita bisa simpulkan bahwa permasalahan yang dihadapi penyandang cacat tidak sebatas pada penyandang cacat itu sendiri melainkan terkait dengan keluarga dan masyarakat. Adam dan Soifer dalam Browne (1982 :49) mengemukakan adanya kebutuhan dari penyandang cacat dan keluarganya. Penyandang cacat membutuhkan dukungan emosional, kesempatan untuk mengungkapkan perasaan dan kesempatan untuk memperoleh pengetahuan perilaku.
Panyandang cacat hanya membutuhkan label dan kepercayaan bahwa dia mampu untuk menjalankan peran sebagaimana orang normal lainnya. Kita semua tahu bahwa 3 Desember telah ditetapkan oleh PBB sebagai hari Internasional penyandang Cacat (HIPENCA). Oleh karena itu para penyandang cacat perlumenyadari akan haknya agar tidak lagi hidup dari belas kasihan dan bantuan pihak lain yang membuat penyandang cacat mudah dikendalikan orang laon, tetapi mempunyai kebebasan untuk menentukan kehendaknya sendiri.
Perumusan Masalah
Dalam artikel ini, penulis berusaha menjelaskan dan memaparkan apa saja yang menjadi peluang dan hambatan para penyandang cacat dalam memperoleh pekerjaan? Apa saja masalah yang melatar belakangi hal tersebut? Bagaimana solusi yang tepat sebagai alternative penyelesaian masalah ini?
Pembahasan
Masalah pekerjaan bagi penyandang cacat merupakan salah satu aspek yang sangat memprihatinkan. Dimana-mana seolah terjadi diskriminasi terhadap aksesibilitas penyandang cacat untuk memperoleh haknya. Selama ini stigma dan diskriminasi baik yang dilakukan pemerintah maupun masyarakat dapat kita lihat dalam pelatihan professional yang diberikan kepada penyandang cacat. Biasanya tuna netra hanya diberikan keterampilan memijat. Sedangkan tuna rungu diberi keterampilan seperti menjahit, melukis, dan mekanis, sementara tuna grahita diberi keterampilan olahraga. Padahal jika diberi kesempatan para penyandang cacat juga dapat berkiprah di bidang lainnya. Misalnya, para penyandang cacat jika dilatih manajemen, tidak menutup kemungkinan bagi mereka untuk menjadi pengelola usaha yang besar nantinya.
Kita patut untuk sedikit lega karena dalam pasal 14 UU no 4 Tahun 1997 menegsakan bahwa perusahaan negara seperti BUMN dan BUMD maupun perusahaan swasta harus mempekerjakan sekuarang kurangnya satu orang penyandang cacat yang memenuhi persyaratan dan kualifikasi pekerjaan yang bersangkutan untuk setiap 100 orang karyawan tanpa diskriminasi dalam pengupahan dan jabatan yang sama. Dalam pasal 28 dalam UU yang sama, menegaskan bahwa pelanggaran terhadap ketentuan pasal 14 diancam dengan pidana kurungan selama-lamanya 6 bulan dan atau denda setingi-tingginya 200 juta. Maka sebenarnya tidak ada alasan bagi penyelenggara jasa lapangan kerja untuk mempersulit penerimaan tenaga kerja penyandang cacat. Ini merupakan peluang bagi penyandang cacat untuk memperoleh haknya.
Dari hasil pengamatan yang penulis lakukan dan dapatkan di Balai Besar Rehabilitasi Vokasional Bina Daksa Cibinong dan Panti Sosial Bina Laras “ Phala Martha ” Sukabumi menunjukkan bahwa para penyandang cacat dilatih keahlian dalam bidang menjahit, elektronik, computer, pengolahan logam, menyanyi, keterampilan tangan seperti membuat keset, hiasan dinding, dan lain-lain. Dari sini sebenarnya kita tahu bahwa ternyata mereka jika dilatih akan bisa mengembangkan kemampuan dirinya, hanya saja mungkin keterbatasan bidang yang diajarkan kepada mereka.
Sebenarnya upaya mempersiapkan penyandang cacat menjadi tenaga kerja terampil dan produktif dan bermental wiraswasta telah banyak dilakukan oelh pemerintah melalui Departemen Sosial dalam upaya mewujudkan kesejahteraan kepada kaum people with disability ini, sebut saja melalui Balai Besar Rehabilitasi Vokasional Bina Daksa Cibinong dan Panti Sosial Bina Laras “ Phala Martha ” Sukabumi ini, paling tidak masih ada upaya bagaiamana menjadikan kaum ini untuk lebih bisa lebih maju. Melalui proses rehabilitasi social dan pelatihan keterampilan, mereka dipersiapkan untuk menjadi tenaga terdidik baik untuk magang kerja maupun berwiraswasta. Permasalahan yang terjadi adalah ketika pasca rehabilitasi dan pelatihan keterampilan, apakah mereka masih bisa diterima di dunia kerja atau tidak dengan kondisinya. Stigma dan diskriminasi seakan-akan masih melekat di masyarakat. Padahal sejatinya, masyarakat dan penyedia lapangan kerja harusnya lebih bijak dalam menyikapi permasalahan penyandang cacat ini. Pengalaman yang telah ditorehkan penyandang cacat yang telah bekerja di beberapa perusahaan ternama dan prestasinya harusnya bisa menjadikan kita terbuka bahwa sebenarnya people with disability ini juga punya potensi sebagaimana orang normal lainnya.
Dilain sisi, banyak aksesibiltas yang terkesan menyulitkan para penyandang cacat untuk memperoleh haknya. Pertama di lingkungan keluarga, ada keluarga yang memberikan kemudahan anggota keluarganya yang mengalami kekurangan itu untuk mengembangkan diri, bersosialisasi, membri motivasi dan sebagainya. Namun, dilain hal juga ada beberapa keluarga yang tidak memberikan kemudahan-kemudahan tersebut. Di masyarakat umumnya masih ada anggapan bahwa penyandang cacat tidak memiliki kemampuan kerja, masih menganggap rendah dan kurang menerima keberadaan para penyandang cacat dengan cara dikucilkan, dianggap lemah dan perlu dikasihani. Stigma dan stereotype inilah yang masih melekat di masyarakat tentang penyandang cacat tersebut.
Sementara kemudahan yang diberikan pemerintah dalam bentuk sarana dan prasarana umum belum maksimal. Hal tersebut bisa kita lihat dari anggaran yang pemerintah yang terkesan stag dan tidak naik setiap tahunnya. Sementara disisi lain jumlah penyandang cacat tercatat pada tahun 2008 adalah sebanyak 299.203 jiwa ( hasil pendataan penyandang masalah kesejahteraan social (PMKS) penyandang cacat berdasarkan klasifikasi ICF tahun 2008 ). Dalam hal ini, tentunya upaya untuk melaksanakan rehabilitasi menjadi tidak maksimal hasilnya. Harusnya anggaran yang ada berusaha mengakomodasi kebutuhan-kebutuhan yang semakin berkembang pesat seiring perkembangan zaman.
Kesimpulan dan Saran
Dari pemaparan penulis di depan, penulis dapat menarik kesimpulan bahwa sebenarnya mempunyai potensi dan kemampuan seperti halnya manusia normal lainnya. Seharusnya tidak ada diskriminasi dan stigma negative yang melekat pada mereka. Peluang kerja yang ada sekarang masih terbatas pada peraturan yang termaktub dalam UU No 4 Tahun 1997, tetapi realisasi dilapangan seakan-akan tidak ada.
Faktor penghambat kesempatan kerja bagi people with disability ini bisa dilihat dari dua factor, yaitu internal dan eksternal. Factor internal yang paling utama adalah keterbatasan kemampuan dan kesiapan kerja mereka terhadap tantangan dunia kerja. Faktor eksternal diantaranya minimnya aksesbilitas yang diperoleh baik dari orang tua, masyarakat serta penyedia lapangan kerja (lahan pekerjaan yang sempit) dan pusat rehabilitasi yang ada masih terkesan membatasi ruang gerak penyandang cacat ini. Stereotip negative terhadap kemampuan kerja penyandang cacat netra belum baik dalam artian masih diragukan. Selain factor tersebut, factor rendahnya kesempatan yang diberikan seperti kesempatan pendidikan, kesempatan untuk beraktualisasi atau mengambangkan potensi diri juga menjadi salah satu pengehambat kesempatan bagi mereka dalam memperoleh kesempatan kerja.
Saran yang dapat penulis sampaikan disini adalah hendaknya sosialisai program tentang siapa penyandang cacat lebih digencarkan ke semua aspek dan level kehidupan. Hal ini untuk mengatasi masalah stigma dan diskriminasi masyarakat terhadap mereka. Harus ada pemahaman yang positif bahwa penyandang cacat juga sama seperti manuasia normal lainnya tanpa ada pembedaan dalam hal apapun.
Kedua, harus ada upaya perlindungan hukum terhadap mereka dalam mengusahakan hak nya. Bukan hanya sebatas peraturan yang sifatnya formalitas, namun dalam pelaksanaanya harus ditegakkan mengingat realisasi dari UU no 4 Tahun 1997 dan PP No. 33/1998 masih jauh dari harapan. Untuk itu perlu adanya advokasi dan sosialisasi semua kalangan agar konseskuen melaksanakan ketentuan UU tersebut. Selain itu, perlu adanya rencana dan program penyuluhan serta kegiatan pendampingan bagi penyandang cacat agar mereka tumbuh kesadaran akan hak dan kewajibannya dalam kehidupan dan penghidupannya.
Daftar Pustaka
Anonim, Masalah Sosial di Indonesia: Kondisi dan Solusi (Jakarta : Pusat Penelitian Permasalahan Kesejahteraan Sosial, Departemen Sosial RI, 2004).
Anomin, Peraturan Perundang-Undangan, Aksesibilitas Penyandang Cacat ( Jakarta : Pusat Penelitian Permasalahan Kesejahteraan Sosial, Departemen Sosial RI, 2005).
Anonim, Expose Data PMKS Penyandang Cacat ( Jakarta : Departemen Sosial RI & Surveyor Indonesia, 2008).
Darmadi, Pemberdayaan Penyandang Cacat (dalam Majalah Gemari Edisi 105/Tahun Gemari X/Oktober 2009).
http://www.idlo.int/bandaacehawarness.htm
Wednesday, December 24, 2008
MENARA KUDUS
Bagi masyarakat Kudus, Menara merupakan sebuah kebanggaan tersendiri. Karena dikenal hingga luar negeri. Selain itu, seni bangunnya adalah seni arsitektur yang sangat monumental yang bernilai arkeologis dan historis tinggi. Dari aspek arkeologis, Menara Kudus merupakan bangunan kuno hasil akulturasi kebudayaan Hindu-Jawa dan Islam. Menara Kudus ini dibangun Sunan Kudus pada tahun 1685 M. Kepastian tanggal pembuiatan Menara Kudus ini terekam dalam candrasengkala “Gapuro rusak ewahing jagad” yang bermakna tahun Jawa 1609 atau 1685 M.
Bentuk konstruksi dan gaya arsitektur Menara Kudus, mempunyai ketinggian sekitar 17 meter dan mirip dengan candi-candi di Jawa Timur era Majapahit – Singosari (misalnya Candi Jago) dan juga menyerupai menara Kulkul di Bali. Dari segi arsitekturny bisa dilihat bahwa bangunan ini menjadi menjadi simbol “Islam Toleran”, di saat Sunan Kudus menyebarluaskan agama Islam di Kudus dengan tetap menghormati pemeluk agama Hindu-Jawa yang dianut masyarakat setempat. Bentuk fisik Menara Kudus adalah tinggi dan ramping yang dibangun dengan bahan batu-bata merah yang disusun dan dipasang bertumpukan tanpa semen perekat.
Bangunan Menara Kudus tidak dapat dipisahkan dengan Masjid Menara Kudus (Masjid Al-Aqsho) dan Makam Sunan Kudus karena secara geografis-fungsional ketiganya merupakan satu kesatuan yang inherent dengan sejarah berdirinya Kota Kudus.
Obyek Wisata Ziarah ini setiap hari ramai dikunjungi peziarah dari berbagai daerah, terutama pada moment Upacara “Buka Luwur” (Penggantian kain kelambu penutup makam Sunan Kudus) yang dilaksanakan setiap tanggal 10 Muharrom/Syuro. Peristiwa menarik dalam Upacara Buka Luwur adalah ketika para pengunjung/peziarah berupaya memperoleh nasi bungkus selamatan dan kain luwur bekas penutup makam yang konon dipercaya dapat memberikan keberuntungan bagi yang memperolehnya. Selain “Buka Luwur”, kawasan Menara Kudus juga menjadi pusat keramaian pada saat “Dhandhangan” yaitu tradisi menyambut datangnya bulan Romadlon / bulan Puasa.
Di kawasan Menara Kudus, para pengunjung dapat menikmati makanan khas Kudus, yaitu Soto Kudus dan Jenang Kudus. Sedangkan cinderamata khas Kudus adalah Kain Bordir Kudus (busana muslimah, kerudung, kebaya, dll.).
Kebudayaan dan Proses Pembelajaran kebudayaan
Dari definisi yang dikemukakan oleh Tylor dapat kita ambil kesimpulan sebagai berikut :
1. Kebudayaan terkait dengan sistem pengetahuan, kepercayaan, kesenian, hukum dan moral. Hal ini menunjukan bahwa kebudayaan sangat erat kaitannya dengan sebuah sistem abstrak yang bersumber dari pemikiran manusia. Hal inilah yang membedakan manusia dengan makhluk lainnya. Kebudayaan terbentuk dari sistem pemikiran kritis manusia sehingga sangat berbeda dengan insting yang dimiliki oleh hewan.
2. Kebudayaan yang dimiliki oleh masyarakat terbentuk karena adanya sistem nilai yang dimiliki oleh anggotanya. Kebudayaan tersusun oleh kebiasaan manusia sebagai anggota masyarakat.
A. Tiga wujud kebudayaan
J.J. Honingmann memberikan sebuah kerangka konsep wujud kebudayaan. Menurutnya kebudayaan memiliki tiga wujud yang saling terkait erat. Ketiga wujud kebudayaan itu adalah :
1. Wujud kebudayaan sebagai suatu kompleks dari ide-ide, gagasan, nilai-nilai, norma-norma, peraturan dan sebagainya
2. Wujud kedua kebudayaan menurut Honingmann adalah sebagai suatu kompleks aktivitas serta tindakan berpola dari manusia dalam bermasyarakat
3. Wujud ketiga adalah artefak. Kebudayaan sebagai benda-benda hasil karya manusia.
Wujud tertinggi dari kebudayaan adalah wujud kebudayaan sebagai suatu kompleks ide dan gagasan. Bersifat abstrak, tidak dapat digambarkan namun dapat dirasakan dalam kehidupan sehari-hari. Berkembang dalam setiap kepala manusia sebagai sebuah hasil pemikiran manusia. Ide dan gagasan tersebut hidup dan senantiasa memberikan sprit dan jiwa kepada masyarakat yang bersangkutan. Gagasan tersebut senantiasa berhubungan erat dengan karakteristik masyarakat sebagai sebuah sistem budaya (social cultural)
Wujud kebudayaan yang kedua adalah suatu sistem aktivitas berpola dari manusia yang meliputi interaksi dan hubungan yang terjalin antarmanusia. Sistem aktivitas ini bersifat kongkret karena dapat kita lihat dan terjadi disekeliling kita. Karena aktivitas ini telah dilakukan dalam jangka waktu yang lama, maka menjadi sebuah aktivitas berpola yang kemudian dijadikan patokan dalam berperilaku. Sebagai contoh, aktivitas masyarakat pesisir yang sebagia besar bermata pencaharian sebagai nelayan akan memiliki pola-pola khusus yang berbeda dengan pola aktivitas masyarakat yang hidup di lereng gunung yang umumnya bermata pencaharian sebagai petani.
Wujud ketiga dari kebudayaan adalah keseluruhan benda hasil karya manusia (artefak). Tidak hanya benda peninggalan sejarah peradaban manusia masa lampau saja, namun lebih dari itu makna artefak dalam hal ini bersifat luas. Menyangkut keseluruhan benda yang pernah dibuat dan dikembangkan oleh manusia. Bersifat sangat nyata dan paling kongkret karena dapat dilihat, diraba dan diabadikan.
B. Isi Pokok Kebudayaan Universal
Seperti yang telah penulis bahas dalam subbab sebelumnya, bahwa salah satu wujud kebudayaan adalah sebuah kompleks aktivitas terpola dari manusia. Setiap kelompok masyarakat memiliki pola-pola tersendiri yang berbeda dengan kelompok masyarakat lainnya. Kelompok masyarakat pesisir memiliki corak aktivitas yang berbeda dengan masyarakat yang bertani. Namun dalam setiap kelompok masyarakat, etnik, maupun bangsa di dunia setidaknya ada persamaan unsur-unsur kebudayaan yang dapat ditemukan. Unsur pokok kebudayaan yang menjadi inti dari setiap kelompok masyarakat, etnik dan bangsa. Unsur-unsur kebudayaan tersebut adalah
1. Sistem bahasa
Sistem bahasa dalam hal ini menyangkut bentuk komunikasi verbal maupun nonverbal. Setiap bangsa di dunia pasti memiliki bahasa tersendiri untuk dapat berkomunikasi antaranggotanya. Sistem bahasa tersebut digunakan untuk menyampaikan pesan, ide serta gagasan yang berguna untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.
2. Sistem pegetahuan
Sistem pengetahuan menyangkut pemahaman dan pola pikir dalam mengolah lingkungannya.
3. Sistem Organisasi sosial
Terkait dengan stratifikasi dan peran yang dimainkan oleh setiap anggota suku bangsa yang bersangkutan, sehingga dapat kita temukan adanya pembagian tugas dan peran seseorang sebagai ketua atau pemimpin dalam setiap suku bangsa.
4. Sistem peralatan hidup dan teknologi
Terkait dengan hasil karya manusia yang digunakan untuk mengolah lingkungannya dan mempertahankan hidupnya
5. Sistem mata pencaharian hidup
Sebuah sistem peenuhan kebutuhan manusia untuk tetap bertahan hidup dan mengembankan kebudayaannya
6. Sistem kepercayaan
Sistem religi atau kepercayaan adalah sebuah sistem dimana setiap suku bangsa memiliki satu pandangan terhadap kekuatan lain selain diri mereka sendiri. Kekuatan yang lebih besar yang memberikan kehidupan di dunia ini
7. Sistem kesenian
Sistem kesenian sangat terkait dengan ekspresi manusia. Dalam kehidupannya manusia senantiasa mengekspresikan diri melalui berbagai kegiatan untuk memenuhi kepuasan batinnya
Ketujuh unsur universal kebudayaan diatas dimiliki oleh seluruh suku bangsa di dunia. Hal inilah yang memberikan sebuah persamaan inti dari kebudayaan yang meliputi bahasa, kesenian, mata pencaharian, pengetahuan, teknologi, kepercayaan dan organisasi sosial. Sebagai contoh yang mengilustrasikan unsur universal kebudayaan adalah unsur kebudayaan mata pencaharian misalnya, dapat diperinci menjadi : perburuan, pertanian, peternakan. Wujud fisik dari sistem mata pencaharian tersebut dapat berupa perkakas maupun peralatan yang merupakan reprsentasi dari sistem teknologi dan pengetahuan. Dalam sistem kepercayaan, kebudayaan cenderung bisa dilihat dari aspek perilaku manusia itu sendiri. Dalm konteks ini masyarakat desa lebih bisa merepresentasikan sistem kepercayaannya, sebagai contoh tradisi lebaran. Dalam masyarakat desa banyak aktivitas-aktivas yang dilakukan selama lebaran berlangsung antara lain, dengan saling berkunjung ke rumah saudara dekat atau ke rumah orang-orang yang serukun tetangga maupun rukun warga. Trasdisi ini dilakukan idak hanya pada hari pertama lebaran saja, melainkan beberapa hari saja. Kebiasaan ini sudah menjadi tradisi yang sifatnya turun-temurun dan membudaya. Apabila ada warga yang tidak melakukannya maka akan mendapat perlakuan sosial yang berbeda dari warga lain karena dianggap tidak menjalankan budayanya.
C. Proses Pembelajaran kebudayaan
1. Proses Internalisasi
Proses internalisasi seperti yang diungkapkan oleh Koentjaraningrat dalam bukunya yang berjudul Pengantar Ilmu Antropologi diartikan sebagai Proses belajar menanamkan dalam kepribadiannya segala perasaan, hasrat, nafsu serta emosi yang diperlukan sepanjang hidup manusia.
Pada dasarnya segala macam bakat, emosi, perasaan telah tertanam dalam gen manusia. Sebagai makhluk yang memiliki otoritas atas dirinya sendiri, manusia dapat mengembangkan berbagai bakat dan perasaan yang dimilkinya. Namun untuk mengembangkan segenap bakat dan potensi diperlukan berbagai stimuli yang berada di sekitarnya. Ketika seorang manusia terlahir ke dunia, lingkungan awal yang akan ditemuinya adalah lingkungan keluarga, lebih spesifik lagi adalah ayah dan ibu. Pada awalnya, seorang bayi hanya mengerti dua hal dalam hidup ini, kepuasan dan ketidak puasan. Namun seiring dengan bejalannya waktu, bertambah pula pengalaman mengenai bermacam-macam perasaan baru yang menjadi modal dasar dalam pembentukan karakter dan kepribadian manusia. Proses pengenalan berbagai macam perasaan yang diperoleh melalui jalan belajar inilah yang dimaksud dengan proses internalisasi. Maka proses internalisasi yang dimaksud adalah proses panjang sejak seorang individu dilahirkan sampai ia hampir meninggal, dimana ia belajar menanamkan dalam kepribadiannya segala hasrat, perasaan, nafsu, serta emosi yang diperlukan sepanjang hidupnya.
2. Proses Sosialisasi
Berger seorang ahli sosiologi mendefinisikan sosialisasi sebagai “a process by which a child learns to be a participant member of society” proses melalui mana seorang anak belajar menjadi seorang anggota yang berpartisipasi dalam masyarakat. Dari penjelasan Berger dapat kita analisis bahwa proses sosialisasi lebih menekankan pada bagaimana cara kita untuk menyesuaikan diri dengan nilai-nilai dan norma kebudayaan yang berlaku di suatu lingkungan masyarakat. Proses ini bersangkutan dengan proses belajar kebudayaan dalam hubungan dengan sistem sosial. Dalam proses itu seorang individu dari masa anak-anak hingga masa tuanya belajar pola-pola tindakan dalam interaksi dengan segala macam individu di sekililingnya yag menduduki beraneka macam peranan sosial yang mungkin ada dalam kehidupan sehari-hari. Bentuk penyesuaian diri tersebut yang akan menuntun seorang manusia untuk dapat bergabung dalam kelompok masyarakat. Dalam proses sosialisasi ada satu hubungan kuat antara sebuah sistem sosial dengan individu itu sendiri. Untuk memasuki sistem sosial yang rumit sorang individu harus dapat mempelajari esensi dari sistem sosial lingkungannya.
Sosialisasi ini mempunyai arti yang sangat penting untuk pembelajaran kebudayaan. Hanya lewat proses inilah norma-norma sosial yang merupakan wujud kebudayaan idea yang dimiliki oleh suatu masyarakat diwarisakan ke generasi selanjutnya. Selain itu dengan adanya proses sosialisasi ini sangat membantu individu dalam penerapan langsung kebudayaannya sendiri, bukan lagi tahu tetapi menerapkannya dalam perilaku nyata.
Ada beberapa agen sosialisasi yang mendukung antara lain adalah keluarga, kelompok bermain, sekolah, lingkungan kerja, dan media massa. Semua agen sosialisasi ini mempunyai peranan penting dan saling terkait satu sama lain. Namun, yang paling mendasar adalah agen sosialisasi keluarga, karena merupakan agen utama dan pertama yang melaksanakan sosialisasi bagi anak-anaknya, mengenalkan budaya kepada anak-anaknya. Di agen sosialisasi inilah merupakan awal mula sesorang mengenal dan belajar budanyanya.
3. Proses Enkulturasi
Proses enkulturasi atau “pembudayaan” dapat diartikan sebagai suatu proses dimana seorang individu menyesuaikan alam pikiran serta sikapnya dengan adat-adat, sistem norma dan peraturan-peraturan yang hidup dan berkembang dalam kebudayaannya. Dalam proses ini, seorang individu mulai membiasakan nilai-nilai yang telah dikenalnya sebagai suatu kebiasaan pola aktivitas. Berawal dari proses enkulturasi, kebiasaan-kebiasaan yang acap kali dilakukan oleh anggota masyarakat lama kelamaan akan menjadi sebuah kebudayaan. Proses pembisaan atau pembudayaan ini berawal dari perilaku yang dilakukan secara terus menerus dimana dengan begitu sebuah perilaku tersebut akan membentuk pola dan akhirnya menjadi sebuah kebudayaan bersama. Sebagai contoh adalah pembudayaan cara makan yang telah diterapkan dalam lingkungan pondok pesantren. Pertama kali yang terjadi adalah proses internalisasi, terus sosialisasi tentang bagai mana cara makan yang baik, dan terakhir adalah pembudayaan cara makan tersebut secara nyata dalam kehidupan sehari-hari, karena dilakukan secara terus menerus, maka akan membentuk sebuah pola perilaku dan menjadi sebuah kebudayaan milik bersama. Sorang individu dalam hidupnya juga sering meniru dan membudayakan berbagai macam tindakan setelah perasaan dan nilai budaya yang memberi motivasi akan tindakan meniru itu telah diinternalisasi dalam kepribadiannya. Hal ini jelas sekali bahwa semua kebudayaan yang sudah ia kenal, dan sudah diinternalisasikan akan dia wujudkan dan wujudkan dalam tindakan nyata.
PEMBELAJARAN DAN KONDISIONING
Classical Conditioning atau pengkondisian klasik disebutkan bahwa pada tingkah laku responden bisa dilihat bahwa stimulus yang sama akan menimbulkan respons yang sama pada semua organisme dan spesies yang sama, serta tingkah laku responden biasanya menyertakan refleks-refleks yang melibatkan sistem saraf otonom. Bagaimanapun, tingkah laku responden yang tarafnya lebih tinggi dimiliki oleh individu melalui belajar dan bisa dikondisikan. Orang pertama yang menemukan bahwa tingkah laku responden itu bisa dikondisikan tidak lain adalah Ivan Pavlov, ahli fisiologi Rusia. Percobaannya menggunakan seekor anjing sebagai subjeknya.
Mula-mula oleh Pavlov anjing percobaan itu diikat dan dioperasi pada bagian rahangnya sedemikian rupa untuk dipasangi alat pengukur, sehingga nantinya air liur yang keluar bisa ditampung dan diukur banyaknya. Selanjutnya anjing percobaan ini ditaruh pada suatu tempat yang nantinya akan mengeluarkan makanan. Makanan ini akan keluar kehadapan anjing percobaan setiap Pavlov menekan tombol. Kemudian, setiap menghadapi makanan, anjing percobaan akan mengeluarkan air liurnya yang bisa diketahui dengan alat pengukur. Keluarnya air liur dari mulut anjing setelah melihat makanan ini disebut respons tak berkondisi (unconditionied response), sedangkan makanan ini sendiri disebut stimulus tak berkondisi (unconditioned stimulus).
Pada tahap percobaan berikutnya Pavlov mengeluarkan makanan dengan terlebih dahulu membunyikan bel. Jadi, setiap bel dibunyikan anjing akan menerima makanan, dan dari mulutnya akan keluar air liur. Setelah pemberian makanan dengan didahului bunyi bel ini akan dilakukan berkali-kali, Pavlov menemukan bahwa anjing percobaannya telah mengeluarkan air liur begitu mendengar bunyi bel. Kemudian pada tahap terakhir, Pavlov menghentikan pemberian makanan, dan anjing percobaannya hanya menerima bunyi bel. Dan ternyata, meski hanya menerima bunyi bel tanpa menerima makanan, anjing percobaan tetap mengeluarkan air liurnya. Oleh Pavlov air liur yang keluar dari mulut anjing percobaan karena menerima bunyi bel ini disebut respons berkondisi (conditioned response), sedangkan bunyi belnya disebut stimulus berkondisi (conditioned stimulus). Bagaimanapun pemberian bunyi bel saja tanpa makanan itu lambat laun menyebabkan anjing percobaan menghentikan responsnya. Keadaan ini disebut penghapusan respons (extinction). Dari percobaan ini Pavlov menyimpulkan bahwa respons atau tingkah laku organisme bisa dikondisikan, dan organisme bisa memiliki respons tertentu (tingkah laku responden) melalui belajar atau latihan.
Percobaan lain yang terkenal mengenai pengkondisian klasik adalah percobaan yang dilakukan oleh Watson dan Rayner pada tahun 1920. ia melukiskan fenomena pengondisian klasik pada manusia. Watson dan koleganya mengondisikan respons ketakutan pada seorang anak berusia 11 bulan yang bernama Albert. Pada awal percobaannya, Watson telah memastikan bahwa Albert tidak menunjukkan rasa takut terhadap sejumlah stimulus tertentu, sperti kapas, topeng, dan monyet. Watson kemudian menghadirkan seekor tikus putih (stimulus berkondisi) bersama-sama dengan suasana mengejutkan (stimulus tak berkondisi) yang dihasilkan melalui pemukulan palu pada sebatang besi tepat dibelakang Albert. Prosedur ini dilakukannya berturut-turut sebanyak tujuh kali, dan Albert akan menangis setiap menghadapinya. Pada tahap berikutnya, tikus putih itu dihadirkan tanpa disertai suara yang mengejutkan. Dan ternyata dengan hanya melihat tikus, Albert menangis ketakutan (respon berkondisi). Pada tahap-tahap selanjutnya Albert menggeneralisasikan respons ketakutan terhadap stimulus-stimulus lain yang tadinya tidak ia takuti meliputi anjing, mantel bulu, topeng, dan bahkan rambut peneliti. Percobaan yang nampaknya kejam ini telah menunjukkan, bagaiman respons-respons ketakutan serupa diperoleh melalui pengkondisian klasik.
2. Pengkondisian Operan
Operant Conditioning merupakan proses mempelajari sesuatu yang menyebabkan tercapainya tujuan tertentu, penelitian operant conditioning dimulai pada abad 19 dengan sejumlah eksperimen oleh E.I. Thorndike. Namun penelitian pengkondisian Skinner lebih sederhana dan lebih diterima secara luas.
Teori Skinner menyatakan bahwa setiap kali memperoleh stimulus maka seseorang akan memberikan respon berdasarkan hubungan Stimulus Respon (S-R). Skinner membedakan adanya dua macam respon, yaitu:
a. Respondent response (reflexive response), ayitu respons yang ditimbulkan oleh perangsang-perangsang tertentu, dan respon-respon tersebut secara relatif tetap. Singkatnya tingkah laku responden adalah suatu respons yang spesifik yang ditimbulkan oleh stimulus yang dikenal, dan stimulus itu selalu mendahului respons. Misalnya, menyempitkan pupil mata untuk mengurangi stimulus cahaya, makanan yang menimbulkan air liur, dan menggigil karena kedinginan. Kesemuanya itu terjadi dengan sendirinya atau spontan. Dan perangsang-perangsang tersebut mendahului respon yang ditimbulkan.
b. Operan response (Instrumental response), yaitu respon yang timbul dan cerkembangnya diikuti oleh perangsang tertentu. Dan perangsang-perangsang tersebut memperkuat respon yang telah dilakukan organisme. Perangsang tersebut mengikuti sesuatu tingkah laku tertentu yang telah dilakukan. Respon yang diberikan dapat sesuai (benar) atau tidak sesuai (salah) dengan apa yang diharapkan. Respon yang benar perlu diberi penguatan (reinforcement) agar orang terdorong untuk ingin melakukannya kembali.
Perbedaan antara Classical Conditioning dengan Operant Conditioning terletak pada hal-hal berikut:
1. Dalam Classical Conditioning respon dikontrol oleh pihak luar, pihak inilah yang menentukan kapan dan apa yang akan diberikan sebagai stimulus. Sebaliknya operant conditioning mengatakan bahwa pihak luar yang harus menanti adanya respon yang diharapkan benar. Jika respon semacam ini terlihat maka dapat diberikan penguatan. Disini dibicarakan tentang tingkah laku operan atau operan behavior.
2. Classical Conditioning pada umumnya memusatkan tingkah laku terjadi apabila ada stimuli khusus dan tidak peduli apakah perilaku manusia atau hewan memilki konsekuensi tertentu atau tidak. Sedangkan dalam Operant Conditioning tingkah laku hanya menerangkan untuk sebagian kecil dari semua kegiatan. Operant Conditioning memusatkan tingkah laku dengan konsekuen, yaitu konsekuen yang menyenangkan dan tidak menyenangkan dalam mengubah tingkah laku. Jadi konsekuen yang menyenangkan akan mengubah tingkah laku. Sedangkan konsekuen yang tidak menyenangkan akan memperlemah tingkah laku.
3. Classical Conditioning mengatakan bahwa stimulus yang tidak terkontrol mempunyai hubungan dengan penguatan. Stimulus itu sendirilah yang menyebabkan adanya pengulangan tingkah laku dan berfungsi sebagai reinforcement. Di dalam Operant Conditioning responlah yang merupakan sumber reinforcement. Adanya respon menyebabkan seseorang memperoleh penguatan. Dan hal ini menyebabkan respon tersebut cenderung untuk diulang-ulang. Perilaku akan semakin sering atau semakin jarang muncul tergantung pada konsekuensi yang mengikutinya.
Operant merupakan tingkah laku yang ditimbulkan oleh organisme itu sendiri. Operant belum tentu didahului oleh stimulus dari luar. Operan conditioning dikatakan telah terbentuk bila dalam frekuensi terjadi tingkah laku operan yang bertambah atau bila timbul tingkah laku operan yang tidak tampak sebelumnya.
Percobaan Skinner berikut dengan menggunakan tikus akan lebih menjelaskan. Dalam eksperimen Skinner, seekor tikus lapar ditempatkan dalam kotak disebut "kotak Skinner". Di dalam kotak tidak terdapat apa-apa kecuali sebuah tuas yang menonjol dengan piring makanan di bawahnya. Tikus yang berada sendirian di dalam kotak bergerak kesana kemari sambil mengeksplorasi. Kadang-kadang ia mengamati tuas dan menekannya. Peneliti memasang wadah di luar kotak. Tiap kali tikus menekan tuas, pelet makanan kecil masuk kepiring. Tikus memakan pelet makanan itu dan segera menekan tuas lagi. Makanan memperkuat (reinforcer) penekan tuas, dan kecepatan penekanan tuas meningkat secara drastis. Jika wadah makanan dilepas sehingga tindakan menekan tuas tidak lagi menghasilkan pelet makanan, kecepatan menekan tuas akan menurun. Dengan demikian respon operant conditioning mengalami pemadaman jika tidak terdapat penguatan.
Jadi, operant conditioning meningkatkan kemungkinan respon dengan mengikuti perilaku dengan reinforcer. Tingkat respon organisme sangat berguna untuk mengukur kekuatan operan, semakin sering respon terjadi selama interval waktu tertentu, semakin besar kekuatannya. Operan conditioning banyak menjelaskan kepada kita terkait cara membesarkan anak. Penerapan pengkondisian operan dalam membesarkan anak berfokus pada hubungan antara suatu respon
dengan penguatnya.
Saturday, December 6, 2008
Kekuatan ESQ
Ada "sepuluh kebaikan" yang digabungkan untuk membentuk suatu kecerdasan emosional spiritual, yaitu:
1. Membuat "Gambar Besar"
Kejadian anda adalah suatu keajaiban dan anda akan belajar beberapa faktor yang luar biasa tentang diri anda dan hubungannya dengan alam. Setiap kita punya pengaruh terhadap sejarah.
2. Mengungkap Nilai Anda
Perilaku anda ditentukan oleh nilai-nilai dan prinsip-prinsip, yang memiliki pengaruh besar terhadap kemungkinan sukses anda dalam hidup. Mengungkapkan pembentukan dan pengembangan prinsip-prinsip dan akan mengenalkan pada pemikiran Nabi Muhammad SAW, Budha, dan lain sebagainya.
3. Visi dan Tujuan Hidup Anda
Mengungkapkan kekuatan visi dan kemampuan anda untuk merencanakan, yang dapat mentransfer hidup anda menjadi sukses. Dengan tujuan yang jelas, hidup anda akan mencapai arti dan arah, sehingga membuat anda menjadi lebih sehat, kuat dan percaya diri.
4. Kasih Sayang: Memahami Diri Anda dan Orang Lain
Sesungguhnya diri anda mengagumkan. Dengan latihan dan permainan khusus yang berinteraksi dengan orang lain akan mendemonstrasikan pada anda betapa kreatif dan uniknya anda, sehingga memunculkan kualitas spiritual untuk mengembangkan kasih sayang dan pengertian.
5. Memberi dan Menerima! Amal dan Syukur
Kebaikan kembar, yaitu Amal dan Syukur akan memperbesar kecerdasan spiritual anda beberapa kali lipat. Jiwa anda belajar bernafas kedalam (syukur) dan menghembuskan nafas keluar (amal).
6. Kekuatan dari Tertawa
Tertawa adalah kualitas vital dari kecerdasan spiritual dan memberi banyak manfaat termasuk mengurangi level stress, kehidupan yang ceria dan bahagia, sehingga hidup lebih lama dan sehat.
7. Menuju Taman Bermain Anak
Semakin cerdas spiritual anda, akan menunjukkan kepolosan diri anda seperti anak-anak. Seperti layaknya karakter khas anak-anak, yaitu keceriaan, kegembiraan, spontanitas, antusias dan semangat berpetualang akan meningkat.
8. Kekuatan ritual
Kekuatan ritual yang dipelajari dan dilaksanakan serta menciptakan ritual sendiri, akan menimbulkan efek besar terhadap setiap yang ada pada otak, tubuh dan jiwa anda.
9. Damai
Mempelajari teknik mengurangi dan menghilangkan stress dan mengolah lingkungan internal yang tenang dan tenteram, sehingga akan terbebas dari gangguan mental, kecemasan dan stress.
10. Yang Anda Butuhkan adalah Cinta
Memperkenalkan kekuatan cinta. Dengan membaca kisah petualangan, godaan dan kesengsaraan, kematian dan harapan, memberikan teknik dan pendekatan untuk meringankan penderitaan, rasa sakit dan putus asa.
Sifat-sifat Pemimpin Luar Biasa
1. Integritas.
Integritas adalah melakukan sesuatu sesuai dengan apa yang anda katakan akan anda lakukan. Integritas membuat anda dapat dipercaya. Integritas membuat orang lain mengandalkan anda. Integritas adalah penepatan janji-janji anda.Satu hal yang membuat sebagian besar orang enggan mengikuti anda adalah bila mereka tak sepenuhnya merasa yakin bahwa anda akan membawa mereka menuju ke tujuan yang anda janjikan. Apakah anda dikenal sebagai seseorang yang mempunyai integritas? Bila ya, maka anda layak menjadi seorang pemimpin yang luar biasa.
2 Optimisme.
Takkan ada orang yang mau mengikuti anda bila anda memandang suram masa depan. Mereka hanya mau mengikuti seseorang yang bisa melihat masa depan dan memberitahukan pada mereka bahwa di depan sana terbentang tempat yang lebih baik, dan mereka dapat mencapai tempat itu. Apakah anda melihat gelas itu separuh kosong? Bila ya, anda adalah seorang pesimis. Apakah anda melihat gelas itu separuh berisi? Bila ya, anda adalah seorang optimis.
Apakah anda melihatnya sebagai segelas penuh; yaitu separuh berisi air dan separuh lagi berisi udara? Maka anda adalah seorang yang super optimis. Apakah anda dikenal sebagai seorang yang optimis? Bila ya, anda layak menjadi seorang pemimpin yang luar biasa.
3. Menyukai perubahan.
Pemimpin adalah mereka yang melihat adanya kebutuhan akan perubahan, bahkan mereka bersedia untuk memicu perubahan itu. Sedangkan pengikut lebih suka untuk tinggal di tempat mereka sendiri. Pemimpin melihat adanya kebaikan di balik perubahan dan mengkomunikasikanny a dengan para pengikut mereka. Jika anda tidak berubah, anda takkan tumbuh. Apakah anda anda dikenal sebagai seseorang yang memicu perubahan? Jika ya, anda layak menjadi seorang pemimpin yang luar biasa.
4. Berani menghadapi resiko.
Kapan pun kita mencoba sesuatu yang baru, kita mengambil resiko. Keberanian untuk mengambil resiko adalah bagian dari pertumbuhan yang teramat penting.Kebanyak orang menghindari resiko. Karena itu, mereka bukan pemimpin. Para pemimpin menghitung resiko dan keuntungan yang ada di balik resiko. Mereka mengkomunikasikanny a pada pengikut mereka dan melangkah pada hari esok yang lebih baik. Apakah anda dikenal sebagai seorang yang berani mengambil resiko? Jika ya, anda layak menjadi seorang pemimpin yang luar biasa.
5. Ulet.
Kecenderungan dari pengikut adalah mereka menyerah saat sesuatunya menjadi sulit. Ketika mereka mencoba untuk yang ke dua atau ke tiga kalinya dan gagal, mereka lalu mencanangkan motto, "Jika anda gagal di langkah pertama, sudahlah menyerahlah dan lakukan sesuatu yang lain." Jelas saja mereka melakukan itu, karena mereka bukan pemimpin. Para pemimpin itu tahu apa yang ada di balik tembok batu, dan mereka akan selalu berusaha menggapainya. Lalu mereka mengajak orang lain untuk terus berusaha. Apakah anda dikenal sebagai seseorang yang ulet, tangguh, dan berdaya tahan tinggi? Jika ya, anda layak menjadi seorang pemimpin yang luar biasa.
6. Katalistis.
Seorang pemimpin adalah seseorang yang secara luar biasa mampu menggerakkan orang lain untuk melangkah. Mereka bisa mengajak orang lain keluar dari zone kenyamanan dan bergerak menuju tujuan mereka. Mereka mampu membangkitkan gairah, antusiasme, dan tindakan dari para pengikut. Apakah anda dikenal sebagai seseorang yang mampu menggerakkan orang lain? Jika ya, anda layak menjadi seorang pemimpin yang luar biasa.
7. Berdedikasi/ komit.
Para pengikut menginginkan seseorang yang lebih mencurahkan perhatian dan komit ketimbang diri mereka sendiri. Pengikut akan mengikuti pemimpin yang senantiasa bekerja dan berdedikasi karena mereka melihat betapa pentingnya pencapaian tugas-tugas dan tujuan. Apakah anda dikenal sebagai seseorang yang komit dan senantiasa mencurahkan perhatian anda pada tujuan? Jika ya, anda layak menjadi seorang pemimpin yang luar biasa.
Sumber : Character Traits of Extraordinary Leaders
